TOTALITAS TAUBAT



Dalam sebuah HR.Muslim dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu : Rasulullah sawalawllahu alaihi wasallama bersabda, :”Dan demi jiwaku yang ada ditangan Nya ! Kalaulah ada satu kaum yang tidak pernah berdosa, maka aku akan membinasakannya. Dan akan aku datangkan satu kaum para pendosa, mereka beristighfar(memohonkan ampunan) kepada Allah, maka Allah akan mengampuninya.(Syarah Muslim an-Nawawi kitabu Taubat,”Bab Suquti Dzunuubi bil Istigfhari, taubatan“ hadist no.6899)
Hari ini kita masih berdiri diatas tanah /jembatan hidup menuju akhirat, kita bisa tiba-tiba saja roboh seperti halnya jembatan Tenggarong di Kutai Kartanegara. Hari ini kita diliputi kegelisahan dan hasrat yang memuncak hingga akal tak berfungsi, kita bisa saja berani bakar diri seperti saudara kita Sondang Hutagalung. Hari ini kita bisa saja berani jahit mulut menuntut pemerintah, bingung menyuarakan aspirasi dan buntu atas derita hidup, efek dari ekonomi yang menyengsarakan rakyat. Ada yang salah mungkin dengan masyarakat kita ?? Masyarakat kita sudah lapuk oleh permasalahan hidup yang tidak henti mendera, tidak terpecahkan dan seperti tidak pernah mendapatkan solusinya.
Apa ada penghalang antara kita dengan sang maha pemberi solusi ? Jawabannya,”Iya” bisa jadi, terdapat batas penghalang sehingga doa kita tak mampu menembus langit sampai kepada Rabb, solusi tak kunjung datang, masalah semakin rumit dan banyak. Dalam kitab Bahjatun Naadziriin syarah Riyadhus Shalihin, penghalang antara hamba dengan rabbnya adalah maksiat yang kita perbuat, yang menjauhkan kita dari keselematan dan kebahagiaan, dan tiada seorang yang mampu menyelamatkan kecuali Allah Subhana Wa Ta’ala. Sehari-hari kita tidur nyenyak, menikmati hiburan, canda tawa tiap malam. Sedikit demi sedikit hati kita pun mati lalu kita mudah melalaikan perintah dan larut dalam jurang maksiat.
Hanya satu yang perlu kita lakukan bersama-sama agar mendapat kembali petunjuk, Taubat kembali ke jalan Allah, “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung “. (QS. An-Nuur: 31). Dalam syarah Muslim An-Nawawi, hadist no. 6887 Kitabu Taubah Bab fil Haddi alaa Taubati Wal Farohi Bihaa. Sahabat Abu Hurairah menerima dari Rasulullah sallawlawlahu alaihi wasalam bersabda, “Demi Allah ! Allah sangat bergembira atas taubat seorang hamba, seperti bergembiranya seorang laki-laki yang menemukan kendaraanya yang hilang ditengah gurun pasir yang luas, dan barangsiapa yang mendekat kepadaku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, dan barangsiapa yang mendekat kepadaku sehasta, aku akan mendekat padanya sedepa, dan apabila dia menghadapku berjalan maka aku datang padanya berlari. Dan bersepakat para ulama bahwa bertaubat atas segenap perbuatan maksiat adalah wajib, wajib untuk menyegerakannya dan tidak membolehkan untuk mengakhirkannya baik itu maksiat kecil ataupun maksiat besar (Syarah Muslim Nawawi, Kitabu Taubat hadist.6887)
Kegembiraan Allah disana adalah keridhoannya, begitu menurut para ulama, karena kita tidak akan pernah sampai ke surga tanpa sedikitpun keridhoannya. Rukun taubat terdiri dari empat kunci yang akan menjadi inti solusi permasalahan hidup kita. Pertama, berlepas diri dari segala kemaksiatan yang pernah dilakukan. Kedua, menyesali atas perbuatan maksiat tersebut. Ketiga, Ber azam (bertekad dengan sungguh-sungguh )untuk tidak berani kembali terjerumus dalam lubang maksiat dan terakhir, adalah meminta ampunan/amnesti dari kalangan manusia apabila dosa yang kita lakukan adalah privacy sesama manusia.

Alangkah malu dan tidak tahu diri, apabila kita tidak pernah mau bertaubat ! manusia selevel nabi pun mereka bertaubat sebagaimana termaktub dalam Al-Quran :“Dan sungguh telah bertaubat kepada Allah subhana wa taala’ Nabi dan kaum Muhajirin....(QS.At-Taubah ayat 117). Taubat adalah konsekuensi logis yang harus dijalankan tiap manusia, meskipun pada hakikatnya juga allah menciptakan manusia pasti melakukan dosa (hadist no.6899). Nah, disinilah mungkin kedudukan Allah subhana wa taa’la sebagai pencipta manusia yang Rahmaan Raahiim ,Ghofuuru Rahiim serta Tawwaabu Rahiim dan masih banyak lagi.

Mungkin, zaman globalisasi sekarang ini tak ubahnya zaman jahiliyyah begitu gelap !!. Namun, seberkas cahaya itu selalu datang menghampiri kita. Sekarang, momentum untuk kita mengawali jejak langkah menuju kematian. Lihatlah ! sudut cahaya pintu-pintu masjid,cahaya kecil di lubang kotak infak, ataupun cahaya bulan di tengah malam bak ampunan yang datang tiap 24 jam. Serahkan totalitas kita untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya sebagaimana tersurat dalam Al-Quran : “Wahai orang-orang yang beriman ! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya, mudah-mudahan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan memasukkan kamu kedalam surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “ Ya Tuhan kami, sempurnkanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”(QS. Ath-Tahrim ayat 8). Kalau diakhir hayat hidup kita belum sempat untuk bertaubat, maka rugilah kita selamanya seperti halnya Fir’aun dan orang-orang kafir.
Wallahu a’lam bi Showaab.





Comments

Popular Posts