ADALAH SHAHABAT; SEBUAH KRITIK DARI DOKTOR AL AZHAR
'Adalah Sahabat, Tanggapan atas Artikel Jalaluddin Rakhmat: Sahabat dalam Timbangan Al-Qur`an Abdul Hayyie al Kattani Pendahuluan Di Facebook, Dr. Jalaluddin Rakhmat mengundang saya untuk mengomentari tulisannya, sebagai berikut: "posts another arti...cle about "Sahabat dalam Timbangan Al-Quran" and invite people who sacralize sahabat to comment, including Abdul Hayyi alKattani and others." Membaca kalimat di atas, saya tertegun sejenak: apakah konsep tentang 'Adalah Sahabat bermakna mensakralkan mereka? Dan menganggap mereka manusia-manusia suci yang tidak mungkin melakukan kesalahan? Atau memuja mereka seperti sesembahan? Salah Paham Tentang Konsep 'Adalah Sahabat Di sini, saya melihat ada kesalah pahaman tentang konsep 'adalah para sahabat. Sebenarnya konsep "'adalah sahabat" sederhana saja. Yaitu menilai diri para sahabat Nabi saw. sebagai jalur penyampai yang bisa dipercayai bagi Al Qur`an, hadits-hadits Nabi saw., serta seluk beluk kehidupan Nabi saw. selama beliau hidup, bagi generasi berikutnya. Hal tersebut tidak berarti memberikan penilaian mereka sebagai sosok yang maksum yang tak mungkin berbuat salah, tidak mungkin lupa, tidak mungkin berbuat dosa, atau melakukan suatu kemaksiatan. Mereka bisa saja melakukan semua itu. Karena sifat maksum atau terhindar dari dosa hanya bagi Nabi saw. saja. Secara logika, ini sangat diterima. Mengapa? Karena di mana pun di dunia ini, ketika orang ingin mengetahui sejarah dan catatan-catatan tentang kejadian sebelum kelahirannya, pasti memerlukan info dari orang yang hidup sebelumnya. Kita bisa saja lebih berpendidikan dari orang tua kita. Tapi kejadian-kejadian di tengah keluarga kita, sebelum kita lahir, atau ketika kita masih balita, pastilah mereka yang tahu. Sepintar dan sesuci apa pun kita melihat diri kita, tidak mungkin kita lebih tahu dari orang tua kita tentang semua kejadian sebelum kita lahir. Di sini, keinginan kita untuk mengetahui sejarah otentik keluarga kita atau masa-masa balita kita, harus meletakkan orang tua kita sebagai sumber informasi yang terpercaya. Kecuali jika mereka terbukti senang berdusta. Karena jika tidak, kemana lagi kita mesti mencari informasi tersebut? Membatasi sumber informasi, membuat kita menghasilkan gambaran yang tidak otentik terhadap objek yang ingin kita ketahui. Demikian juga dengan keinginan kita untuk mengetahui riwayat otentik Al Qur`an dan sunnah-sunnah Nabi saw. Melalui siapa kita mengetahui semua itu? Tentu jawabnya melalui para sahabat, isteri-isteri beliau dan anak-anak serta menantu beliau yang pernah mengalami hidup bersama beliau atau mendengar suatu riwayat dari beliau. Di sini kita mesti meletakkan para sahabat sebagai sumber informasi atau riwayat otentik dari Nabi saw. Kecuali jika orang tersebut terbukti pernah berdusta terhadap Nabi saw. Atau Nabi saw. sudah memberikan kata pasti bahwa si A adalah sosok yang tidak bisa dipercayai/ munafik. Apakah ada alternatif selain itu untuk mengetahui riwayat otentik dari Nabi saw.? Orang bisa mengatakan: "Ada, yaitu lewat anak dan menantu serta keturunannya. Yaitu anak beliau, Fathimah r.a. dan menantu beliau, Ali bin Abi Thalib serta kedua anak mereka, Hasan dan Husein. Karena merekalah Ahli Bait yang masuk dalam hadits Kisaa`". Tapi nyatanya untuk mengetahui keutamaan/fadhail diri mereka saja kita harus mengandalkan riwayat-riwayat dari para sahabat. Bayangkan jika kita mencampakkan para sahabat atau isteri Rasulullah saw. sebagai sumber riwayat dari Nabi saw., dari mana lagi kita mengetahui keutamaan atau fadhaail Ali bin Abi Thalib r.a. dan keluarganya yang disampaikan langsung oleh Rasulullah saw.? Bukankah hadits Kisaa` yang diagung-agungkan sebagai keutamaan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya itu diriwayatkan oleh Aisyah r.a. isteri Nabi saw.? Orang bisa meneliti, kitab-kitab ulama Imamiyah Ja'fariyah yang mengklaim hanya mengandalkan riwayat dari Ahli Bait, nyatanya mereka hampir tidak memiliki riwayat-riwayat yang bersambung dengan sanad sahih hingga Rasulullah saw. melalui jalur Ahli Bait. Apakah seperti itu otentik? Kalau orang menisbahkan riwayat Ahlul Bait kepada Ja'far Shadiq, namun hingga saat ini kita tidak pernah tahu Ja'far Shadiq mempunyai kumpulan hadits atau karya tulis yang bisa dijadikan rujukan. Jadi dari mana kita tahu ajaran Nabi saw. yang otentik melalui Ahlul Bait? Dan Al Qur`an yang sampai kepada kita saat ini juga tidak diriwayatkan melalui Ahli Bait. Tapi melalui jalur periwayatan para sahabat. Bagaimana jadinya jika kita menolak para sahabat sebagai jalur periwayatan Al Qur`an dan hadits-hadits Nabi saw.? Dari mana kita mengetahui teks dan bacaan Al Qur`an yang benar? Oleh karena itu, tidak aneh jika para imam dari kalangan keluarga Ali bin Abi Thalib r.a. mengambil riwayat-riwayat sunnah dari kalangan sahabat serta berdalil dengan perbuatan mereka. Seperti diriwayatkan dalam salah satu dari empat kitab terpenting dalam Imamiyah Ja'fariyah, yaitu kitab Man La Yahdhuruhul Faqih sebagai berikut:
ูุงู ุงูุดูุฎ ุงูุตุฏูู 4242: ูุฑูู ุนุจุฏ ุงููู ุจู ู
ูู
ูู ุนู ุฃุจู ุนุจุฏ ุงููู ، ุนู ุฃุจูู ุนูููู
ุง ุงูุตูุงู
