TENTANG PESANTREN PERSATUAN ISLAM CIBEGOL 34 SOREANG-KABUPATEN BANDUNG


 Bismillahirrahmaanirrahim.
 Tulisan sederhana tentang Pondok Pesantren tempat ana dulu belajar dari tahun 2007-2011 di tingkat Muallimin (setara MA), tulisan sederhana ini tidak bisa mempresentasikan sekaligus menjadi tulisan yang mewakili bagaimana Pesantren Persatuan Islam Cibegol ini sebenarnya. Tulisan ini hanya sekedar ulasan pengalaman ana pribadi belajar di sana dalam sudut pandang subjektif. Maka tulisan ini, ana anggap penting sebagai bentuk tasyakur bi ni'mah mendapatkan mutiara ilmu dari para asatidz tercinta serta pengalaman berharga dari rijaalul ghad (kakak kelas, seangkatan, maupun adik kelas) yang sama-sama berjuang dalam jihad fi Tholabil Ilmi.

                                                                                    ***
Sebagaimana "khasnya" pondok pesantren pada umumnya, Zamakhsyari Dhofier memberikan ciri khusus dari pondok pesantren. Pondok Pesantren terdiri atas beberapa pilar diantaranya kyai, santri, masjid dan kitab kuning. 
        Kyai. Pondok Pesantren Persatuan Islam Cibegol dipimpin oleh al Ustadz KH.M Romli, seorang ahli hadis dan ulama kibar Persatuan Islam. Keberadaan al Ustadz Romli menjadi vital selain sebagai figur pimpinan Pesantren, beliau juga rutin men-tahdis satu hadis beserta sanadnya tiap Kamis pagi saat baiat santri. (Alhamdulillah, angkatan kami sempat talaqqi dengan beliau di les sore membahas kitab Nubdzah Aqidah Syekh Utsaimin, dan Tafsir Ibnu Katsir di kajian Ahad pagi). Di kelas al Ustadz mengampu pelajaran Tafsir Ahkam, dan nilai santri tidak ada yang keluar setiap selesai ujian (karena tidak ada yang "sesuai standar") dari pelajaran yang beliau ampu. Keluasan ilmu, dan kharismatiknya al Ustadz; bisa digambarkan dari ilmu yang beliau sampaikan (penjelasan yang masih ingat dari ulasan beliau adalah; kasus status rawi Syarik bin Abdullah an Nakhai dalam hadis kaifaiyat turun untuk sujud, beliau ulas bahwa Syarik meriwayatkan sebelum ikhltilath (sering disebut pikun) sebelum Syarik menjadi qadi di Kufah) sedikit mengutip penjelasan al Ustadz Hamdan (guru al hadis di Pesantren Cibegol) bahwa seorang ulama memiliki dzauq. Kepekaan atau insting yang lahir dari proses panjang penelaahan terhadap ilmu agama, sehingga mampu memecahkan persoalan agama secara tepat. Kharismatiknya beliau, sampai para santri segan untuk bertemu dengan beliau (saking takutnya jika ditanya tak mampu menjawab). Maka timbullah rasa hormat dan rasa cinta terhadap beliau atas pengorbanan beliau di jalan ilmu dan dakwah Islam. Barakallah y ustadz.. Semoga sehat selalu.. 
        Santri. Santri di Pondok pesantren Persatuan Islam Cibegol terbagi pada dua; santri asrama (mondok) dan santri luar asrama (bujeng). Santri asrama pada saat itu, berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat (Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Bogor dll) maupun luar daerah sampai lintas pulau (Sumatera, NTT,NTB dll). Keberadaan santri yang heterogen, menyebabkan seringkali terjadi konflik karena adat dan kebiasaan yang berbeda. Maka tak lazim, santri asrama akhirnya dipaksa secara kultural menjadi sosok yang lebih 'terbuka' karena perbedaan-perbedaan tsb selain karena aktivitas sehari-hari yang dilakukan secara bersama-sama. Maka tidak mungkin, jika konflik terus di rawat dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas santri di asrama semacam menjadi laboratorium persiapan bagi santri di kehidupan nyata. Selama menjadi santri, di Pesantren Persatuan Islam Cibegol sebenarnya tidak ada sistem khusus yang dibentuk oleh lembaga pesantren dalam mengontrol dan menjadikan santrinya berakhlaq mulia. Karena pendidikan akhlaq lahir dari keteladanan para pengurus asrama baik dari pembimbing asrama, santri (kakak kelas, seangkatan, dan adik kelas), maupun lingkungan masyarakat sekitar pesantren. Keteladanan yang lahir dari lingkungan pesantren menjadi harmoni yang turut membentuk karakter santri dalam sikap pribadi maupun sosial. Pendidikan Akhlaq pun termanifestasi dalam ketaatan terhadap ajaran-ajaran agama; seperti aktivitas sholat, pergaulan sehari-hari yang dilandaskan adab.  Nilai-nilai kebaikan seorang santri seperti; perilaku sopan, terpuji, jujur, semangat dan inovatif hasil dari pengalaman belajar tafsir (menyelami penafsiran ulama dan memahami makna dari ayat-ayat Al Qur'an), mempelajari hadis (mengetahui jalan kehidupan Nabi dalam berbagai hal). Sikap disiplin seorang santri lahir dari belajar fiqih, ushul fiqih ataupun nahwiyah (yang ketat dan harus tepat menempatkan hukum), didaktik (konsep mengajar yang profesional) dan banyak hal lain yang dipelajari oleh santri.
