ESENSI IMAN DAN ISLAM

Oleh : Dilan Imam Adilan
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ كِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ .....
Takhrij Hadist
1. Shahih Muslim kitab Iimaan bab Al-Iimaanu maa huwa wa bayan hisoluhu no. 97.
2. Shahih Bukhari kitab Iimaan bab Suila jibrila Nabiyya Sallallahu alaihi wasallama anil Iimaan wal Islam wal Ihsaan wa Ilmu Sa’aah no. 50 dan kitab At-Tafsiir bab Innallaha indahu ilmu Sa’ah no. 4777.
3. Shahih Ibnu Majah dalam Muqaddimah, bab Fiil lIimaani bi tamimihi no. 64 dan kitab Al-Fitan bab Asyroti Sa’ah biba’dihi no. 4044.

Matan Hadist
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ كِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا كَانَتْ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ }
قَالَ ثُمَّ أَدْبَرَ الرَّجُلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُدُّوا عَلَيَّ الرَّجُلَ فَأَخَذُوا لِيَرُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ دِينَهُمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari berada di hadapan manusia, lalu seorang laki-laki mendatanginya seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan yang akhir'. Dia bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ' Beliau menjawab, 'Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat yang wajib, membayar zakat yang difardlukan, dan berpuasa Ramadlan.'
Dia bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.' Dia bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? ' Beliau menjawab, 'Tidaklah orang yang ditanya tentangnya lebih mengetahui jawaban-Nya daripada orang yang bertanya, akan tetapi aku akan menceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya; yaitu bila hamba wanita melahirkan tuan-Nya.
Itulah salah satu tanda-tandanya. (Kedua) bila orang yang telanjang tanpa alas kaki menjadi pemimpin manusia. Itulah salah satu tanda-tandanya. (Ketiga) apabila penggembala kambing saling berlomba tinggi-tinggian dalam (mendirikan) bangunan. Itulah salah satu tanda-tandanya dalam lima tanda-tanda, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam membaca: '(Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan-Nya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal) ' (Qs. Luqman: 34). Kemudian laki-laki tersebut kembali pergi. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Panggil kembali laki-laki tersebut menghadapku'. Maka mereka mulai memanggilnya lagi, namun mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Ini Jibril, dia datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka'.

Syarah Mufradat
Al-Iimaanu
Dalam kamus Al-Munawiir al Iimaanu berasal dari akar kata amunu- ya’munu- Amaanatan yang artinya jujur, atau amanat. Sedangkan makna asalnya menurut Ar-Raghib Al-Asfahani ialah :
اصل الامن طما نينة النفس و زوا ل الخوف
Asal makna iman adalah tentramnya jiwa dan hilangnya rasa takut.
(Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, hlm. 33 )
Dan dalil al-Qur’an yang digunakan adalah :

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS. Al-Baqarah ayat 125 ).

Dan penggunaan kata al- Iimaan kadang digunakan untuk syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, berdasarkan firman Allah SWT :

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Maaidah ayat 69)

Dan disifatkan dengan Iman adalah setiap orang yang masuk pada syariat yang ditetapkan Allah dan dengan kenabian Muhammad SAW, berlandaskan firman Allah SWT :

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (QS. Yusuf ayat 106 ).
Ar-Raghib Al-Asfahani menjelaskan bahwa Al-Iimaan itu ialah sesuatu yang timbul dari keyakinan, berupa ucapan jujur, dan amal sholeh berfirman Allah Ta’ala :

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
(QS. Al-Baqarah : 143)
Menampakan rasa malu dan membersihkan kotoran termasuk dari iman :

.Mereka berkata: "Wahai ayah Kami, Sesungguhnya Kami pergi berlomba-lomba dan Kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang Kami, lalu Dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada Kami, Sekalipun Kami adalah orang-orang yang benar. (QS.Yusuf ayat 17)
Keimanan itu letaknya dalam hati, maka apabila terpaksa/dipaksa olehorang kafir sekalipun bila hatinya tentram maka itulah yang disebut iman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.(QS. An-Nahl ayat 103).