ูุงู : ":ุงู ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุขูู ุจุชุจูู ูุนุจูู ุงูู
ุงุก ، ููุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุขูู : ุงุดุฑุจูุง ูู ุฃูุฏููู
ูุฅููุง ู
ู ุฎูุฑ ุขููุชูู
" . ( ู
ู ูุง ูุญุถุฑู ุงููููู ุฌ 3 ุต 353)
Syekh Shaduq berkata: Abdullah bin Maimun meriwayatkan dari Abi Abdillah (Ja'far Shadiq) dari ayahnya a.s. ia berkata: "Para sahabat Rasulullah saw. saat di Tabuk minum dengan secara langsung ke tempat air. Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Minumlah dengan tapak tangan kalian, karena ia adalah gelas yang paling baik bagi kalian." (Man La Yahdhuruhu al Faqih: juz 3 hal. 353) Konsep 'Adalah Sahabat Menurut Ulama Ibn Taimiah berkata dalam Minhaj as Sunnah (1/306-307) : "Dari kalangan sahabat bisa saja seseorang dari mereka melakukan kesalahan, dan berbuat dosa. Karena mereka bukan orang-orang yang maksum. Namun mereka tidak mungkin sengaja berdusta. Karena siapa yang sengaja berdusta atas nama Nabi saw. niscaya Allah swt akan membongkar dustanya." Dalil tentang hal itu terdapat dalam Sahih Bukhari (6780) yang berisi tentang seorang laki-laki yang berulang kali dihadapkan ke pengadilan Rasul saw. untuk dihukum dera karena meminum-minuman keras. Kemudian ketika salah seorang sahabat melaknatnya, maka Nabi saw. mencegahnya sambil bersabda: ูุง ุชูุนููู، ูู ุงููู ู
ุง ุนูู
ุช ุฅูู ูุญุจ ุงููู ูุฑุณููู "Jangan kalian laknat dia. Karena demi Allah, aku tahu dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.". Ibnu Hajar berkomentar: "Dalam hadits tersebut terdapat bantahan bagi orang yang menyangka bahwa pelaku dosa besar otomatis kafir. Karena Rasulullah saw. melarang orang melaknatnya. Sambil memerintahkan untuk mendoakan orang itu. Dari situ juga dipahami bahwa tidak ada unsur saling menafikan antara melanggar larangan dengan keberadaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hati pelaku dosa itu. Karena Rasul saw. memberitakan bahwa orang itu mencintai Allah dan Rasul-Nya. meskipun orang itu melakukan tindakan yang diharamkan." (Fathul Bari: 12/78) Kasus serupa pernah terjadi pada Hathib bin Abi Balta'ah, dalam hadits yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari (4890) dan Muslim (2494). Ia saat itu dituduh melakukan tindakan memata-matai kaum Muslimin. Namun demikian Nabi saw. tetap tidak memvonis dia sebagai kafir. Orang yang mempelajari sirah para sahabat r.a. niscaya akan mendapati sahabat yang diberitakan pernah melakukan dosa sangatlah sedikit jumlahnya. Dan diantara yang sedikit itupun tidak dapat dibuktikan kesalahannya. Jika kita melihat dengan pandangan jujur, niscaya kita dapati para sahabat yang meriwayatkan sunnah tidak didapati melakukan dosa seperti itu. Sedangkan jika pun ada, ternyata yang melakukannya orang yang statusnya sebagai sahabat masih diperdebatkan, seperti Walib bin Uqbah. Dan begitu pun, Walid bin Uqbah tidak pernah meriwayatkan hadits, setelah meninggalnya Rasulullah saw. Sedangkan namanya disebut pada masa hidup Rasulullah saw. semata untuk kepentingan penjelasan hukum atas kasus yang terjadi, sesuai syari'ah. Al Alusi berkata dalam kitab Al Ajwibah al 'Iraqiyah ( hal. 23-24): "Bukanlah maksud perkataan kami: seluruh sahabat 'uduul, berarti mereka tidak melakukan kesalahan atau dosa sama sekali. Mereka bisa saja melakukan dosa .. kemudian yang patut diingat .. bahwa dari kalangan sahabat yang melakukan dosa, hingga akhirnya dijatuhui hukuman, mereka sangat sedikit jumlahnya, dibandingkan ribuan sahabat yang mulia yang terbukti memegang teguh jalan hidup yang lurus. Dan Allah swt. Menjaga mereka dari dosa dan maksiat, yang besar maupun kecil. Dan yang lahir maupun bathin. Sejarah yang jujur menjadi bukti atas fakta tersebut." Sedangkan Abu Hamid al Ghazali berkata dalam kitab al Mustashfa (hal. 189-190) sebagai berikut: Yang dijadikan pegangan oleh para sahabat dan jumhur: bahwa 'Adalah Sahabat diketahui sesuai dengan pemberian sifat 'adalah itu oleh Allah swt kepada mereka. Serta pujian-Nya bagi mereka dalam Al Qur`an. Ini adalah keyakinan kami tentang mereka. Kecuali jika terbukti secara nyata salah seorang dari mereka melakukan dosa dengan sengaja. Dan hal seperti itu ternyata tidak terjadi. Sehingga terhadap mereka tidak perlu lagi dilakukan screening ke'adalahan." Lihat Selengkapnya
Tanggapan Kedua:
'Adalah Sahabat, Tanggapan Atas Jalaluddin Rakhmat -2 Abdul Hayyie al Kattani Bain al-‘Athifah wa al-Burhan? Cukup menarik membaca tulisan Dr. Jalaluddin Rakhmat di bagian akhir artikelnya. Hal itu mendorong saya mengkaji hal ini terlebih dahulu se...belum mengkaji metodologi membaca Al Qur`an, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang tampak mengecam sahabat, serta kajian atas peristiwa-peristiwa yang dialami sahabat secara detail, seperti yang dipaparkan oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat. Karena menurut saya itu sangat mudah dijawab oleh mereka yang mau membuka tafsir-tafsir Al Qur`an maupun hadits Nabi saw. beserta takhrijnya dan sirah Rasul. Inti masalahnya hanya di metodologi bacaan dan pilihan bacaan. Jika itu dijelaskan, akan terjawab semuanya. Jadi pembahasan itu kita lakukan setelah