      Sebagai seorang santri ; keteladanan dalam "mewujudkan perilaku Qur'an dan As Sunnah", menjadikan pemikiran, perilaku, dan pengalaman hidup senantiasa membimbing sehingga memberikan kesadaran bahwa penting menjalankan ajaran Islam yang sesuai Al Qur'an dan As Sunnah.
           Mesjid. Mesjid adalah pusat dari pembelajaran dan pusat "kehidupan" santri sesungguhnya. Maka konsep masjid sebagai "tempat penggemblengan umat" di masyarakat ialah benar adanya. Selama belajar di pondok pesantren Persatuan Islam Cibegol, santri selain ibadah mereka membaca Al-Qur'an, mengkaji kitab (les pagi & sore), dan tidur (sebagian ada yang tidur) di mesjid. Hal tersebut, menjadi awal dari pembiasaan untuk senantiasa mencintai dan memakmurkan mesjid.  Syaabun Nasa'a fi Ibaadatillah, atau Rojulun  Qolbuhu Muallaqun fil Masjid adalah motivasi yang menjadi pegangan bagi santri ketika masih di pesantren dan setelah selesai dari pesantren. Sempat pada suatu hari, pada saat les sore Tafsir Ibnu Katsir oleh Ustadz Hamdan, mesjid ketika itu mengalami kebocoran sehingga ketika itu les di hentikan mendadak. Mungkin berbeda jauh dengan kondisi masjid pesantren hari ini. Di masjid Pesantren Persatuan Islam Cibegol, banyak sekali kisah seperti pertama kali menjadi Imam bagi seluruh santri yang tidak kurang berjumlah ratusan; gabungan tingkat Tsanawiyah dan Muallimin, setelah menjadi Imam shalat Isya dilanjutkan duduk diatas mimbar untuk memberikan khutbah singkat setelah itu di komentari oleh Bidang Tarbiyah Asrama dan dilemparkan materi khutbah tersebut menjadi pertanyaan-pertanyaan untuk semua santri. Mesjid juga menjadi saksi betapa lamanya satu rokaat sholat (ada teman di pondok baca satu juz dalam satu rakaat), dan mesjid menjadi tempat yang paling nyaman untuk menghafal pelajaran diluar dari asrama itu sendiri. Pengalaman-pengalaman tersebut terasa amat berharga, tatkala harus berhadapan dengan tanggung jawab "sebenarnya" di masyarakat. Mentalitas, keberanian, dan kesiapan untuk menjadi pendamping umat dalam tugas-tugas keagamaan. Misalkan menjadi seorang imam di mesjid, mengisi ceramah-khutbah, serta melakukan aktivitas pendidikan di mesjid menjadi guru MDA, terlibat aktif menjadi pemakmur dan pengurus mesjid. Sudah seharusnya mesjid kemudian, di garap dan di kelola oleh para santri, bukan atas dasar penunjukan namun berdasarkan kesadaran santri tersebut manifestasi dari keimanan hasil dari pendidikan yang ditempuh di pondok pesantren.
          Kitab Kuning. Turats atau kajian klasik di pesantren Persatuan Islam Cibegol menitikberatkan tidak hanya penguasaan qaidah namun sudah pada aspek praktek atau Bahtsul Masail (studi kasus). Maka persoalan-persoalan keagamaan dalam aspek aqidah, ibadah, dan muamalah di selesaikan oleh turats. Bukan hanya pandai membaca kitab kuning (ilmu alat) tapi juga santri mampu membedah referensi utama dalam kajian Al-Qur'an dan As Sunnah pada kitab-kitab kuning dengan pendekatan holistik. Hadirnya Pesantren Persatuan Islam Cibegol adalah lembaga yang akan menjadi lembaga kaderisasi bagi para alim ulama, umara-zua'ma, yang memiliki sifat pendidik (muallimin); menjadi pakar di bidangnya seorang fuqaha, ushuli, dan ahl hadis dengan pembelajaran utama ilmu-ilmu keagamaan diluar itu Ilmu Eksak dalam rumpun IPS juga diajarkan seperti Ekonomi, Sosiologi, Psikologi, Antropologi, MTK, Bahasa Inggris, Didaktik, dll. Di bawah ini referensi kitab kuning yang dipelajari di Pesantren Persatuan Islam Cibegol tingkat Muallimin, baik itu dengan metode hafalan ataupun hanca (kajian) :


