PROYEK PEMBANGUNAN KADER HIMA PERSIS


Pembangunan mengimplikasikan aktivitas yang diarahkan menuju sasaran tertentu. Meskipun sering dekat dengan makna fisikal seperti kalimat, “Aku sedang membuat bangunan”.  Secara tidak sadar dalam semua kerangka pembangunan, ukuran keberhasilan yang di maknai ialah pendirian infrastruktur yang bentuknya material dan fisikal. Kata pembangunan sendiri, bukan dari bentuk kata “bangunan”, tapi berasal dari kata “bangun” menjadi pem-bangun-an. Kita asumsikan bahwa pembangunan yang bersifat mekanistik dan fisik, maknanya mengarah kepada bangunan-bangunan. Maka pembangunan menyiratkan aktivitas kerja dalam pembangunan fisik saja tidak bicara soal aktivitas pembangunan mental, karakter, dan spirit. Sedangkan dalam bahasa Inggris, pembangunan : development artinya sesuatu yang berkembang dari potensi menuju aktualitas; the unfolding of realities from potentialities.[1]
Aspek pembangunan dalam pengertian modern berkaitan dengan kesejahteraan manusia, kemajuan kota, bangsa, ataupun Negara. Sedangkan menurut Islam, manusia dalam segala aktivitasnya musti dilaksanakan sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana yang telah terpola di dalam hukum Ilahi (syariah) sejauh menyangkut dengan norma-prinsip yang termuat di dalam wahyu. Al-Qur’an menjelaskan dalam sebuah ayat, “Sungguh, akhirat itu  lebih baik bagimu daripada dunia ini.” (QS.An Nahl, 16:30). Karenanya, gagasan modern tentang pembangunan yang sangat materialis dan murni ekonomi, mengganggu keseimbangan Islami antara aspek-aspek spiritual dan material kehidupan manusia dan kebutuhan untuk hidup dan menjadi aktif dengan kesadaran penuh akan tujuan-tujuan akhir manusia. Pembangunan modern, yang pro terhadap industrialisasi sampai pada tahap rusaknya basis struktur organic masyarakat.[2]
Pembangunan sebagaimana dipahami oleh kader, ialah bagaimana HIMA PERSIS melakukan aktivitas pembangunan mental, karakter, dan spirit kader secara berkala dan berkelanjutan melalui tradisi Intelektual dan basis spirit moralitas yang mapan.
Dan proyek pembangunan sebagaimana berlangsung sepanjang sejarah[3], selalu mempengaruhi hubungan antara manusia dan alam, dan akhirnya manusia dan Allah. Kecenderungan antropomorfik yang didasarkan terrestrial dan kesejahteraan duniawi, sebuah filsafat yang bertolakbelakang dengan teomorfik Islam. [4]
Manusia  yang terpengaruh oleh pandangan ini cenderung melihat masyarakat bukan sebagai umat (komunitas agama yang mesti dibimbing, diayomi serta diatur oleh hukum Allah) tapi sebagai komoditas. Melihat alam, bukan sebagai ciptaan Allah guna dikotemplasikan dan diakrabi secara harmonis. Namun, alam menjadi objek penelitian untuk di eksploitasi. Pada akhirnya, manusia memandang Allah bukan lagi sebagai dzat yang Maha Kuasa yang mendominasi setiap momen kehidupan umat manusia, dimana manusia bertanggung jawab atas setiap perbuatan dan tindakannya. Paling standar, memaknai Allah sebagai dzat yang mengamati ciptaan Nya (manusia) dari jarak yang sangat jauh.
Wa Allahu A’lam bi showab.

