IDENTITAS POLITIK DAN PERANAN SENIORITAS DALAM KACAMATA KADERISASI MENGURAI PROBLEMATIKA HIMA PERSIS DARI DALAM

Fenomena hari ini, kita melihat “gairah” kader HIMA PERSIS yang tinggi dalam arus menunjukan identitas politik masing-masing. Identitas politik itu hadir dari ekplanasi kultur dan dinamika organisasi yang terjadi. Selain itu, menjadi penting kemudian kita memahami senioritas, karena selain kata itu akrab di telinga kita. Senior menjadi sosok yang menjadi sorotan kader, sebagai representasi masa depan kader. Karena senior sendiri, telah menyelesaikan pendidikan dan pembinaanya di HIMA PERSIS.
Oleh karena itu, kita akan mencoba mengurai senioritas dan identitas politik dalam kacamata Kaderisasi? Sekaligus menelisik apa ada yang salah dari konsep kaderisasi HIMA PERSIS. Pertama terkait senioritas, bila kita melihat system dan alur dari pola kaderisasi HIMA PERSIS selama ini. Dalam ejawantah system kaderisasi HIMA PERSIS (yang hari ini tidak terkontrol dan ter koordinasi secara sistemik) sebagian kader HIMA PERSIS menganggap, bahwa kader sebagai “orang yang dididik” ditempatkan sebagai objek dari binaan dan pendidikan (subordinasi) para seniornya. Tidak hanya dalam ruang lingkup “kajian”, dimana senior menjadi penyampai materi kajian. Namun juga, sampai pada ruang-ruang formal seperti Training Kaderisasi. Seorang kader dikader oleh seniornya untuk mengikuti training; sebatas untuk menjadi pelanjut dan penerus organisasi. Senior seharusnya mengkader untuk menjadi pewaris nilai organisasi, penerus perjuangan HIMA PERSIS dan PERSIS khususnya sebagai bekal kehidupannya kelak.
Kita semua merasakan, senior HIMA PERSIS memiliki tempat yang istimewa untuk didengar dan dituruti petuahnya. Hal ini, sebenarnya di suntikan dan menjalar sejak dini, di setiap level pimpinan ada pandangan bahwa “ketua organisasi” mesti sosok yang di tua kan (atau yang muda jangan dahulu jadi pemimpin) meskipun kapasitasnya diatas rata-rata. Pemahaman kolot ini terkadang dijustifikasi karena “alur sejarah”, menular dan menjadi penyakit kronis di dalam tubuh organisasi.
Dalam contoh kasus lainnya, Ketua selalu dituntut menjadi sentral dalam organisasi. Di HIMA PERSIS kolektifitas tim menjadi tabu, karena sedari awal konstruksinya seperti itu (dalam hal ini di “benarkan”) oleh para anggotanya. Wajah seorang ketua pun lebih banyak beredar dan ditampilkan dalam pamphlet-pamflet yang tersiar. Maka tak heran, bahwa para ketua di setiap level pimpinan lebih popular dibanding kepala bidang, departemen, dan para anggotanya.
Pendidikan  yang mengarah per ploncoan ini, tidak membuat kader sampai pada jati diri ke kaderannya. Senior malah jadi platform dan sosok “ideal” dalam fikirannya. Mestinya, senior hanya memiliki peran sebatas fasilitator saja. Bagaimana senior, mentransmisikan nilai dan spirit organisasi bagi para kadernya. Menjadi penghantar agar kader menjadi Insan Ulul Albab, yang ulama negarawan dan ulama yang intelektual.
Namun sekali lagi, pola kaderisasi itu hanya sebatas sampling (kasuistik) terjadi di beberapa level pimpinan yang seharusnya tidak terjadi. Menjalin kekerabatan, komunikasi, dan relasi dengan senior lantas tidak pula menjadikan kader di ‘cocok hidungnya’, untuk diarahkan dan dikendalikan oleh seniornya. Sikap kritis dan objektif dalam menilai suatu kebenaran menjadi tolak ukur kader agar tidak tergerus pada salah kaprah.

Kedua berbicara identitas politik, bila kita memandang dari Metode Training HIMA PERSIS. Dalam beberapa kasus di beberapa wilayah dan level pimpinan, anggota yang mengikuti basic training atau KABAH, diarahkan untuk memasuki ruang pengkaderan dengan “keterpaksaan” karena Training Kaderisasi tidak dibuka sebagai “ruang pembasisan nilai”, maka yang hadir kemudian ialah alumni Pesantren Persis saja. Lalu kemudian adanya, sektarianisme wilayah atau daerah. Ini dibuktikan, dengan penyelenggaraan Training Kaderisasi yang menyasar hanya untuk kader wilayah setempat. Maka yang terbentuk adalah primordialisme dan clan “politik” atau kubu-kubuan.
Lebih jauh lagi kita merasakan, tidak meleburnya kader HIMA PERSIS pada momen-momen nasional. Ada selalu blok-blokan yang dibuat hanya karena tidak terikat secara emosional dan kedaerahan. Beberapa momen politik internal menjadi pemicu, defensifnya kader dalam mengembangkan spirit “Bhineka Tunggal Ika” dalam organisasi. Dan aktualisasi dari ayat, “Wa’tasimu bihablillahi Jamii’aan wa Laa Tafarroquu”.
Ikhtiar kemudian coba dilakukan, diantaranya Pimpinan Pusat kemudian menggagas, ‘PEKAN KADERISASI NASIONAL I’ yang diselenggarakan di Ponpes Persis 99 Rancabango, Garut ditahun 2018 dengan jumlah peserta hampir 150 kader dari berbagai daerah-wilayah. Sebagai wahana silaturahmi semua kader di tingkat nasional, selain mengikuti rutinitas training kaderisasi di dua jenjang yaitu KABAH dan MAKKAH.
Training Kaderisasi HIMA PERSIS di setiap level pimpinan, mesti diselenggarakan secara nasional. Pada momen training kaderisasi HIMA PERSIS, ada satu kesamaan identitas dalam bentuk nilai “ke HIMA PERSIS an” yang mengikat semua level pimpinan dari komisariat sampai wilayah meskipun berbeda-beda wilayah dan daerah, untuk berkerjasama secara kolektif dan integrative dalam mewujudkan cita-cita organisasi.
Identitas Politik masing-masing wilayah dan daerah pada dasarnya merupakan ciri khas dan keunikan tiap wilayah dan daerah, namun tidak juga menanggalkan “DNA Merah” nya HIMA PERSIS. Kaderisasi yang dirintis oleh senior, tanpa juga menghilangkan sikap kritis kita pada mereka. Kaderisasi HIMA PERSIS kemudian di sistemastikan dan dibuatkan polanya sesuai dengan konstitusi yang ada. HIMA PERSIS hari ini, kemudian dituntut untuk mulai merubah. Siapkah tuan-tuan? Tidak sepakat? Kita diskusikan lagi saja..  
(Dilan Imam Adilan, Kabid Kaderisasi PP HIMA PERSIS)

Comments

Popular Posts