IMAM BUKHORI PROFIL DAN SEPAK TERJANG
A.Profil Imam Bukhari
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Abdil Hasan Ismail bin Ibrahim Al-Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhari Al Ju’fi beliau lahir pada hari Jum’at, 13 Syawal 194 H atau 19 Juli 810 M. Ayahnya meninggal ketika beliau masih ada dalam kandungan ibunya dia bernama Ismail ia seorang ulama besar pada zamannya dalam bidang hadist. Dia berguru kepada Hammad ibnu Zyad dan Imam Malik banyak hadist diriwayatkan kepada para muridnya yang kebanyakan dari Irak. Ayah Imam Bukhari adalah seorang yang ahli wara’ dan takwa, menjelang wafatnya beliau berkata, “ Didalam hartaku tidak terdapat uang yang haram atau yang subhat sekalipun”, dengan demikian jelaslah bahwa Imam Bukhari hidup dalam lingkungan keluarga berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak heran darah ulama mengalir di tubuh Imam Bukhari yang mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya yang begitu kental.
2. Kecerdasan dan keunggulannya
Salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada Al-Bukhari adalah kekuatan hafalan serta kecerdasan yang tak tertandingi di masanya. Bukti dari kecerdasan dan kekuatan hafalannya adalah beliau mampu menghafal dengan baik tidak kurang dari 100.000 hadist shahih , dan tidak kurang dari 200.000 hadist tidak shahih. Sejak kecil telah tampak kecerdasan Imam Bukhari, beberapa kitab karya ulama seperti Ibnu Al Mubarak (Guru ayahnya) dan Al Waqi mampu beliau hafal sebelum berusia 16 tahun selain paham ra’yu ushul dan madzhab mereka . Banyak majelis ilmu yang dihadiri para ulama menguji kemampuan Imam Bukhari. Atas kecerdasan dan keunggulannya itulah banyak orang pada masa itu mengakui Bukhari sebagai imam hadist.
3. Rihlah Fi Tholabil Ilmi
Semangat tinggi serta tekad kuat tholabul ilmi mendorong beliau untuk berpergian menempuh perjalanan jauh yang menguras tenaga, pikiran, dan waktu dengan tujuan ke berbagai penjuru negara. Beliau tidak merasa cukup hanya mempelajari dari guru-gurunya di Makkah dan Madinah saja, sejarah mencatat beberapa negara yang pernah di singgahi diantaranya : Baghdad, Kuffah, Syam, Himsh, Asqalan, Damaskus, Mesir, Naisabur dll. Perjalanan beliau dimulai bersama ibunya dan saudaranya Ahmad pergi ke Mekkah untuk menunaikan haji, pasca menunaikan haji ibu dan saudaranya kembali ke Bukhara , sementara Al Bukhari tetap tinggal di Mekkah untuk belajar hadist dari para “Muhadditsin“ seperti Abu Al Walid Ahmad ibn Muhammad Al Azraqi dan Ismail ibn Salim Al Shaigh hasil karya beliau mulai menetas di Madinah beliau sudah mampu mengarang dua buah kitab yaitu : Qadaya Al Sahabat wa Al Tabii’n sering disebut juga At Tarikh Al Kabir. Proses penulisan kitab At Tarikh Al Kabir dilakukannya di samping makam Rosulullah. Pernah pada sutu hari Muhammad bin Abi Hatim pernah berkata,” Saya bertanya kepada Bukhori,, “Bagaimana pertama kali anda mencari hadist?” dia menjawab.” Aku menjawab aku mendapat ilham untuk menghafal hadist ketika di perpustakaan “,Saya bertanya.”Berapa usia anda saat itu? ia menjawab kurang dari sepuluh tahun lebih sedikit, hal tersebutb membuktikan bahwa Imam Bukhari pertama belajar semenjak umur 11 tahun, yaitu pada tahun 205 H/ 821 M sampai umur 16 tahun yaitu tahun 821 M/ 210 H, Setelah itu mulailah Imam Bukhari mengadakan ekspedisi Rihlah fi tholabil ilmi nya ke berbagai Negara, beliau dalam perjalanannya menghimpun serta mencatatkan hadist dari tiap tempat yang beliau singgahi.
4. Guru beliau
Secara keseluruhan jumlah guru Imam Bukhari yang tercatat ada 1080, adapun nama-nama mereka diantaranya adalah: Imam Ahmad bin Hanbal, Qutaibah bin Said, Ishaq bin Rakhawaih, Ali bin Al Madini, Sulaiman bin Harb, Khalid bin Makhlad, Ibrahim bin Hamzah Az-Zubairi, Abu Nadlr Ishaq bin Ibrohim Al- Faradisi dll. Adapun guru yang terkenal adalah : Abu A’shim An-Nabil, Al- Anshari, Maki bin Ibrahim, Ubaidillah bin Musa, Abul Mughiroh dll.
