HADIS AHAD DAN PEMBAGIANNYA

Sebagaimana kita tahu permasalahan As-sunnah tidak pernah sepi dari kontroversial dan pertikaian pendapat. Melihat akar sejarah pencatatan dan penyusunan hadist dari mulai Syihabuddin Az-Zuhri (wafat 124 H/724 M) sampai pada tahapan terakhir An-Nasai (wafat 303 H/ 916 M ), mereka berperan sangat besar demi terjaganya sunnah sehingga sampai detik ini kita dapat kita mudah membaca hadist sekaligus mengkaji ulumul hadis sebagai alat seleksi maqbul dan mardudnya hadist. Nah, sekarang kita kaji berdasarkan kuantitasnya, salah satu kajiannya adalah hadist Ahad (setelah Mutawatir). Sekarang saya akan coba memaparkan apa itu hadist ahad, klasifikasi, serta seluk beluknya dan sedikit menelisik tentang permasalahan ke hujjahan hadist Ahad, sedikit penulis akan korek kali ini.
B. Definisi
Khobar Ahad mempunyai definisi secara bahasa yaitu jama dariاحد yang mempunyai arti الواحد dan khobar الوا حد yaitu berita yang diriwayatkannya oleh satu orang. Sedangkan, definisi menurut istilah yaitu hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat hadist mutawatir . Hadist Ahad ini berfaidah sebagai ilmu Nadhariy yaitu perlu penelitian terhadap status hadistnya baru bisa dijadikan sebagai dalil atau hujjah.
C.Klasifikasi Hadist Ahad
Bila ditinjau dari segi kuantitas hadist ahad terbagi pada tiga yaitu : Masyhur, Aziz, dan Gharib. Berikut sedikit tentang penjelasannya :
1. Al-Masyhur
a. Ta’rif
Secara bahasa yaitu, isim maf’ul yang diambil dari asal kataالشهرة yang pada asalnya menjelaskan perintah dan tersiarnya, dan padanan kata itu diambil menjadi masyhur, terkenal (populer) menurut istilah yaitu Hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap thabaqah dan tidak sampai pada batasan derajat mutawatir. Dan memandang Ibnu Sholah diikuti Ibnu Mandah bahwasanya pabila diriwayatkan oleh tiga orang maka tidak dinamakan Masyhur, akan tetapi dinamai Aziz. Dan dinamakan oleh sebagian ulama juga hadist Ahad ini المستفيض yaitu isim fail dari استفاض pecahan dari فاض الماء (meluapnya air) dan dinamai juga tersebar atau tersiar luas. Menurut Istilah, terjadi ikhtilaf tentang ta’rifnya atas tiga qoul :
1. Merupakan persamaan kata untuk المشهور.
2. Lebih khusus dari Mutawatir.
3. Lebih umum darinya atau kebalikan qoul kedua.

b. Contoh Hadist
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ
Dan bisa dilihat berulangkali kemasyhurannya di Fathul Baari.