bahasan sekarang ini. Saya berikan sedikit "bocoran" tentang metodologi yang Dr. Jalaluddin Rakhmat gunakan dalam membaca para sahabat. Menurut saya itu metodologi "wailul lil mushallin". Detailnya insya Allah nanti ditulis di artikel lanjutannya. Sekarang, saya ingin mengkaji pernyataan Dr. Jalaluddin Rakhmat: benarkah persoalah sahabat adalah persoalan Bain al-‘Athifah wa al-Burhan, antara rasa cinta kita kepada sahabat dengan bukti-bukti- baik dari Al-Quran, al-Sunnah, maupun kajian-kajian ilmiah? Benarkah, kita ketakutan untuk membongkar "borok-borok" sejarah karena takut kehilangan tokoh teladan setelah Nabi saw.? Dan benarkah konsep 'Adalah Sahabat bermakna 'Ishmah Shahabah? Saya sudah paparkan sebelumnya tentang apa konsep 'Adalah Sahabat tersebut secara mendasar. Dan jelas itu bukan suatu bentuk 'Ishmah Sahabat. Sehingga menurut saya, Dr Muhammad Zain tidak perlu menulis disertasi dengan judul "Dekonstruksi Sakralisasi sahabat Nabi". Karena tidak ada pensakralan dengan pengertian ishmah (maksum) di situ. Jadi yang perlu ditulis adalah sejarah sahabat dengan benar dan berdasar sumber-sumber yang sahih, sambil mengkritisi sumber-sumber sejarah yang ada. Sehingga dihasilkan sejarah sahabat yang benar dan tidak mengandung unsur-unsur yang lemah atau palsu, yang bisa merusak gambaran kita tentang mereka. Kita, umat Islam, sama sekali tidak takut mengkaji sejarah kita. Malah itu sangat dianjurkan dan orang yang melakukannya insya Allah dapat pahala karena jasanya bagi Islam. Hal itulah yang mendorong para ulama menulis buku-buku mereka, dengan tebal puluhan jilid. Mereka mengorbankan waktu, harta dan kepentingan pribadi mereka demi mewujudkan semua itu. Tapi masalahnya: apakah kita tidak boleh punya 'athifah (cinta) terhadap sahabat ketika mengkaji mereka? Dan apakah ketika kita cinta kepada mereka, secara otomatis kita akan menolak burhan berupa Al Qur`an, sunnah dan kajian-kajian ilmiah? Menurut saya itu tidak benar sama sekali. Karena cinta kita terhadap sahabat Nabi saw. dituntun oleh burhan, berupa Al Qur`an, Sunnah dan kajian ilmiah. Tanpa burhan, untuk apa kita mencintai orang yang hidup seribu tahun lebih dari kita, yang tidak mempunyai hubungan darah dengan kita, dan bukan pula satu negara dengan kita. Cinta kita kepada mereka merupakan turunan dari cinta kita kepada Allah swt. dan Nabi-Nya. Tanpa adanya hubungan mereka dengan Nabi saw. dan peran sentral mereka dalam menyampaikan riwayat dari Nabi saw., kita sama sekali tidak perlu mencintai mereka. Dan faktanya, para sahabatlah (termasuk Ali bin Abi Thalib r.a. dan keluarganya) beserta isteri-isteri Nabi saw. yang menjadi jalur satu-satunya bagi kita untuk mengetahui tentang Nabi saw. dan ajaran-ajaran beliau yang diturunkan dari langit secara utuh. Maka ketika kita mencintai Nabi saw., secara otomatis kita harus mencintai mereka. Karena dari merekalah kita mengetahui tentang Nabi saw., tentang Allah swt., tentang tata cara beribadah, tentang akhirat, tentang syari'ah, tentang aqidah dan Al Qur`an. Cinta kita kepada mereka satu paket yang tak terpisahkan dengan cinta kita kepada Allah swt., Nabi saw. dan keluarganya. Dan ini sesuai burhan dari Al Qur`an. Seperti dalam ayat berikut: َูุงَّูุฐَِูู ุฌَุงุกُูุง ู
ِْู ุจَุนْุฏِِูู
ْ ََُُูููููู ุฑَุจََّูุง ุงุบِْูุฑْ ََููุง َِููุฅِุฎَْูุงَِููุง ุงَّูุฐَِูู ุณَุจََُูููุง ุจِุงْูุฅِูู
َุงِู ََููุง ุชَุฌْุนَْู ِูู ُُูููุจَِูุง ุบًِّูุง َِّููุฐَِูู ุขَู
َُููุง ุฑَุจََّูุง ุฅََِّูู ุฑَุกٌُูู ุฑَุญِูู
ٌ (10) ุงูุญุดุฑ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." ( Al Hasyr 59: 10 ) Dalam ayat tersebut dengan jelas disebutkan bahwa dalam menyikapi sahabat, yang diperintahkan Allah swt. kepada kita adalah: mencintai mereka, mendoakan mereka, dan tidak menyimpan kedengkian kepada mereka. Mereka laksana ibu-bapak kita dalam agama. Karena melalui merekalah nasab agama kita bersambung kepada Nabi saw. Tanpa mereka, kemana larinya sambungan nasab agama kita? Sebagaimana tidak jelasnya nasab biologis kita jika kita menafikan keberadaan ibu-bapak biologis kita. Alangkah malangnya kita jika kita melakukan hal itu dengan sengaja. Dan perlakuan kita menempatkan para sahabat dan isteri-isteri Nabi sebagai bapak dan ibu kita sesuai burhan Al Qur`an, yang menempatkan isteri-isteri Nabi saw. sebagai ibu bagi orang-orang yang beriman. Bagaimana jika kita tidak menghormati dan menempatkan isteri-isteri Nabi saw. sebagai ibu kita? Bukankah sifat keimanan kita akan dipertanyakan? Karena kita menghilangkan salah satu ciri keimanan yang telah ditetapkan dalam Al Qur`an. ุงَّููุจُِّู ุฃََْููู ุจِุงْูู
ُุคْู
َِِููู ู
ِْู ุฃَُْููุณِِูู
ْ َูุฃَุฒَْูุงุฌُُู ุฃُู
ََّูุงุชُُูู
ْ َูุฃُُููู ุงْูุฃَุฑْุญَุงู
ِ ุจَุนْุถُُูู
ْ ุฃََْููู ุจِุจَุนْุถٍ ِูู ِูุชَุงุจِ ุงَِّููู ู
َِู ุงْูู
ُุคْู
َِِููู َูุงْูู
َُูุงุฌِุฑَِูู ุฅَِّูุง ุฃَْู ุชَْูุนَُููุง ุฅَِูู ุฃََِْูููุงุฆُِูู
ْ ู
َุนْุฑًُููุง َูุงَู ุฐََِูู ِูู ุงِْููุชَุงุจِ ู