Begitu juga dengan murid Imam Bukhari yang pernah meriwayatkan hadist dari beliau diantaranya : Imam Tirmidzi ( Abu Isa Muhammad ibn Isa Al Turmudzi), Abu Zu’rah Ubaidullah bin Abdil Karim Al-razi, Ibrahim bin Musa Al Jauzi, Ibrahim bin Ma’qil An-Nasafi, Jafar bin Muhammad Al-Qaththan, Al Khaffaf bin Naisaburi.dll
5. Karya-Karya beliau
Diantara sekian banyak karya Imam Bukhari disebutkan diantaranya : Al Jami’us Shahih Al Musnad Al Mukhtasar min Umuri Rosulillah SAW wa Sunanihi, wa Ayyamihi , yang lazim disingkat Al Jami’us Shahih, Al Adabul Mufrad, Al Tarikh Al Kabir, Ad Dhua’fa, Kitab Al Illal, Kitab Al Kuna, Asami Al Satubah , Al Hibah, Birr Al Walidayn, Al Qira’aah Khalf Al Imam, Raf’ul Yadain fi Shlat, Kitab Al Ashribah Al Tarikh As Shagir, Al Tarikh Al Ausath, Al Musnad Al Kabir, Al Tafsir Al Kabir, Sebagian kitab telah di cetak, namun sebagian lagi masih berupa tulisan tangan . Karya beliau , Al Jami’us Shahih menjadi karya paling monumental dan berpengaruh hingga masa kini.
6. Wafat beliau
Pada tahun 256 H ( 31 Agustus 870 M ) tepatnya tanggal 30 Ramadhan, malam Idul Fitri Al Bukhari di panggil ke haribaan Allah SWT, sebelumnya penduduk Samarkand memohon kepada Imam Bukhari agar menetap di negeri mereka, maka beliau pergi untuk memenuhi permintaan itu. Setibanya disana di sebuah desa tempat sebagian kelurganya menetap, beliau jatuh sakit dan meninggal dunia.
Profil Shahih Bukhari
1.Sejarah Singkat Penyusunan Shahih Bukhari
Kitab ini disusun oleh Imam Bukhari hadist-hadistnya dikeluarkan dari 600.000 hadist dan dikerjakan dalam tempo 16 tahun. Setiap beliau menulis suatu hadist, lebih dahulu beliau mandi dan shalat dua rakaat selain juga dorongan gurunya yaitu Ishaq bin Rakhawaih yang memberikan saran bagi Imam Bukhari menyusun kitab hadist-hadist shahih. Para ulama sebelum Imam Bukhari tidak hanya mengumpulkan hadist-hadist shahih saja tapi sampai hadist hasan dan dhaif, lalu mereka menyerahkan kepada pembaca dan pelajar untuk mengkritik dan menelitinya untuk membedakan hadist yang maqbul (diterima) dan mardud (ditolak) . Setelah itu Imam Bukhari menyusun kitab yakni Al Jami’us Shahih sebuah kitab hadist yang meresume seluruh hadist shahih berdasarkan penyeleksian ketat. Sumbangsih Imam Bukhari sangat berharga bagi umat dan mendapat apresiasi dikalangan para ulama hadist, pelajar, sebagai warisan bagi tegaknya As-Sunnah.