c. Masyhur Ghoer Istilahi
Dan yang dimaksud dengan Masyhur Ghoer Istilahi yaitu apa yang paling masyhur dari lisan-lisan bukan berdasarkan syarat yang tadi telah dijelaskan untuk diambil, maka mencakup :
1) Hadist yang mempunyai satu sanad
2) Hadist yang mempunyai banyak sanad
3) Hadist yang tidak terdapat padanya sanad yang asli
d. Macam-macam Masyhur Ghoer Istilahi
Ada beberapa bagian contoh hadist masyhur banyak diantaranya :
1. Hadist Masyhur diantara Ahli Hadist secara khusus contoh hadistnya :
عن انس رضي الله عنه قال ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت شهر ا بعدالركوع يدعوا على رعل و ذكوان( اخرجه الشيخا ن )
2. Hadist Masyhur diantara Ahli Hadist, para Ulama, dan masyarakat umum
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقُرَشِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
3. Hadist Masyhur diantara para Fuqaha
ابغض الحلال الى الله الطلاق )صححه الحا كم فى المستدركه و اقره الذهبي( لكن بلفظ ما احل الله شيئا ابغض اليه من الطلا ق
4. Hadist Masyhur diantara ulama ushul
رفع عن امتى الخطاء و النسيان وما استكرهوا عليه. )صححه ابن حبا ن و الحاكم(
5. Hadist Masyhur dikalangan ahli Nahwu
نعم العبد صهيب لو لم يخف الله لم يعصه.) لا اصل له(
6. Hadist Masyhur dikalangan masyarakat
العجلة من الشيطا ن (اخرجه الترمذى وحسنه)
e. Hukum Hadist Masyhur
Hadist ini dinamakan masyhur karena tersebar luas dikalangan masyarakat. Ada ulama yang memasukkan seluruh hadist yang telah populer dalam masyarakat, sekalipun tidak mempunyai sanad sama sekali, baik yang berstatus shahih atau dhaif kedalam hadist masyhur.
Ulama hanafiah mengatakan bahwa hadist masyhur bukanlah bagian dari Ahad akan tetapi bagian pertengahan antara Mutawatir dan Ahad dan mereka mengkhususkan Masyhur karena syarat mutawatir pada thabaqah sahabat saja. Maka asalnya Ahad akan tetapi Masyhur tersiar setelah itu.
f. Karya Penyusun kitab Masyhur hadist
1. Al-Maqasid al Hasanah fii al Hadist al Masyhurah karangan As-Syakhawi.(w. 902)
2. Kasyaf al Khifa dan Mazil al Ilbas oleh Ismail bin Muhammad al Ajaluni (w.1162)
3. Tamyiz at Tayibi oleh Ibnu Ad Dauba As-Syailani
2. Aziz
a. Ta’rif
Definisi menurut bahasa yaitu sipat musyabahah dari عز – يعز, dengan kasrah yaitu sedikit atau jarang. Atau dari عز – يعز dengan fathah yaitu kuat atau keras. Dinamakan demikian karena sedikitnya dan jarang ditemui dan adapun penamaan kuat dapat di temukan dengan datangnya pada jalan yang lain. Sedangkan, menurut istilah yaitu Hadist yang perowinya kurang dari dua orang diriwayatkan pada keseluruhan thabaqah sanad.
b.Syarah Ta’rif
Yaitu tidak didapatkannya pada thobaqah dari thobaqah sanad paling sedikit dari dua perowi. Suatu hadist dikatakan Aziz bukan saja karena diriwayatkan dua orang rawi pada setiap thabaqat, yakni sejak dari thabaqat pertama sampai thabaqat terakhir. Ta’rif ini menurut Al-hafidzh Ibnu Hajar dan berkata sebagian ulama lain ; Bahwasanya Aziz yaitu dua Riwayat atau tiga, maka tidak memutuskannya dari Masyhur pada sebagian bentuknya.
c.Contoh hadist
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ) صححين(ورواه عن انس قتا دة و عبد العزيز بن صهيب, ورواه عن قتادة شعبة و سعيد. ورواه عن عبد العزيز اسماعيل بن علية و عبدالوارث و رواه عن كل جماعة
Dan tidak disusun oleh para Ulama kitab khusus untuk hadist Aziz, karena sudah tampak karena sedikitnya dan tidak adanya menghasilkan faidah yang penting dari penyusunannya.
3. Gharib
a. Ta’rif
Definisi secara bahasa yaitu sifat musyabahah, dengan makna المنفرد atau jauh dari kerabatnya. Sedangkan, secara istilah Hadist yang dalam sanadnya menyendiri periwayatannya pada seorang rowi. Ibnu Hajar mendefinisikan hadist gharib sebagai berikut, “Hadist yang pada sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkannya, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.
b.Syarah Ta’rif
Hadist Gharib yaitu hadist yang paling sedikit dengan riwayatnya pada seorang rowi, adapun pada setiap tobaqoh dari setiap thobaqoh sanad, atau pada sebagian thobaqah sanad walaupun di thobaqah yang satu, dimana saja tempat dari sanad.