1. Syarh Kitab Tauhid Fathul Madjid karangan Asy Syeikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syeikh.
2. Kitab Shafwatu At Tafasir karangan Syeikh Ali As Shabuni
3. Kitab An Nahwu wa Ash Sharfu karangan Syeikh Ahmad Salabi
4. Kitab Ushul Hadis karangan Syeikh Ajjaj Al Khatib
5. Kitab At Taisir Musthalah Al Hadis karangan Syeikh Mahmud At Thahan
6. Kitab Tafsir Al Qur'anul Azhim karangan Imam Ibnu Katsir
7. Kitab Fathl Al Baari Syarh Kitab Al Bukhari karangan Imam Ibnu Hajar Al Asqolani
8. Kitab Jami’ Ash Shahih Al Bukhari karangan Imam Bukhari
9. Kitab Bulughul Maraam karangan Imam Ibnu Hajar Al Asqolani
10. Kitab As Subulus Salam Syarh Bulughul Al Maraam karangan Imam Ash Shon'ani
11. Kitab Al Muyassar (hijau, kuning) karangan Aceng Zakariya
12. Kitab Ar Rhowa'iul Bayan min Tafsir Ayatil Ahkam karangan Syeikh M Ali Ash Shabuni
13. Kitab Al Hidayah fi Masail Fiqhiyyah karangan KH.Aceng Zakariya
14. Kitab Ushul Fiqih As Sulam, Al Bayan karangan Syeikh Abdul Hamid Hakim
15. Kitab Nubdzah Aqidah karangan Syeikh Utsaimin
16. Kitab Nailul Authar karangan Imam Asy Syaukani
17. Kitab Jami'u Durus karangan Syeikh Mustafa Al Ghulayaini
18. Kitab Al Mantiq karangan KH.Aceng Zakariya
19. Kitab Al Ma'ani karangan (lupa lagi)
20. Kitab Bahrul Adab Muthola'ah karangan asatidz di Mekkah
21. Kitab Al Faraidh karangan KH. Aceng Zakariya
22. Kitab Jarh wa Ta'dil karangan Syeikh Ibnu Abi Hatim Ar Razi
23. Kitab At Tahdzhibu at Tahdib karangan Imam Ibnu Hajar Al Asqolani
24. Kitab Hadyu Ar Rasul karangan KH.Aceng Zakariya

                                                          ****
Mungkin sekian, dari apa yang ana alami selama pembelajaran di Pesantren Persatuan Islam Cibegol. Tidak ada yang sempurna, dan pasti banyak kekurangan dari tulisan sederhana ini. Semoga apa-apa yang Pesantren Persatuan Islam Cibegol (lembaga, asatidz, warga pesantren) berikan bagi seluruh angkatan menjadi jariyyah bagi para pendiri, pimpinan, para asatidz  menjadi ilmu yang bermanfaat menjadi jariyah sampai ke akhirat. Aaamin. Jazaakumullah Khairan Katsiraan.

" Fa Aina Tadzhabun?"
            
di dalam asrama laki-laki selesai belajar di kelas

boleh cash hp saat selesai Ujian Tulisan dan Ujian Lisan saat dan menjelang Haflah Imtihan

makan melingkar di asrama (diluar kantin) pake piring sendiri

selesai belajar (rehat)
saat baiat 

saat baiat


Asrama laki-laki

masjid Cibegol versi lama


Comments

Popular Posts