ILMU SYAR'I FARDHU AIN?
Abu Hamid Muhammad al Ghazali (w.505/1111) yang masyhur dengan gelar Hujjat al-Islam (Pembela Islam) karena keberhasilannya menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (syar’i) mengungguli ilmu-ilmu rasional (Ilmiah seperti sains dll). Dia pun mempresentasikan bahwa hukum mempelajari ilmu-ilmu agama adalah “Fardhu Ain” . Jawabannya sebenarnya simpel, jatah usia kita terbatas tidak mungkin kita mencurahkan segenap tenaga kita untuk belajar ilmu diluar ilmu agama. Ada baiknya, kita belajar ilmu-ilmu yang jelas manfaatnya karena sebenarnya kunci dari Ilmu pengetahuan adalah penegasan akan hakikat siapa yang menciptakan ilmu itu sendiri (dimana hakikat ilmu berasal ) yang sering disebut juga Ultimate Principle. Pada tulisan ringkas ini penulis sedikit sajikan apa itu ilmu pengetahuan, epistemologi ilmu pengetahuan, pandangan ilmuwan barat dan ilmuwan islam, dan terakhir sedikit mengulas betapa destruktifnya ilmu pengetahuan yang bisa saja membahayakan pada entitas entitas spiritual yang sengaja ditutupi oleh ilmuwan barat sehingga mereka tidak berani mengatakan ‘TUHAN atau Allah subhana wata’ala sebagai pencipta Ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak secara rinci penulis utarakan, penulis mengutip sumber referensi dari karya-karya ilmuwan islam di era kontemporer seperti Syed Naquib al attas, Fahmi Zarkasy dan beberapa ilmuwan islam yang konsen di bidang pemikiran asal Indonesia seperti Adian Husaini, Mulyadhi Kartanegara, dll. Berikut sedikit ulasannya, Kata Ilmu berasal dari bahasa Arab ‘Ilm akar dari padanan kata ‘alima-ya’lamu-ilman’ yang mempunyai arti mengetahui.
Secara umum dapat difahami bahwa ilmu tidak memerlukan pendefinisian . Ilmu dapat diterima selama itu bermanfaat, karena pada hakikatnya semua ilmu itu datang dari Allah Subhana wataala’¸Syeid Naquib Al Attas mengklasifikasikan ilmu pada dua jenis ; Pertama, ilmu jenis pertama ini diberikan Allah melalui wahyu Nya kepada manusia, dan ini merujuk kepada Kitab suci Al Quran . Al Quran adalah wahyu yang lengkap dan terakhir, sehingga ia sudah mencukupi sebagai bimbingan dan keselamatan manusia, dan tidak ada ilmu selainnya kecuali yang didasarkan atasnya dan merujuk kepadanya yang dapat membimbing dan menyelamatkan manusia. Kedua, jenis ilmu yang kedua merujuk kepada ilmu-ilmu sains yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan, dan penelitian. Ilmu ini bersipat diskursif dan deduktif dan berkaitan dengan perkara yang bernilai pragmatis. Ilmu jenis pertama diberikan oleh Allah Subhana wataala’ kepada manusia melalui pengungkapan langsung, sedangkan yang kedua melalui spekulasi dan usaha penyelidikan rasional dan didasarkan atas pengalamannya tentang segala sesuatu yang dapat ditangkap panca indera (sensible) dan difahami oleh akal (intelligible) .
Yang pertama merujuk kepada ilmu tentang kebenaran objektif yang diperlukan untuk membimbing manusia, sedangkan yang kedua merujuk kepada ilmu mengenai data yang dapat ditangkap oleh panca indera dan difahami akal yang dipelajari (kasbi) untuk kegunaan dan pemahaman kita. Dari sudut pandang manusia, dua jenis ilmu itu harus diperoleh melalui perbuatan secara sadar karena tidak ada ilmu yang berguna tanpa amal yang lahir dari ilmu tersebut. Ilmu pertama menyingkap misteri wujud dan Eksistensi hubungan sejati antara diri manusia dan Tuhan Nya. Asas dan dasar utama bagi ilmu kedua adalah ilmu pertama, karena tanpa bimbingan ilmu yang pertama tidak akan dapat menuntun manusia dengan benar di dalam kehidupannya dan hanya akan membingungkan, mengelirukan, dan menjerat manusia ke dalam kancah pencarian yang tanpa akhir dan tujuan.