Makna Iman yang berkaitan dengan hadist ini, yaitu digunakan sebagai bentuk keyakinan yang terkumpul padanya tiga ketentuan yaitu membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengerjakan dengan anggota badan, dan atas ucapan ini berlandaskan firman Allah SWT :
وَالَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ..
Dan orang-orang yang beriman terhadap Allah dan Rasulnya mereka itulah orang-orang yang membenarkan... (QS. Al-Haadid ayat 19)

Syarah Ijmali
Yang menjadi pilar dalam Arkanul Diin (Rukun-rukun Agama) itu ada tiga yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Iman merupakan A’malul Qolb/Bathin (pekerjaan hati) mencakup padanya aqidah/tauhid, adapun Islam adalah A’malul Dzaahir (pekerjaan yang tampak) mencakup padanya ibadah atau fiqih. Dan terakhir Ihsan mencakup padanya sifat ikhlas hubungan antara pencipta dan mahluq sebagai ciptaanNya dan juga adab. Mungkin dapat kita bedakan, bahwa tidaklah setiap muslim itu seorang mu’min, akan tetapi sebuah kemutlaqan bahwa setiap mu’min itu pasti muslim. Berlandaskan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujuurat ayat 14 :

Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Yang pertama, ucapan beriman kepada Allah, pertemuan dengan Nya, dan beriman kepada hari akhir (kebangkitan), merupakan peringatan keras bahwa orang yang beriman akan dibangkitkan, serta dipertanggung jawabkan semuanya. Dan hanya orang-orang berimanlah yang akan mampu melihat Allah SWT. Kedua, ucapan Islam adalah beribadah tidak syirik dengan sesuatupun, mengerjakan shalat dll(sampai akhir). Sholat itu ditentukan waktu-waktunya berdasarkan firman Allah SWT :


Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Niisa ayat 103)

Makna mendirikan sholat ada dua ucapan : salah satu dari keduanya adalah mendawamkannya dan menjaga sholat, dan kedua adalah menyempurnakannya. Dan berkata Abu Ali al-Farisi yang pertama paling pas. Dan sholat yang paling afdhol setelah sholat wajib adalah sholat malam, dan adapun zakat adalah sesuai kadar ukurannya sesuai dengan jenis zakatnya. Zakat yang wajib yaitu zakat fitrah. Shaum Ramadhan adalah syariat yang telah ada sejak nabi Ibrahim dan ibadah ini hanya dikhususkan pada bulan Ramadhan.

Dan makna ihsan adalah bentuk pengabdian kita kepada Allah dengan semurni-murni nya seolah olah kita melihat langsung Allah ataupun jika kita tidak mampu melihatnya kita senantiasa merasa diawasi dan terjaga. Sebenarnya, tiga pilar ini tidak akan mampu terlepas Iman adalah landasan aqidah, Islam landasan ibadah dan Ihsan adalah pengokoh dari Iman dan Islam.
Kita bisa melihat realitas sekarang, kalaulah kita cek data jumlah penduduk masyarakat Indonesia saat pemerintah mengadakan sensus penduduk Indonesia, hasil data yang akurat dan faktual membuktikan bahwa banyak yang tertera di KTP masing-masing penduduk Indonesia beragama Islam. Namun faktanya sekarang diluar sana, diujung desa yang mayoritas islam sekalipun masjid selalu sepi, jamaah jum’at pun seolah lupa dan tutup telinga rapat-rapat saat adzan jumat berkumandang apa yang didapat mereka yaitu rezeki yang diturunkan Allah SWT tak dihiraukan lagi, materialisme sudah menjalar sampai ke kalangan grass root untuk apa lagi kita shalat ?
Seseorang yang beriman tentu yakin terhadap Allah dan akan sebuah perjumpaan dengan Nya, tepat pada hari setelah kebangkitan ketika di hisab. Dan hanya orang berimanlah yang khusus dapat melihat Allah SWT. Hari kebangkitan merupakan hari dibongkarnya kedok nyata manusia apakah dia benar-benar beriman atau tidak ? pada hari itu dipertanggung jawabkan sebab keluarnya manusia ke dunia semenjak dia diutus dari rahim - rahim. Dan keluarlah manusia dari kubur untuk dikumpulkan dan dipertanggung jawabkan keseluruhan amalnya. Amalan yang dipertanggung jawabkan kelak adalah keislamannya bentuk ketaatan dan ketundukannya terhadap perintah Allah SWT berupa ibadah hanya kepadanya (tidak syirik) mendirikan sholat lima waktu, menunaikan zakat, dan shaum ramadhan yang kesemuanya merupakan ibadah suatu ketaatan mutlaq. Mengapa ada perintah untuk tidak menyekutukan Allah ? Sebab, tidaklah berbeda orang-orang kafir sama keadaan mereka beribadah kepada Allah, akan tetapi melalui perantaraan berhala (patung), maka seorang yang beriman tentu akan senantiasa beribadah kepada Allah dengan hanya mengEsa kan-Nya .

Comments

Popular Posts