َุณْุทُูุฑًุง (6) ุงูุฃุญุฒุงุจ "Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka." (Al Ahzaab 33:6) Ketika membaca ayat-ayat tadi, maka kami segera menempatkan para sahabat dan isteri-isteri Nabi saw. sebagai orang tua dan ibu kami. Menghormati mereka dan tidak berkata buruk tentang mereka. Serta selalu berbaik sangka kepada mereka. Ketika kami melakukan itu semua, apakah ada yang aneh di sini? Apakah ada yang tidak logis? Apakah ada yang tidak sesuai burhan? Al Burhan dalam Keilmuan Imamiyah Ja'fariyah Saya tahu, karena Dr. Jalaluddin Rakhmat penganut Imamiyah Ja'fariyah maka pemaparan ayat-ayat Al Qur`an seperti itu terasa "garing" baginya. Hanya cocok bagi kalangan 'Ammah (non Imamiyah Ja'fariyah), dan tidak mengena untuk kalangan Imamiyah Ja'fariyah. Sehingga tidak memuaskan. Belum terasa sebagai "burhan". Karena menurut Imamiyah Ja'fariyah, Al Qur`an itu tidak mampu berbicara sendiri, maka Ali bin Abi Thalib r.a. dan para imam lah yang bisa menceritakan apa yang terkandung di dalamnya. Pemahaman terhadap Al Qur`an tergantung pada penjelasan mereka. Dan penjelasan serta perkataan mereka itulah burhan yang sejati. Hal itu seperti keterangan yang diriwayatkan oleh al Kulaini dalam kitab Al Kafi, bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: "ุฐูู ุงููุฑุขู ูุงุณุชูุทููู ููู ููุทู ููู
، ุฃุฎุจุฑูู
ุนูู"، (ุงููุงูู 1/61) "Al Qur`an itu, jika kalian pinta dia untuk berbicara niscaya dia tidak akan dapat berbicara kepada kalian. Maka akulah sejatinya yang bisa menceritakan isinya." (Al Kafi: 1/61) Dan menurut Imamiyah Ja'fariyah, para imam itulah Al Qur`an yang sebenarnya. Karena Al Qur`an yang tertulis dalam mushaf hanyalah object mati yang tak dapat berbuat apa-apa untuk menerangkan isinya. Sehingga keberadaan Al Qur`an dipersonifikasikan oleh sosok para imam yang menerangkan kandungan Al Qur`an. Merekalah Al Qur`an yang hidup dan berbicara. ูุฃูู ุงูุจูุช ูู
ุงููุฑุขู ุงููุงุทู ، ูุงูุซูู ุงูุตุงุฏู ، ูุฃู ุงููุฑุขู ูุง ููุทู ุจูุณุงู ، ููุง ุจุฏ ูู ู
ู ุชุฑุฌู
ุงู" (ุงูุฅู
ุงู
ุฉ ูุงูุชุจุตุฑุฉ ، ุงุจู ุจุงุจููู ุงููู
ู، ู
ูุฏู
ุฉ). "Ahlul Bait adalah Al Qur`an yang berbicara. Dan sumber yang jujur. Karena Al Qur`an tidak dapat berbicara dengan lisan, sehingga perlu ada yang menerangkan." (Al Imamah wa at Tabshirah, Ibnu Babuwaih al Qummi, muqaddimah). (Sebagai catatan: Perlu diteliti, barangkali dari sinilah Roland Barthes mengambil inspirasi untuk tulisannya: The Death of the Author, yang diterbitkan dalam bahasa Inggris di American journal Aspen, no. 5-6 in 1967 dan 1968 dalam bahasa Francis di majalah Manteia, no. 5. Essay ini kemudian diterbitkan dalam anthology essaynya, Image-Music-Text (1977).) Dengan pemahaman seperti itu, maka orang biasa hanya bisa membaca Al Qur`an secara literal saja. Sesuai huruf dan kata-kata yang tercetak. Sedangkan untuk mengetahui maksudnya yang sebenarnya, ia harus merujuk para imam Ahlul Bait. ูุฅูู
ุง ุนูู ุงููุงุณ ุฃู ููุฑุคูุง ุงููุฑุขู ูู
ุง ุฃูุฒู ، ูุฅุฐุง ุงุญุชุงุฌูุง ุฅูู ุชูุณูุฑู ูุงูุงูุชุฏุงุก ุจูุง ูุฅูููุง. (ูุณุงุฆู ุงูุดูุนุฉ، ุงูุญุฑ ุงูุนุงู
ูู، 27/202) "Orang boleh saja membaca Al Qur`an sebagaimana ia diturunkan. Tapi ketika ia memerlukan penafsirannya, maka mereka harus berpedoman pada kami dan merujuk kami." (Wasa`il asy Syi'ah, oleh al Hurr al 'Amili, 27/202) Dengan demikian, sejatinya perkataan para imam itulah burhan yang paling kuat menurut Imamiyah Ja'fariyah. Sedangkan Al Qur`an tidak mempunyai kekuatan hujjah kecuali melalui perkataan imam. 'Adalah Sahabat Nabi Saw. Menurut Para Imam Ahlul Bait Dalam artikelnya, Dr. Jalaluddin Rakhmat mempersoalkan beberapa hal yang disebutkan oleh para penulis tentang 'Adalah Sahabat. Antara lain: Ibn Abi Hatim ar Razi yang memaparkan karakteristik sahabat sebagai berikut: • Sahabat terpelihara dari segala “keraguan, kebohongan, kesalahan, kekeliruan, kebimbangan, kesombongan”. • Sahabat adalah para imam pemberi petunjuk, dan karena itu seluruh perilakunya harus dijadikan teladan • Sahabat juga adalah hujjah agama ; artinya, perilakunya dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum-hukum agama Ibnu Atsir yang mengatakan bahwa para sahabat: “tidak layak dikenakan kepada mereka kecaman” (Ibn Al-Atsir, Mukadimah Usud al-Ghabah) Dan Ibn Hajar al 'Asqallani yang mengatakan: “Jika kamu melihat orang mengkritik seorang saja sahabat Rasulullah saw , ketahuilah bahwa ia itu zindiq. Karena Rasul benar, Al-Quran benar, apa yang dibawanya benar. Disampaikan kepada kita semuanya oleh sahabatnya. Mereka bermaksud untuk mengecam saksi-saksi agama kita untuk membatalkan Al-Kitab dan Sunnah. Merekalah orang-orang zindiq, yang lebih pantas mendapat kecaman” (Al-Ishabah 1:18). Saya akan menjawab keberatan Dr. Jalaluddin Rakhmat tentang point-point tersebut kepada para imam Ahlul Bait. Kita akan lihat bagaimanakah para imam Ahlul Bait yang merupakan burhan terkuat Imamiyah Ja'fariyah berbicara tentang para sahabat, di kitab-kitab Imamiyah Ja'fariyah? Apakah mereka menolak konsep 'Adalah Sahabat seperti yang dipaparkan oleh para ulama tadi? Mari kita perhatikan! Saya coba paparkan dengan mengajukan pertanyaan, untuk kemudian dijawab dengan teks-teks dari para imam. Pertanyaan pertama: Bagaimanakah kedudukan dan keutamaan Sahabat Nabi saw. menurut imam Ahlul Bait, dalam referensi Imamiyah Ja'fariyah? Imam ke 11, Hasan al 'Askari berkata dalam tafsirnya: ( ุฅู ูููู
ุงููู ู