Kita juga melihat bahwa ada batas bagi manusia terhadap pencarian ilmu oleh karena itu orang manusia seharusnya membatasi pencarian Al Qur’an bukanlah kitab ajar ( buku diktat) karena itu tidaklah tepat mencari pembenaran teoritis bagi hasil-hasil observasi. Sebaliknya, al Quran adalah penunjuk yang membimbing manusia bagaimana memperoleh pengetahuan yang benar, dan petunjuk yang mengisyaratkan fakta-fakta penting alam semesta, termasuk dalam diri manusia sendiri untuk ditelaah supaya dapat diambil manfaatnya. Seorang ilmuwan Muslim harus selalu yakin bahwa kebenaran yang terkandung dalam Al-Quran sebagai kitab yang diwahyukan atau diturunkan adalah mutlak. Pada saat yang sama ilmuwan muslim juga harus yakin bahwa kebenaran yang terdapat pada alam semesta sebagai Kitab ciptaan (Created Book Khuliqal Kitab) juga mutlak, karena ia merupakan pasangan kebenaran dengan yang terkandung dalam Al Quran. Prinsip kebenaran seinduk ini ditegaskan dalam surat Fushilat : 53,
“Akan Aku perlihatkan dengan terang-benderang kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan). Kami di segala ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (al-Quran) itu adalah benar.”
Secara ringkas proses untuk mendapatkan pengetahuan dapat dibagankan seperti berikut ini :
1. Manusia terus menerus mengamati berbagai fakta kejadian alam. Fakta-fakta ini lambat laun terkumpul menjadi semakin banyak dan biasa disebut data.
2. Ternyata banyak data dapat dikelompokkan menjadi pernyataan-pernyataan pendek yang disebut hukum yang menggambarkan sifat umum suatu fenomena.
3. Para ilmuwan selalu tidak puas dengan hanya mendapatkan hukum-hukum saja. Mereka menginginkan bukti kebenaran. Maka dirumuskanlah jawaban sementara untuk menerangkan fakta-fakta. Jawaban sementara ini disebut hipotesis, suatu ramalan ilmiah dan bukan spekulasi atau kontemplasi ;
4. Hipotesis ini kemudian diuji dengan membuat tiruan kejadian alam yang disebut eksperimen atau percobaan dengan pengamatan (observasi) yang sangat teliti dengan atau tanpa menggunakan alat-alat khusus. Eksperimen adalah pengujian suatu gejala dibawah kondisi yang dikendalikan ;
5. Bila dengan serangkaian eksperimen yang dilakukan secara berulang-ulang dan hasilnya taat asas (konsisten) ramalan itu terbukti benar, hipotesis dapat dikukuhkan menjadi teori, yaitu keterangan yang jelas tentang fakta-fakta yang diamati ;
6. Kadang-kadang ada ketidaksesuaian hipotesis dengan hasil eksperimen. Maka, perumusan hipotesis dan pembuktiannya ditelaah ulang untuk mencari kesalahan. Demikian terus menerus dilakukan berulang-ulang sampai didapat kesesuaian hipotesis dengan hasil eksperimen ;
7. Seringkali, secara tidak sengaja, ditemukan fakta-fakta baru yang dapat memperkaya khazanah ilmu. Fakta-fakta baru itu adakalanya menggugurkan hokum atau teori yang telah dibangun sebelumnya. Dengan demikian ilmu terus berkembang. Maka science implies a self- corrective system.
Sipat Ilmu bisa saja secara potensial sangat destruktif atau konstruktif, perbedaaan teoritis yang fundamental terjadi antara teori ilmu (epistemology) modern dan Islam. Kita bisa membedakan perbedaan epistemology Barat dan Islam. Epistimologi Utama berkenaan dengan Ilmu adalah ; Pertama, apa yang dapat kita ketahui ? Kedua,bagaimana mengetahuinya ?
Pada asalnya pembahasan epistemology, para ahli menyebut empat sumber pengetahuan manusia, yaitu kesaksian otoritatif, persepsi indera, akal, dan intuisi.
Dalam kitab Ihsa al-Ulum ( Klasifikasi Ilmu ) al Farabi (w. 950 M) jajaran Ilmu pengetahuan yang dikenal pada masanya seperti linguistic, logika, matematika, fisika, metafisika, politik, yurispundensi, dan teologis. Menurut al Farabi jika Fisika berbicara tentang sebab-sebab material, formal, efisien, dan final dari sebuah benda dan meliputi aksiden-aksiden serta prinsip-prinsip umum substansi fisik. Maka metafisika meliputi entitas-entitas atau substansi-substansi immaterial yang berpuncak pada prinsip terakhir dari segala yang ada (The Ultimate Principle) dari mana segala wujud lainya berasal.