2.Kandungan Shahih Bukhari : Sistematika dan Metode penulisan Hadist
Al Hafidzh Ibn Hajar Al Asqalani menerangkan jumlah hadist dengan pengulangan yang terdapat dalam Shahih Bukhari = 7.397, marfu muallaq = 1.341, mutaba’at = 341. Secara keseluruhan berjumlah 9.082. Ibn Hajar mengatakan setelah selesai penghitungan,”Penghitungan yang telah aku lakukan terhadap jumlah hadist Shahih Bukhari merupakan hasil yang maksimal Allah SWT telah membukakan (pintu) dengannya. Aku tidak mengetahui orang yang lebih dahulu melakukan itu daripadaku, dan aku mengakui tidak ma’shum dari kesalahan dan kekeliruan. Hanya Allah lah yang layak untuk dimintai pertolongan”: . sedangkan Ibn Al Shalah ( W.643 H/ 1245 M ) menerangkan bahwa jumlah hadist pada Shahih Bukhari sebanyak 7.275, bila dihitung dengan pengulangan. Namun bila dihitung tanpa pengulangan, jumlahnya mencapai 4000 hadist yang diikuti oleh Al Nawawi pada kitabnya Al Taqrib wa Taisir , sedangkan berdasarkan murid Bukhari lainnya yaitu Hammad bin Syakir, jumlah itu dikurangi 200 hadist (3800), dan murid Bukhari yang lain Ibrahim bin Ma’qil jumlah itu dikurangi 300 hadist (3700). Adapun sistematika Al Jami’us Shahih diantaranya permulaan kitab beliau meletakkan kitab bad’il wahyi ditutup dengan kitabu tauhid, permasalahan ibadah menjadi hal yang urgen beliau menempatkan dari bab (4) sampai bab (33),sedangkan pula masalah Haji beliau dahulukan daripada shaum, dari kitab 34 sampai 50 mengenai muamalat, ada pemisahan antara kitab jihad (56-58) dengan kitab maghazi (64), ada pemisahan antara kitab At’himah (70) dan kitab Ashribah (74). Secara keseluruhan terbagi pada 97 kitab. Setiap kitab terdiri dari beberapa bab dan setiap bab terdiri dari beberapa hadist yang membahas satu topik tertentu. Metode penulisan Imam Bukhari mempunyai keunikan tersendiri dengan menempatkannya pada bab yang sama atau pada bab yang berbeda, dan umumnya menggunakan jalur sanad dan redaksi matan yang berbeda pula. Secara praktik Takrar, atau I’adah tersebut dilakukan dengan pola sebagai berikut :
a. Meriwayatkan hadist dari seorang sahabat atau tabi’iin, kemudian hadist tersebut diriwayatkan pula dari sahabat atau tabiin yang lain;
b. Meriwayatkan hadist dari seorang sahabat dengan dua jalur. Satu jalur diriwayatkan secara marfu (sampai kepada Rosul), sedangkan yang lain diriwayatkan secra maukuf ( hanya sampai kepada para sahabat) ;
c. Meriwayatkan hadist dari seorang sahabat dengan dua jalur . Satu jalur diriwayatkan secara munqoti (terputus), sedangkan yang lain diriwayatkan secara maushul (bersambung);
d. Meriwayatkan hadist dari seorang sahabat dengan dua jalur . Satu jalur diriwayatkan secara muan’an ( menggunakn lafadz an) sedangkan yang ,lain diriwayatkan secara sima (menggunakan sami’tu atau haddatsanaa) ;
e. Meriwayatkan hadist dari seorang sahabat dengan satu jalur, kemudian diulang penyebutannya karena pada jalur tersebut ada ziyadah (tambahan) rowi ;
f. Meriwayatkan hadist yang sesuai dengan bab tertentu, kemudian hadist tersebut diriwayatkan pula sesuai dengan bab lainnya;
g. Meriwayatkan hadist dari seorang sahabat melalui dua jalur. Satu jalur diriwayatkan dengan matan yang lengkap, sedangkan yang lain diriwayatka dengan matan yang ringkas.
Penggunaan takrar ini tentunya mempunyai faedah tertentu diantaranya ; Hadist tersebut diriwayatkan oleh banyak orang dengan redaksi yang berbeda, tidak munqoti, tidak gharib, memperjelas identitas rowi, matan hadist mengandung banyak ilmu dan hukum. Dll
3. Syarah terhadap Al Jami’us Shahih
Al Jami’us Shahih Bukhari mempunyai beberapa kitab syarah diantaranya :
Kitab yang sering jadi rujukan Fathul Baari bi Shahihil Bukhari, karya Ibn Hajar Al Asqalani, Umdatul Qori, karya Badruddin Mahmud bin Ahmad Al Aini Al Hanafi, Irsyadus Sari ila Shahihil Bukhori karya Shihabuddin Ahmad bin Muhammad Al Khatib Al Mishri Asy Syafe’I, A’lam As Sunan karya Al Khattabi, dan At Tankib karya Badruddin Az Zarkashi, Al Kawakibud Durari fi Syarhi Shahihil Bukhori karya Al Kirmani (W.786). Adapula mukhtashar Imam Zainuddin dan Mukhtashar Shahih Bukhari yaitu At Tajrid As Sharih karya Az Zabadi.
Daftar Pustaka
Syuhbah M, Kutubussittah. Surabaya : Pustaka Progresif, 2006.
Al Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail. Al Adabul Mufrad.Kairo:Darussalam,2005.
Noor Muhibbin, DR. Kritik Kesahihan Hadist Imam Al Bukhari , Yogyakarta: Penerbit Waqtu, 2003.
majalah ISLAMIA. Juli 2005.
Muchtar Ibnu. Autentikasi Shahih Bukhari, Bandung : yayasan Tahdzibul Washiyyah, 2004.
Jumantoro Totok,Drs. Kamus Ilmu Hadist, Jakarta: Bumi Aksara, 2002.
Comments
Post a Comment