BAITUL HIKMAH; MESIN CETAK ULAMA
Problem Umat Islam sekarang adalah soal kaderisasi ulama, perannya sebagai waratsatul anbiyya dalam menyampaikan hujjah islam semakin mendesak, perlunya proses kontinyuitas(bimbingan yang terus menerus dari para ulama) serta fasilitas khusus untuk peningkatan keilmuan, perlu pula mendapat sorotan.
Adalah Baitul hikmah (Perpustakaan) pada masa khalifah Al-Makmun (839M) menjadi pusat peradaban ilmu di masanya, pada masa itu islam mencapai puncak kejayaannya dalam berbagai disiplin ilmu. Tingkat intelektualitas, dan kualitas akhlak yang mumpuni menjadi modal untuk mengangkat harkat derajat islam di mata dunia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-hadid : 28,
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya, (niscaya) Allah memberikan rahmatNya kepadamu dua bagian , dan menjadikan untukmu cahaya (yang dengan cahaya itu)kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Yang dimaksud cahaya (Nur) dalam ayat ini berarti ilmu, ”Al-Ilmu Nuurun Wal Jahlu Dhorrun”kata hikmah arab dalam Adabiyyah. Jelas, ini menegaskan bahwa ilmu menempati kedudukan mulia dalam tata nilai setiap pribadi dan masyarakat pada semua lapisan, yang dikejawantahkan dengan penghargaan tinggi kepada setiap individu maupun institusi yang melibatkan diri dalam kegiatan mencari, mendalami, mengembangkan dan menyebarkan ilmu (Pembudayaan Ilmu, Syamsuddin Arif) dalam kitab Shahih bukhari kitabul ilmi”Bab Fadhlul Ilmi wa qaulillahi taa’la yarpaillahu lladziina amanuu minkum walladziina u’tuul ilm darojaat,,ada tambahan Rabbi zidnii ilman (“Ya Tuhanku, tambahkan aku ilmu”) adalah doa yang dipanjatkan Rasullallah SAW. Doa’ Rosullullah tersebut mengisyaratkan bahwa Ilmu terus berkembang seiring berjalannya zaman, konsumsi ilmu tidak akan pernah berhenti karena setiap detik muncul ilmu baru. Dalam kitab Shahih Bukhari pada Kitabul ilmi ”Bab Kaifa yuqbadul ilm, bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu secara sekaligus, tetapi orang-orang berilmu (para ulama) akan diambil Allah, maka dengan kepergian mereka hilanglah ilmu. Akibatnya muncul orang-orang bodoh yang tampil sebagai tokoh panutan, mereka sesat dan menyesatkan manusia lain pula,”
Ilmu membutuhkan fasilitas khusus, yang mendukung terciptanya pembudayaan ilmu, strategi pembudayaan ilmu yang menghasilkan para ulama ternyata berawal dari Baitul Hikmah (Perpustakaan ) sebagai pusat keilmuan . Para ulama dahulu banyak mengadakan sistem talaqqi (bertatap muka) dengan murid mereka disudut-sudut perpustakaan, kajian-kajian keilmuan dll. sebut saja syeikh Nashiruddin Al-Bani () ulama pengarang Silsillatul ahadist shahihah yang menjadi penjaga perpustakaan karena disuruh oleh penjaga perpustakaan sebab kebiasaanya membaca buku di perpustakaan dari pagi sampai tengah malam. Banyak ulama besar lainnya yang berprofesi sebagai penjaga perpustakaan,Ibnu Hajar Al-Asqolani (1449 M) pengarang kitab Syarh Shahih Bukhari Fath Baari’ perannya sebagai ulama besar ia habiskan sebagian waktunya di perpustakaan .
Memperhatikan begitu urgennya perpustakaan dalam mengkader para ulama dahulu, ketika Dinasti Abbasiyyah mencapai puncak kegemilangan di bidang ilmu pengetahuan, sampai-sampai terjadi penyerangan pasukan Tartar yang membakar perpustakaan-perpustakaan megah dan lengkap di Baghdad yang merugikan umat islam, juga mereka mencuri transkip naskah asli karya ulama pada masa itu. Dikalangan tokoh ulama kontromporer sekarang yang giat membina umat lewat perpustakaan salah satunya adalah Syeid Naquib Al- Attas sebelum mendirikan lembaga pendidikan ISTAC, dia terlebih dahulu mendirikan perpustakaan respresentatif terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara.
Belajar dari pengalaman tersebut menjadi sebuah ibroh bahwa masa depan islam, memerlukan fasilitas khusus(Perpustakaan). Sebagai jalan, membuat mata rantai ilmu dan usaha kaderisasi ulama. Strategi klasik sistem majelis ta’lim, rihlah fi tolab ilm,dakwah wisata dll.akan berkembang lebih pesat saat jamiyyah Persis sekarang mempunyai centre Of knowledge yaitu Baitul hikmah (Perpustakaan) berdampingan dengan Baitul Mal wa Tamwil (BMT),atau PZU. Tak akan pernah ada lagi kekhawatiran akan kaderisasi ulama, karena jamiyyah mempunyai fasilitas pendukung dalam perjuangannya di bidang da’wah dan pendidikan. Strategi pembudayaan ilmu menurut Syamsuddin Arif, peneliti INSIST mencakup, diantaranya :
Peringkat Individu
1. Berguru
2. Membaca
3. Menulis
4. Diskusi
Peringkat Institusi
1. Pengadaan perpustakaan dan Intitusi
2. Seminar, Simposium, Workshop, dsb
3. Sokongan Penerbitan.
Wallahu a’lam bi showaab.
Comments
Post a Comment