Dengan derajat yang sama al Kindi (W.866 m) filsuf pertama muslim menyatakan bahwa ilmu itu harus meliputi bukan hanya dunia fisik tetapi juga metafisik. Ilmu pengetahuan (sains) Barat modern membatasi lingkup dirinya hanya pada hal-hal yang bersipat indrawi (sensible, mahsusat) yaitu dunia yang dapat diobservasi oleh panca indrawi. Tentu saja pandangan ini didasarkan pada positivisme, sebuah aliran filsafat yang hanya mengakui keberadaan hal-hal yang dapat diobservasi dan dibuktikan secara positive dan empiris. Hal-hal yang tidak dapat diakui secara positive mereka tolak sebagai tidak nyata (unreal), Kembali merujuk kepada epistemology utama, “Apa yang dapat kita ketahui?” jawaban ilmuwan modern adalah “segala sesuatu sejauh dapat diobservasi secara indrawi”. Dengan demikian, lingkup ilmu modern secara garis besar meliputi : materi, makhluq hidup, pikiran, kebuadayaan, alam, dan sejarah.
Sedangkan, menurut ilmuwan Muslim memberikan jawaban yang berbeda terhadap pertanyaan diatas, Menurut mereka kita dapat mengetahui bukan hanya benda-benda indrawi (sensible, mahsusat), tetapi juga substansi-substansi spiritual (intelligibies, maqulat), yaitu entitas-entitas yang berada diluar dunia indrawi, yang hanya dapat diketahui melalui akal secara inferensial, atau melalui intuisi (qalb) secara langsung atau presensial. Dengan kata lain, kita bisa mengetahui bukan saja alam fisik tetapi juga metafisik. Dan seperti juga terhadap objek-objek ilmu-ilmu fisik, ilmuwan muslim juga mengakui status ontologisme entitas-entitas metafisik (sama riil nya dengan benda-benda fisik). Bahkan, sebagian mereka memandang yang pertama (metafisik) lebih hakiki daripada yang terakhir (fisik). Kalau ilmuwan modern membatasi dirinya pada hal-hal yang bersipat indrawi, lingkup ilmu islami meliputi tidak hanya bidang-bidang yang bersipat fisik tetapi juga metafisik, seperti Tuhan, malaikat, Alam Kubur, dan Alam Akhirat tanpa mengesampingkan bidang-bidang yang menjadi perhatian ilmuwan barat, yakni ilmu-ilmu alam.
Pembatasan lingkup ilmu oleh ilmuwan-ilmuwan Barat modern hanya pada objek-objekj indrawi pada awalnya, mungkin merupakan pembagian kapling antara “Akal dan Agama”. Tetapi lambat laun pembatasan ini ternyata telah menjadi pembatasan atau definisi dari realitas itu sendiri seperti paham materialisme, sekulerisme, dan positivisme, yakni pandangan-pandangan filosofis yang biasanya berakhir dengan penolakan realitas metafisik atau alam ghaib. Pemisahan ilmu dari aspek keagamaan ini pada gilirannya telah menimbulkan problem teologis yang krusial, karena lama-kelamaan banyak ilmuwan Barat tidak merasa perlu menyinggung atau melibatkan Tuhan sedikitpun dalam penjelasan keilmuan mereka. Bagi mereka , Tuhan seolah-olah telah berhenti menjadi apapun, termasuk menjadi pencipta dan pemelihara alam semesta. Sebagai contoh Pierre Simon de Laplace (w. 1827) dalam karyanya tentang proses kejadian Alam dan mekanisme benda-benda angkasa, “Celestial Mechanics” Laplace tidak menyinggung sama sekali Tuhan, kepercayaanya pada metode observasi sebagai satu satunya sumber ilmu yang sah. Penolakan terhadap Tuhan atas nama ilmu juga terjadi pada Charles Darwin (w.1882), ahli biologi yang terkenal karena teori evolusinya awalnya ia seorang pemeluk Kristen yang taat berkat pengaruh karya Willliam Paley, yang berjudul Natural Theology, dinyatakan bahwa fenomena alam yang teratur dan harmonis ini tidak lain hanyalah bukti adanya Tuhan. Namun, setelah menemukan apa yang disebutnya sebagai hukum seleksi alamiah (natural selection). Darwin tidak lagi mempercayai argumen tersebut dan kemudian menolak keberadaan Tuhan.
Comments
Post a Comment