ูุณู ุณุฃู ุฑุจู : ูู ูู ุตุญุงุจุฉ ุงูุฃูุจูุงุก ุฃูุฑู
ุนูุฏู ู
ู ุตุญุงุจุชู؟ ูุงู ุงููู ุนุฒ ูุฌู: ูุง ู
ูุณู! ุฃู
ุง ุนู
ูุช ุฃู ูุถู ุตุญุงุจุฉ ู
ุญู
ุฏ ุตูู ุงููู ุนููู ูุขูู ุนูู ุฌู
ูุน ุตุญุงุจุฉ ุงูู
ุฑุณููู ููุถู ุขู ู
ุญู
ุฏ ุนูู ุฌู
ูุน ุขู ุงููุจููู ูููุถู ู
ุญู
ุฏ ุนูู ุฌู
ูุน ุงูู
ุฑุณููู) .(ุชูุณูุฑ ุงูุญุณู ุงูุนุณูุฑู ุต 32). "Kalimullah Musa pernah bertanya kepada Rabb-Nya: Apakah diantara sahabat-sahabat para nabi ada yang lebih mulia di sisiMu dibandingkan para sahabatku? Allah swt. berfirman: "Musa! Apakah engkau tidak tahu bahwa keutamaan sahabat Muhammad saw. atas seluruh sahabat para Rasul yang lain adalah laksana keutamaan keluarga Muhammad atas seluruh keluarga para nabi. Dan seperti keutamaan Muhammad atas seluruh Rasul." (Tafsir al Hasan al 'Askari, hal. 32) Pertanyaan kedua: Apakah para sahabat Nabi bisa dijadikan hujjah dan teladan dalam beragama? Imam yang kedelapan, yaitu Ali bin Musa atau yang dikenal dengan Ali ar Ridha menjawab seperti ini: ูุงู ุนูู ุจู ู
ูุณู ุงูู
ููุจ ุจุงูุฑุถุง - ุงูุฅู
ุงู
ุงูุซุงู
ู ุนูุฏ ุงูุดูุนุฉ - ุญููู
ุง ุณุฆู "ุนู ููู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
: ุฃุตุญุงุจู ูุงููุฌูู
ูุจุฃููู
ุงูุชุฏูุชู
ุงูุฏูุชู
، ูุนู ูููู ุนููู ุงูุณูุงู
: ุฏุนูุง ูู ุฃุตุญุงุจู:؟ ููุงู: ูุฐุง ุตุญูุญ . (ุนููู ุฃุฎุจุงุฑ ุงูุฑุถุง (ุน)، ุงูุดูุฎ ุงูุตุฏูู ، ุฌ1 ุต 93) Ali bin Musa ar Ridha imam Ahlul Bait ke delapan ketika ditanya tentang sabda Nabi saw: "Para sahabatku seperti bintang gemintang, dengan siapapun dari mereka kalian mengikut, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk yang benar." Serta tentang sabda Nabi saw."Jangan kalian berbuat buruk kepada sahabatku." Ali ar Ridha menjawab: "hadits itu sahih." ('Uyun Akbar ar Ridha, karya Syekh ash Shaduuq, juz 1 hal. 93). Pertanyaan ketiga: Apakah para sahabat melakukan perbuatan yang menyimpang atau berubah aqidahnya dari tuntunan Nabi saw. sehingga mereka menjadi orang yang penuh "keraguan, kebohongan, kesalahan, kekeliruan, kebimbangan, kesombongan"? Ja'far Shadiq, imam keenam, menjawab: ุฃุจู ุนุจุฏ ุงููู ุนููู ุงูุณูุงู
ูุงู : ูุงู ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุขูู ุงุซูู ุนุดุฑ ุฃููุง ุซู
ุงููุฉ ุขูุงู ู
ู ุงูู
ุฏููุฉ ، ู ุฃููุงู ู
ู ู
ูุฉ ، ูุฃููุงู ู
ู ุงูุทููุงุก ، ููู
ูุฑ ูููู
ูุฏุฑู ููุง ู
ุฑุฌู ููุง ุญุฑูุฑู ููุง ู
ุนุชุฒูู ، ููุง ุตุญุงุจ ุฑุฃู ، ูุงููุง ูุจููู ุงูููู ูุงูููุงุฑ ููููููู : ุงูุจุถ ุฃุฑูุงุญูุง ู
ู ูุจู ุฃู ูุฃูู ุฎุจุฒ ุงูุฎู
ูุฑ.") ุงูุฎุตุงู، ุงูุดูุฎ ุงูุตุฏูู - ุต 639 – 640) "Para sahabat Rasulullah saw. ada dua belas ribu orang. Delapan ribu orang dari Madinah, dua ribu orang dari Mekkah, dan dua ribu orang dari kalangan ath-Thulaqaa` (yang masuk Islam setelah era Fath Makkah). Dalam diri mereka tidak didapati seorangpun yang menganut paham qadariyah, atau murjiah, atau haruriah, atau mu'tazilah atau rasionalis. Mereka itu selalu menangis di waktu malam dan siang (karena rindu kepada Tuhan mereka) dan mereka berdoa: Ya Allah cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat makan roti." (al Khishal, karya Syekh Shaduuq, hal. 639-640) Pertanyaan keempat: Apakah para sahabat Nabi saw. orang yang bersifat munafiq, kurang iman dan cinta kepada Allah sehingga diragukan dan tidak patut diteladani? Dan jika sebaliknya, bagaimanakah cara meneladani mereka? Dan jika kami memuliakan para sahabat, meneladani mereka dalam beragama, menjadikan riwayat mereka sebagai hujjah dalam beragama, dan meninggikan derajat mereka serta tidak pernah mencela mereka, apakah dengan perbuatan itu berarti kami menyematkan sifat 'Ishmah (kemaksuman) kepada mereka? Muhammad al Baqir, imam yang kelima menjawab: ุนู ุณูุงู
ุจู ุงูู
ุณุชููุฑ ูุงู: ููุช ุนูุฏ ุฃุจู ุฌุนูุฑ، ูุฏุฎู ุนููู ุญู
ุฑุงู ุจู ุฃุนูู، ูุณุฃูู ุนู ุฃุดูุงุก، ููู
ุง ูู
ุญู
ุฑุงู ุจุงูููุงู
ูุงู ูุฃุจู ุฌุนูุฑ ุนููู ุงูุณูุงู
: ุฃุฎุจุฑู ุฃุทุงู ุงููู ุจูุงู ูุฃู
ุชุนูุง ุจู، ุฅูุง ูุฃุชูู ูู
ุง ูุฎุฑุฌ ู
ู ุนูุฏู ุญุชู ุชุฑู ูููุจูุง، ูุชุณููุง ุฃููุณูุง ุนู ุงูุฏููุง، ูุชููู ุนูููุง ู
ุง ูู ุฃูุฏู ุงููุงุณ ู
ู ูุฐู ุงูุฃู
ูุงู، ุซู
ูุฎุฑุฌ ู
ู ุนูุฏู، ูุฅุฐุง ุตุฑูุง ู
ุน ุงููุงุณ ูุงูุชุฌุงุฑ ุฃุญุจุจูุง ุงูุฏููุง؟ ูุงู: ููุงู ุฃุจู ุฌุนูุฑ ุนููู ุงูุณูุงู
: ุฅูู
ุง ูู ุงููููุจ ู
ุฑุฉ ูุตุนุจ ุนูููุง ุงูุฃู
ุฑ ูู
ุฑุฉ ูุณูู، ุซู
ูุงู ุฃุจู ุฌุนูุฑ: ุฃู
ุง ุฅู ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูุงููุง: ูุง ุฑุณูู ุงููู ูุฎุงู ุนูููุง ุงูููุงู، ูุงู: ููุงู ููู
: ููู
ุชุฎุงููู ุฐูู؟ ูุงููุง: ุฅูุง ุฅุฐุง ููุง ุนูุฏู ูุฐูุฑุชูุง ุฑูุนูุง، ููุฌููุง، ูุณููุง ุงูุฏููุง ูุฒูุฏูุง ูููุง ุญุชู ูุฃูุง ูุนุงูู ุงูุขุฎุฑุฉ ูุงูุฌูุฉ ูุงููุงุฑ ููุญู ุนูุฏู، ูุฅุฐุง ุฎุฑุฌูุง ู
ู ุนูุฏู، ูุฏุฎููุง ูุฐู ุงูุจููุช، ูุดู
ู
ูุง ุงูุฃููุงุฏ، ูุฑุฃููุง ุงูุนูุงู ูุงูุฃูู ูุงูู
ุงู، ููุงุฏ ุฃู ูุญูู ุนู ุงูุญุงู ุงูุชู ููุง ุนูููุง ุนูุฏู، ูุญุชู ูุฃูุง ูู
ููู ุนูู ุดูุก، ุฃูุชุฎุงู ุนูููุง ุฃู ูููู ูุฐุง ุงูููุงู؟ ููุงู ููู
ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
: ููุง، ูุฐุง ู
ู ุฎุทูุงุช ุงูุดูุทุงู. ููุฑุบุจููู
ูู ุงูุฏููุง، ูุงููู ูู ุฃููู
ุชุฏูู
ูู ุนูู ุงูุญุงู ุงูุชู ุชููููู ุนูููุง ูุฃูุชู
ุนูุฏู ูู ุงูุญุงู ุงูุชู ูุตูุชู
ุฃููุณูู
ุจูุง ูุตุงูุญุชูู
ุงูู
ูุงุฆูุฉ، ูู
ุดูุชู
ุนูู ุงูู
ุงุก، ููููุง ุฃููู