PENDIDIKAN DAN SAINS ISLAM; ILMU, IMAN DAN TAQWA
Mengetahui banyak yang telah terjadi atas capaian umat Islam di era berkembangnya peradaban Islam tampaknya akan sulit dijelaskan panjang lebar. Karena, memerlukan berjilid-jilid buku untuk menceritakannya. Pendidikan maupun sains Islam dikala peradaban Islam yang terjadi ratusan tahun lalu hakikatnya berkarakter Islami, baik dari peradaban Islam di Timur (Mesir, Persia, Arab) ataupun peradaban Islam di Barat (Andalusia, Cordoba atau Turki) dan di seluruh dunia.
Ilmu pengetahuan bak organisme hidup yang berwujud peradaban Islam telah mencerna, menelan bermacam-macam jenis pengetahuan; dari Athena sampai ke China. Proses mencerna pengetahuan hingga menjadi begitu ‘Islami’ adalah bukti bahwa semua tidak diterima mentah-mentah oleh para agamawan, filsuf, ilmuwan atau saintis Islam. Kesemuanya berkaitan dengan prinsip-prinsip wahyu Islam dan semangat Al-Qur’an.  Karena akar dari pengetahuan adalah kitab suci, meskipun pengetahuan tersebut tidak diuraikan se detail-detailnya. Pemahaman tersebut tentu tidak mereduksi kesakralan kitab suci malah sebaliknya. Al-Qur’an adalah bacaan juga “kumpulan” menurut beberapa mufassir, Al-Qur’an adalah gudang yang di dalamnya terkumpul semua permata kearifan.
Seperti penamaan Al-Qur’an yaitu Al-Furqan dimaknai sebagai “pembeda”, sebagai instrument yang kokoh pengetahuan dimana kebernaran dibedakan dari kepalsuan. Al-Qur’an adalah Ummul Kitab maksudnya, “Induk dari semua Buku” karena semua pengetahuan otentik yang terkandung di dalam semua buku pada akhirnya terlahir dari Inrinya. Al Huda, maksudnya “Petunjuk” sebab di dalamnya termuat bukan hanya bimbingan moral tetapi juga bimbingan pendidikan pada seluruh manusia dalam pengertian yang paling mendalam dan juga paling kompherenshif. Al-Qur’an merupan alpha dan omega dari pendidikan dan Sains Islam sebagai inspirasi dan pemandu manusia.
Pengetahuan dan Sakralitas
Di dalam Islam, pengetahuan selalu disatukan dengan yang sacral. Segala hal pengetahuan mempunyai karakter religious yang mendalam, bukan saja karena objek setiap pengetahuan diciptakan oleh Allah. Sebab mengetahui berupa intelegensi merupakan karunia Allah; fakultas yang secara adikodrati alamiah dimiliki mikrokosmos manusia, sampai kategori logika adalah refleksi kecerdasan Ilahi pada tataran pikiran manusia.
Pun halnya, pendidikan Islam tidak pernah memisahkan pelatihan pikiran dari pelatihan jiwa dan keseluruhan pribadi seutuhnya. Pengetahuan yang di dapatkan dengan berbagai cara memperolehnya, secara absah jika tanpa dibarengi oleh pemerolehan kualitas moral dan spiritual akan sangat berbahaya.  Seorang penyair Persia, berkata “Andai pencuri datang dengan sebuah lampu, pasti dia akan berhasil mencuri barang-barang yang lebih berharga.”
Proses membaca dan menulis dilihat sebagai aktivitas religious. Dalam surat Al-Alaq (sebagai firman pertama), “Bacalah dengan nama Tuhanmu!” ataupun dalam surat Al-Qolam yang artinya, “Pena”. Maka dahulu, ketika ditemukan mesin cetak pertama oleh ilmuwan Islam, karena mengaikatkan hal tersebut dengan hal yang sacral terjadilah peradaban yang luar biasa. Kemajuan di berbagai bidang Ilmu Pengetahuan sains; fisika, kimia, geografi, kedokteran farmakologi, teknologi; arsitektur, alat-alat modern, peralatan perang, peralatan canggih dll dari peradaban Islam telah menginspirasi Barat untuk maju dan menduplikasi (selain kini telah mengambil alih) kemajuan peradaban Islam.
Krisis dunia Islam kontemporer berurat akar dari persoalan pendidikan Islam hari ini. Bagaimana gemerlap dan cahaya terang pengetahuan Islam di masa lampau, redup karena umat Islam jauh dari tradisi Intelektual Islam sesungguhnya. Jenis pengetahuan yang menjadi kunci dalam pendidikan Islam ialah “Idrak” atau persepsi tentang Allah, suatu pengetahuan yang bagaimanapun tidak akan dicapai kecuali melalui iman yang kokoh. Kekuatan iman adalah prasyarat bagi system pendidikan membentuk karakter Islami. Penguatan ini tidak akan bermakna tanpa pendidikan moral, yang sering disebut dengan iman dan taqwa. Selain itu pula, penting untuk kemudian pendidikan Islam melihat kontruksi bangunan para filosof-filosof Islam yang tidak berpusat dalam filsafat Islam tetapi juga sains Islam. Pandangan-pandangan para filosof Islam tentang pendidikan menyerupai cabang yang penting dari pohon tradisi Intelektual Islam yang akar-akarnya tertanam dalam ajaran-ajaran  Al Qur’an dan Hadits. Tidak begitu mendalam kepedulian yang cukup serius untuk melewatkan warisan ilmiah intelektual Islam lampau, padahal Barat telah lebih dahulu dengan licik mencurinya dari Islam. Padahal, jangkauan dan universalitas serta signifikansi konsep-konsep brilian tentang pendidikan Islam yang luar biasa lahir dari mereka. Siapakah para pelanjutnya? Kader jawaban nya.
Wa Allahu A’lam bi Showab.
Referensi : S.H. Nasr, Pendidikan, Filsafat dan Sains Islam Pendalaman dibawah Sinaran Tantangan-Tantangan Masa Kini, Bandung; Pustaka. 1994.




[1]Dalam hal lain, berasal dari kata bangun artinya berdiri tegak, aktif. Lawan dari kata pembangunan adalah kata kemunduran dan kelemahan. Bisa juga, dimaknai lawan kata bangun yaitu duduk. Lihat. Wan Mohd Nor Wan Daud, Pendidikan Tinggi dan Pembangunan Perspektif Islam artikel dalam buku Membangun Peradaban dengan Ilmu, Depok : KALAM UI.thn.2010.
[2]Ketertindasan rakyat atas dirampasnya hak, dan bagian mereka dalam kehidupan imbas dari pembangunan yang dekonstruktif. Lihat. S.H.Nasr, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, Bandung: Pustaka, thn.1994.hlm.117.
[3] Mengalami kemajuan  dalam pembangunan system dan struktur berjejaring merupakan bagian dari kebutuhan pembangunan HIMA PERSIS (perluasan wilayah dan pertambahan kuantitas kader HIMA PERSIS di berbagai wilayah) relasi ke elite dan sebagainya. Tanpa terjadi nihilisme terhadap  entitas sejati dari pembangunan yaitu hadirnya mentalitas karakter sejati, “Ulul Albab”.
[4] Selengkapnya lihat. S.H. Nasr dalam artikelnya Nilai dan Pembangunan di Dunia Islam Kontemporer, dalam buku, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, Bandung: Pustaka, thn.1994. hlm.118-119.

Comments

Popular Posts