Berkata al-hafidz : Gharib dan Fardu keduanya merupakan persamaan baik itu secara bahasa ataupun istilah kecuali bahwasanya ahli istilah mereka merubah diantara keduanya dari selain banyaknya penggunaanya dan sedikitnya. Maka akan ditemukan ucapan pada Muthlaq dan Nisbi : تفرد به فلا ن, او اغرب به فلان . Maka sungguh mencegah Al-Hafidz R.A pada ucapannya itu beda ucapan.
c. Pembagian hadis Gharib
1. Gharib Mutlaq atau Fardu Muthlaq yaitu menyendiri keadaanya pada asal sanad yaitu hadist yang menyendiri dengan riwayatnya seorang rowi pada asal sanad.
- Contoh hadist :
عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ: قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Menyendiri dengannya Umar ibn al-Khattab, dan kadang-kadang telah berulang kali menyendiri sampai akhir sanad, dan kadang-kadang diriwayatkan menyendiri bilangannya dari para rowi.
2.Gharib Nisbi atau fardu Nisbi yaitu Hadist yang keadaannya menyendiri pada sifat atau keadaan tertentu seorang rowi.
- Contoh hadist :
مالك عن الزهري عن انس رضي الله عنه قا ل ان النبي ص دخل مكة و على راسه المغفر)اخرجه الشيخان)
Menyendiri padanya Malik dari Zuhri. Sebab penamaanya dan dinamakan ini (Fardu Nisbi ) karena menyendiri terletak padanya dengan menyandarkan kepada seorang untuk dijelaskan.(ketsiqahan, tempat tinggal )
d. Macam-macam Gharib Nisbi :
1. Gharib berkenaan dengan ketsiqah an rowi.
Contoh hadistnya :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ سَعِيدٍ الْمَازِنِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّه أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ أَبَا وَاقِدٍ اللَّيْثِيَّ: مَا كَانَ يَقْرَأُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ فَقَالَ كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ وَاقْتَرَبَتْ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ (اخرجه مسلم)
“Keadaan Rasullullah SAW pada hari raya, qurban, dan hari raya fitrah membaca surat Qaf dan surat al-Qamar”.
Hadist tersebut diriwayatkan melalui dua jalur yaitu jalur Muslim dan jalur Ad-Daraquthni. Melalui jalur Muslim terdapat rentetan sanad ; Muslim, Malik, Dumrah bin Said, Ubaidillah, dan Abu Waqid Al-Laitsi yang menerima langsung dari Rasulullah SAW. Adapun melalui jalur Daraquthni terdapat rentetan sanad Daraquthni, Ibnu Lahiah, Khalid bin Yazid Urwah, Aisyah yang langsung menerima dari Nabi.
Pada rentetan sanad pertama, Dumrah bin Said al-Muzani disifati sebagai seorang muslim yang yang meriwayatkan hadist tersebut selain diri sendiri. Ia sendiri yang meriwayatkan hadist tersebut dari Ubaidillah dari Abu Waqid al-Laisi. Ia disifatkan menyendiri tentang kesiqahannya. Sementara itu melalui jalur kedua Ibnu Lahiah yang meriwayatkan hadist tersebut dari Khalid bin Yazid dari Urwah dari Aisyah. Ibnu Lahiah sendiri disifati sebagai seorang rawi yang lemah.
2. Gharib berhubungan dengan kota atau tempat tinggal
Contoh hadist :
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: أُمِرْنَا أَنْ نَقْرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَمَا تَيَسَّرَ )سنن أبي داود(
“ Rasullullah SAW memerintahkan kepada kamu agar kita membaca Al-Fatihah dan surat yang mudah dari Al-Qur’an”.
Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad Abu Al Walid Ath Thayalisi, Hamman, Qatadah, Abu Nadrah, dan Said. Semua rawi ini berasal dari Bashrah dan tidak ada yang meriwayatkannya dari kota-kota lain.

3. Menyendiri pada sanad dan matan
Contoh hadist :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
Gharib pada matan; hadist ini diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dengan sanad Muhammad bin Fudhail, Abu Zurah Umarah, Abu Zurah, dan Abu Hurairah. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadist ini adalah gharib, karena hanya rawi-rawi tersebutlah yang meriwayatkan nya tidak ada rawi lainnya.
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ قَالُوا أَخْبَرَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ : عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ وَالْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ (صحيح مسلم )
Adapaun yang dimaksud dengan gharib dengan sanad saja adalah hadist yang telah populer dan diriwayatkan oleh banyak sahabat, tetapi ada seorang rawi yang meriwayatkannya dari salah seorang sahabat yang lain yang tidak populer. Periwayatannya hadist melalui sahabat yang lain seperti disebut sebagai hadis gharib pada sanad
E. Perkembangan wacana soal kehujjahan Hadist Ahad
Para ulama sepakat bahwa hadist mutawatir menjadi sumber pengetahuan (ilmu) dan perbuatan amal sekaligus. Hadist itu bagi mereka adalah hujjah tanpa ada pertentangan pendapat, kecuali mereka yang mengingkari kehujjahan sunnah contoh sikap Rafidhah, al-Nadhdham tokoh Mu’tazilah dan lain-lain.
Tentang berita perorangan (ahad) maka bagi kebanyakan ulama wajib diamalkan, meskipun hanya menghasilkan hal yang bersipat dugaan. Al-Razi dalam kitabnya al-Mahshul bahwa para sahabat telah bersepakat atas hal itu. Suatu kelompok lain termasuk Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Haris ibn Asad al-Muhasibi, Al-Husayn ali- al Karabisi, Abu Sulaiman,juga disebut-sebuat Malik, bahwa hadist ahad itu bersipat pasti dan menjadi sumber ilmu dan amal sekaligus. Bagi masing-masing kelompok itu ada alasan-alasan yang dibentangkan dalam berbagai kitab ushul (ilmu tentang pokok agama ). Namun yang penting ialah bahwa semuanya itu bersepakat tentang kehujjahan hadist ahad dan wajibnya beramal dengan hadist itu. Disebut tentang kaum Rafidhah dan juga tentang al-Qasani, Ibn. Hazm dalam kitabnya diketahui bahwa kaum Mu’tazilah menganut faham itu. Penulis syarah muslim dan penulis kitab mukhtashar menunjukkan bahwa mereka yang menganut faham adalah kaum literalis sedangkan para ulama berpijak kepada dalil. Ayat Al-Qur’an :
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ [آل عمران/187]
Dan dalil pada hadits riwayat tirmidzi
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ: عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ (سنن الترمذي)

--Wallahu A’lam bi Shawab--
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Mahmud Ath-Thahan, Taisiir Mustholah Hadist, ( Jeddah :Haramain,1985)
Abdul Karim bin Abdullah bin Abdirahman Al-Khudair, Tahqiqu Rughbah fii Taudihuu Nutbakh,(Riyadh : Dar Minhaj,1426 H),
Ibn hajar Al-Atsqolani, Fathul Baari’,
Aceng Zakaria, Tashrif 20 jam. Ibn Azka, 2010
Drs. H.Mudasir, Ilmu Hadis, (Bandung : Pustaka Setia,2008)
DR. Mustahfa al-Siba’i, Sunnah dan peranannya dalam penetapan hukum islam, (Jakarta :Pustaka Firdaus, 2007).
Dr. Ahmad Luthfi Fathullah, Program Computer; Metode belajar interaktif hadis dan ilmu hadis.
Maktabah Syamilah, versi 2.11 (Program compute

Comments

Popular Posts