ุชุฐูุจูู، ูุชุณุชุบูุฑูู ุงููู ูุฎูู ุงููู ุฎููุงً ููู ูุฐูุจูุง، ุซู
ูุณุชุบูุฑูุง، ููุบูุฑ ุงููู ููู
، ุฅู ุงูู
ุคู
ู ู
ูุชู ุชูุงุจ، ุฃู
ุง ุชุณู
ุน ููููู: ] ุฅَِّู ุงََّููู ُูุญِุจُّ ุงูุชََّّูุงุจَِูู ] ููุงู: ] َูุฃَِู ุงุณْุชَุบِْูุฑُูุง ุฑَุจَُّูู
ْ ุซُู
َّ ุชُูุจُูุง ุฅَِِْููู ] (ุงููุงูู ، ุงูููููู ، ุฌ2 ุต 423- 424). "Dari Salam bin al Mustanir ia berkata: Aku suatu hari berada di tempat Abu Ja'far. Kemudian datanglah Hamran bin A'yun. Dan dia pun bertanya kepadanya tentang beberapa masalah. Dan ketika Hamran ingin pamit, ia berkata kepada Abu Ja'far a.s.: "Aku ingin mengadu kepadamu -semoga Allah memanjangkan usiamu dan menjadikanmu selalu memberi manfaat bagi kami- bahwa ketika kami datang kepadamu, selama kami belum keluar pulang dari majlismu, kami merasakan hati kami menjadi lembut, jiwa kami menjadi tidak senang dunia, dan kami tidak silau dengan harta yang ada di tangan manusia. Tapi ketika kami keluar dari majlismu, dan kembali bergaul dengan orang banyak serta para pedagang, ketika itu kami kembali cinta dunia. Bagaimana itu bisa terjadi?" Abu Ja'far a.s. menjawab: "Seperti itulah hati manusia. Terkadang sulit dikendalikan dan terkadang mudah." Kemudian Abu Ja'far kembali berkata: "Para sahabat Rasulullah saw juga pernah berkata: "Rasulullah saw., kami takut mengalami nifaq". Beliau bertanya: "Mengapa kalian berkata begitu?" Mereka menjawab, "Kami ini jika sedang bersamamu, kami merasakan jiwa kami menjadi halus dan merasakan nuansa ilahiah yang mengisi relung bathin kami. Sehingga kami pun lupa terhadap dunia dan tidak ada keinginan meraihnya. Sehingga kami seakan-akan melihat akhirat, surga dan neraka secara kasat mata, ketika kami berada bersamamu. Tapi ketika kami keluar dari majlismu, masuk kembali ke rumah kami, kemudian mencium anak-anak kami, melihat isteri dan keluarga kami, serta kembali berurusan dengan harta, maka saat itu kami merasakan mengalami perubahan dari kondisi ketika berada bersamamu, sehingga seakan-akan kami tidak memiliki perasaan tadi lagi. Apakah itu tanda kemunafikan diri kami?" Rasulullah saw. menjawab mereka: "Itu sama sekali bukan tanda kemunafikan kalian. Itu hanyalah salah satu bentuk godaan syetan yang ingin membujukmu agar mencintai dunia. Demi Allah, jika kalian terus berada dalam kondisi ruhaniah seperti yang kalian ceritakan sebelumnya, niscaya kalian akan disalami oleh malaikat, dan kalian bisa berjalan di atas air. Tapi jika kalian tidak berbuat dosa sehingga kemudian Allah mengampuni kalian, niscaya Allah akan menciptakan makhluk lain yang akan berbuat dosa untuk kemudian mereka bersimpuh meminta ampunan kepada Allah, dan Allah pun mengampuni mereka. Karena itulah orang beriman itu bersifat kerap mengalami fitnah (sehingga berbuat dosa) untuk kemudian meminta ampunan Allah. Apakah engkau tidak mendengar firman Allah swt: " Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat ." (Al Baqarah 2:222 ) dan firman Allah swt: " dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya ." ( Hud 11:3 ). Lihat: (al Kafi, al Kulaini, vol. 2 hal. 423-424). Pertanyaan kelima: Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap para sahabat Nabi saw? Dan apakah kita boleh berkata buruk tentang mereka, mencela mereka dan membenci mereka, dan betulkah orang yang mencerca sahabat dapat dinamakan sebagai orang zindiq? Imam ke 11, Hasan al 'Askari menjawab: ุฅู ุฑุฌูุงً ู
ู
ู ูุจุบุถ ุขู ู
ุญู
ุฏ ูุฃุตุญุงุจู ุงูุฎูุฑูู، ุฃู ูุงุญุฏุงً ู
ููู
ูุนุฐุจู ุงููู ุนุฐุงุจุงً ูู ูุณู
ุนูู ู
ุซู ุนุฏุฏ ุฎูู ุงููู ูุฃููููู
ุฃุฌู
ุนูู. (ุชูุณูุฑ ุงูุญุณู ุงูุนุณูุฑู ุต196 ، ู ุจุญุงุฑ ุงูุฃููุงุฑ ููู
ุฌูุณู ุฌ 26 ุต 331) "Orang yang membenci keluarga Muhammad dan para sahabatnya yang mulia, atau terhadap salah seorang dari mereka, niscaya Allah akan adzab mereka dengan adzab yang jika ditimpakan kepada seluruh makhluk Allah niscaya binasalah mereka seluruhnya." (Tafsir al Hasan al 'Askari, hal. 196. Juga lihat di Biharul Anwar karya Al Majlisi, juz 26, hal. 331) Dan saya tutup ungkapan para imam Ahlul Bait itu dengan wasiat penghulu para imam Ahlul Bait, yaitu Ali bin Abi Thalib r.a. tentang para sahabat yang mulia dan persaksian ta'dil dia terhadap mereka: ูุฃูุตููู
ุจุฃุตุญุงุจ ูุจููู
، ูุง ุชุณุจููู
، ููู
ุงูุฐูู ูู
ูุญุฏุซูุง ุจุนุฏู ุญุฏุซุง ، ููู
ูุฃุชูุง ู
ุญุฏุซุง ، ูุฅู ุฑุณูู ุงููู ( ุตูู ุงููู ุนููู ูุขูู ) ุฃูุตู ุจูู
. ) ุงูุฃู
ุงูู ، ุงูุดูุฎ ุงูุทูุณู ، ุต 522 – 523) "Aku berwasiat kepada kalian tentang para sahabat Nabi kalian. Jangan kalian cerca mereka. Karena mereka tidak melakukan suatu perubahan apa pun terhadap agama setelah Nabi saw. Mereka juga tidak mendatangkan orang yang melakukan perubahan. Dan Rasulullah saw. juga berwasiat seperti itu tentang mereka." (al Amaali, karya Syekh ath Thuusi, hal. 522-523) Demikianlah penuturan para imam Ahlul Bait tentang sahabat Nabi saw. Saya pikir ungkapan para imam tadi sangat mencukupi untuk menjawab semua keberatan Dr. Jalaluddin Rakhmat tentang konsep 'Adalah Sahabat yang dipaparkan oleh Ibnu Abi Hatim ar Razi, Ibn Atsir, dan Ibn Hajar al 'Asqallani.
Tanggapan Ketiga:
'Adalah Sahabat, Tanggapan Atas Jalaluddin Rakhmat -3 Abdul Hayyie al Kattani Maka Kecelakaanlah bagi Orang-orang yang Shalat? Setelah kita mengetahui bahwa maksud 'Adalah Sahabat secara mendasar adalah "menilai diri para sahabat Nabi saw. sebagai ja...lur penyampai yang bisa dipercayai bagi Al Qur`an, hadits-hadits Nabi saw., serta seluk beluk kehidupan Nabi saw. selama beliau hidup, bagi generasi berikutnya." Dan karena itu kita sudah dapati bahwa menerima konsep 'Adalah Sahabat merupakan suatu keharusan, secara logika maupun dalil syar'i, dalam memahami dan mendapatkan Islam yang otentik dari Nabi saw. Kita bahkan sudah mendapati jawaban dan konfirmasi bagi karakteristik-karakteristik sahabat yang dipaparkan oleh Ibn Abi Hatim, Ibn Atsir serta al 'Asqallani. Meskipun semua karakteristik tersebut secara lahir tampak "wah". Dengan catatan bahwa teori-teori para ulama tersebut, maupun karakteristik yang mereka paparkan, tetap membuka diri bagi adanya kajian-kajian lebih jauh. Sehingga dengan begitu, menurut hemat saya, masalah masyru'iyyat atau legalitas 'Adalah Sahabat sudah terjawab dengan sangat memadai dan tidak lagi perlu diperdebatkan. Kemudian tinggal sekarang, bagaimanakah kita memahami ayat-ayat Al Qur`an serta kejadian yang menampilkan sebagian sahabat sebagai sosok yang, menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat: ragu dalam agamanya, menentang dan membangkang perintah Rasulullah saw., pernah meninggalkan ibadah, menyakiti Rasul saw., lari dari medan pertempuran, mengeraskan suaranya di hadapan Rasul saw., dan tidak membayar zakat atau perbuatan dosa lainnya? Bagi sebagian orang, hal itu menghasilkan suatu kontradiksi tersendiri: antara perintah bagi kita untuk menghormati dan meneladani sahabat, dengan kenyataan sebagian mereka tercatat melakukan perbuatan-perbuatan dosa seperti itu. Bagaimana ini? Pada titik inilah, menurut saya, Dr. Jalaluddin Rakhmat tergoda dan selanjutnya terjebak metodologi "Wailul Lil Mushallin" dalam melihat para sahabat. Apa itu metodologi "Wailul Lil Mushallin"? Secara literal ia adalah potongan dari surah al Ma'un ayat 4, yang bermakna: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat …" Secara terminologis, ia bisa dijelaskan sebagai: metodologi membaca ayat atau peristiwa secara parsial atau sepotong-sepotong untuk kemudian dijadikan landasan untuk menetapkan penilaian atas keseluruhan. Cara membaca dan memandang seperti itu menurut saya sangat tidak tepat dan bisa berakibat fatal. Ia akan mengantarkan kita pada pembentukan gambaran-gambaran yang buruk tentang peristiwa-peristiwa maupun tokoh-tokoh agung seperti para Nabi sekalipun. Misalnya, ketika kita ingin mengetahui gambaran Nabi Adam dan Hawa dengan hanya berdasarkan pada ayat berikut: "Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.." ( Al Baqarah 2:36) Maka kita akan menilai Nabi Adam dan Hawa sebagai dua sosok yang hina dan dibenci serta dicampakkan oleh Allah swt. Ketika kita membaca kisah Nabi Musa a.s. hanya berdasarkan potongan ayat: " Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)." ( Al Qashash 28: 15) Ini akan mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa Nabi Musa a.s. adalah seorang bengis, pembunuh, dan berperangai sangat buruk. Ketika kita membaca kisah Nabi Yunus a.s. hanya dengan melihat ayat ini: "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." ( al Qalam 68: 48) Kita akan menangkap kesan Nabi Yunus a.s. yang disinggung sebagai "orang yang berada dalam perut ikan" dalam ayat tersebut sebagai orang yang tidak layak diteladani, tempramental dan seorang yang dimurkai oleh Allah swt. Ketika kita membaca kisah Nabi Yusuf a.s. hanya dengan melihat potongan ayat: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu". ( Yusuf 12:24) Niscaya akan terbentuk dalam otak kita pikiran-pikiran "ngeres" tentang Nabi Yusuf a.s. Ketika kita membaca sejarah Nabi Muhammad saw. hanya berdasarkan ayat: "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." ( Al Anfaal 8:67) Kita akan menangkap kesan Nabi Muhammad saw. sebagai sosok Nabi yang telah melakukan perbuatan yang tidak patut, senang dunia dan tidak senang akhirat. Menurut saya, metodologi membaca Al Qur`an seperti ini sangat berbahaya dan mengantarkan kita kepada kesimpulan yang jauh sekali dari kebenaran. Demikian juga halnya jika kita menggunakan metodologi itu dalam membaca sejarah para sahabat dan kejadian-kejadian yang pernah mereka lewati bersama Rasulullah saw. Saya bisa pastikan tidak ada seorang pun sahabat yang selamat dari kecaman jika kita menggunakan metodologi itu. Termasuk Ali bin Abi Thalib r.a. dan Fathimah r.a. Jika para Nabi yang mulia, bahkan malaikat sekali pun, tidak bisa selamat dari kecaman jika kita menggunakan metodologi tadi, maka bagaimana mungkin sahabat bisa selamat? Lantas bagaimanakah metodologi yang tepat untuk membaca Al Qur`an, sejarah para sahabat dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan? Membaca Al Qur`an dan Peristiwa Sejarah Secara Utuh dan Integral Seorang pembaca artikel saya ini di Facebook, bernama Islisyah Asman, ketika mendapati saya berhenti di sini cukup lama, tanpa segera menjelaskan contoh-contoh pemotongan ayat di atas, langsung teriak: "Ustazh, bahasan di atas sepertinya menggantung ceritanya. Beri saja penjelasan atas semua pertanyaan yang ada pada tulisan itu. Saya khawatir apabila tulisan itu dibaca oleh orang awam, kasihan, mereka tidak dapat menangkap dengan mudah maksud yang terkandung di dalamnya. Maaf, ini saran saya. Mudah-mudahan bisa diterima." Begitulah, hati yang beriman dan akal yang sehat tidak menerima jika kita hanya berhenti pada potongan-potongan tersebut, ketika kita berbicara tentang orang-orang agung dalam sejarah. Dan di situlah bahayanya jika kita menggunakan secara sepotong-sepotong ayat Al Qur`an maupun peristiwa-peristiwa dalam sejarah Islam tanpa memperhatikan runtutan penjelasan ayat maupun kisah tersebut secara utuh dalam Al Qur`an. Maka metodologi yang benar dalam memahami ayat-ayat Al Qur`an maupun peristiwa dalam sejarah Islam adalah dengan membaca kisah itu secara keseluruhan. Tidak hanya sebagian. Untuk kemudian memahamai fragment-fragment yang pernah terjadi yang tampak "tidak bagus" dalam bingkai pemahaman global tersebut. Dengan cara tersebut, maka kita tidak lagi terjebak dengan metodologi "Wailul Lil Mushallin" atau "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat …", karena kita tahu bahwa runtunan lengkap ayat-ayat tersebut adalah: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." ( Al Ma'uun 107: 4-7). Dari bacaan atas ayat-ayat secara lengkap itulah kita segera tahu bahwa orang yang celaka itu adalah orang-orang lalai ketika shalat, berlaku riya dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain. Bandingkan hal itu dengan pemahaman yang kita dapatkan hanya dari potongan ayat tadi. Tentu jauh sekali. Demikian juga dengan kisah Nabi Adam dan Sitti Hawa. Ketika kita membaca kisah tersebut secara lebih utuh, justru kita menemukan bahwa Nabi Adam dan Sitti Hawa setelah mengalami ketergelinciran dan keterusiran dari surga, keduanya malah mendapatkan anugerah berupa ampunan dan kasih sayang Allah swt.. Bacalah ayat 36 surah Al Baqarah ini setelah saya lengkapi lanjutan ayatnya dengan ayat no 37: "Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. " ( Al Baqarah 2:36-37) Gambaran kita yang negatif tentang Nabi Musa a.s. ketika kita hanya membaca ayat dari surah Al Qashash 28: 15, akan segera berubah menjadi positif ketika kita membaca penuturan Al Qur`an tentang Nabi Musa a.s. secara utuh. Dan saat kita melanjutkan bacaan kita atas surah Al Qashash 28: 15 dengan ayat no 16 dan 17, kita dapati bahwa Nabi Musa a.s. telah meminta ampunan kepada Allah swt. atas tindakannya yang tidak disengaja itu. Dan Allah swt. pun mengampuninya. Kita baca: "Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerah-kan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa". (Al Qashash 28: 16-17) Ketika kita membaca kisah Nabi Yunus a.s., setelah membaca surah al Qalam 68: 48: "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." ( al Qalam 68: 48) Dan kita lanjutkan dengan al Qalam 68: 49-50. Gambaran negatif kita tentang Nabi Yunus a.s. segera tergantikan dengan kekaguman. Karena ternyata setelah itu Allah swt memberikannya ni'mat dan memilihnya serta menjadikannya sebagai orang saleh. Mari kita baca: "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh." (al Qalam 68: 49-50) Pikiran ngeres kita tentang Nabi Yusuf a.s., yang timbul ketika kita hanya membaca potongan ayat: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu". ( Yusuf 12:24) Akan tergantikan dengan kekaguman dan hormat kita kepadanya, ketika kita membaca ayat surah Yusuf 12:24 secara lengkap. Karena dalam ayat yang lengkap itu kita dapati ternyata Allah swt. selalu menjaganya dari perbuatan-perbuatan nista, dan menjadi makhluk Allah yang terpilih. Mari kita baca ayat tersebut: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." ( Yusuf 12:24) Dan gambaran kita yang tampak buram saat membaca sejarah Nabi saw. hanya melalui potongan ayat ini: "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." ( Al Anfaal 8:67) Akan segera berubah cemerlang ketika kita membaca dan menelusuri surah dan ayat-ayat dalam Al Qur`an secara utuh yang menceritakan beliau. Akan terbentuk gambaran sosok yang agung nan mulia yang selalu mendapatkan bimbingan, teguran dan petunjuk dari Allah swt. Segala gerak-gerik beliau selalu berada dalam pengawasan Allah swt. Dan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut beliau adalah kebenaran semata. Sesuai firman Allah swt: "dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quraan) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat." (An Najm 53: 3-5) Dan teguran dalam surah Al Anfaal 8:67 itu merupakan bagian dari proses turunnya aturan-aturan Syari'ah dari Allah swt kepada Nabi Muhammad saw. Dan itu menjadi rahmat serta kemudahan bagi umat beliau. Mari kita baca lanjutan ayat Al Anfaal 8:67 tersebut dengan ayat Al Anfaal 8:68-69: "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Anfaal 8:68-69) Demikianlah, kita bisa saksikan dan rasakan, jauhnya perbedaan antara membaca Al Qur`an dan peristiwa sejarah dalam Islam secara parsial dengan cara pembacaan secara utuh dan integral.
Oleh: Abu Syadi Muhammad Ammar(Kandidat Doktor di Universitas Kairo)
Comments
Post a Comment