MELURUSKAN KEJAYAAN SYIAH DI MASA ABBASIYYAH

Syi’ah yang mengaku sebagai Ahli Bait (nama untuk mengelabui umat Islam) disepakati oleh para ulama merupakan aliran yang menyimpang dari nash-nash Al-Qur’an dan As-sunnah. Upaya dan strategi Syi’ah untuk meruntuhkan Islam dan kaum muslimin begitu gencar, berbagai upaya yang mereka lancarkan diantaranya; klaim historis atas kegemilangan Dinasti Abbasiyyah sebagai puncak peradaban Islam dimana lewat berbagai literatur, Syi’ah terlihat membangga-banggakan peran mereka dalam Daulah Abbasiyyah. Selain itu, beberapa ciri khas yang menjadi karakter kaum Syi’ah dalam menyesatkan umat, yaitu diantaranya :
1. Imamah (Kepemimpinan) “Imamah adalah derajat kenabian. Menurut mereka Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala memilih dari hamba-Nya yang Dia kehendaki sebagai nabi dan rasul, demikian pula Allah memilih dari hamba-Nya yang Dia kehendaki sebagai imam bagi sekalian manusia”. Bahkan Syi’ah Itsna Asyariyah menganggap bahwa imamah adalah salah satu dari rukun Islam. Ini semua adalah pemahaman sesat yang menyelisihi nash-nash al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena ini adalah aqidah bid’ah yang tidak berasal dari Islam sama sekali.
2.Taqiyah (Menyembunyikan Hakekat) Ulama Syi’ah mendefinisikan arti taqiyah yaitu : “Engkau mengatakan atau berbuat tidak sesuai dengan apa yang engkau yakini untuk menghindari kejahatan atas dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu” Akan tetapi firqah Syi’ah ini menjadikan taqiyah tersebut sebagai alat pengumbar hawa nafsu mereka, sekaligus propaganda kesesatan mereka.
Mereka menganggap bahwa taqiyah lebih tinggi kedudukannya di banding keimanan seseorang. Itu sebagaimana yang dinyatakan oleh para pembesar mereka, antara lain : Dari Abu Abdillah (tokoh Syi’ah), ia berkata : “Bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam agama kalian dan lindungilah agama kalian dengan taqiyah, maka sesungguhnya tidaklah mempunyai keimanan orang yang tidak bertaqiyah”. Ia juga mengatakan “Siapa yang menyebarkan rahasia berarti ragu dan siapa yang mengatakan kepada selain keluarganya berarti kafir” Dari Abu Ja’far (tokoh Syi’ah), ia berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapakku dan tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah” Ini semua menunjukkan bahwa taqiyah merupakan metode serta senjata ampuh yang digunakan kaum Syi’ah.
3. Raj’ah ( Reinkarnasi) adalah : “Kembalinya orang yang sudah mati ke dunia sebelum hari kiamat, atau memanggil mereka kedunia sesudah mati.”demikian Raj’ah menurut Yahudi, yang menganut paham ini adalah Ibnu Saba’. Ini juga adalah perkataan tokoh-tokoh Syi’ah yang memperkuat aqidah mereka tentang Raj’ah.
Ketiga pakem itu sudah mengakar kuat dikalangan Syi’ah, sedangkan mengenai klaim sejarah yang mereka buat, terdapat dalam buku-buku terjemahan Barat yang penulis baca sebagai sumber referensi.

B. Resistensi Syi’ah pada masa Dinasti Umayyah dan Revolusi Abbasiyyah menggulingkan Dinasti Umayyah
Pada tanggal 10 Muharram 61 H ( 10 Oktober 680 M) terjadi peperangan antara Husein yang menjadi pemimpin orang-orang Syi’ah Kufah melawan tentara Ziyad bin Ubaidillah utusan Yazid bin Muawiyyah, ini merupakan insiden yang menjadi titik balik (turning point) sejarah Islam. Analisisnya sangat penting dari sudut pandang perkembangan berikutnya. Prof. Nicholson menyatakan,”Bani Umayyah jelas mempunyai banyak alasan untuk menyesalkan hari Karbala. Insiden itu telah menyebabkan munculnya semboyan aliran Syi’ah - menuntut balas kematian Husein- Yang dikumandangkan oleh semua orang khususnya oleh para Mawali atau client Persia, yang sangat menginginkan pembebasan dari belenggu Arab” .
Sikap keras lagi tegas Muawiyah dan para Khalifah Bani Umayyah terhadap golongan Syi’ah ini menjadikan mereka tersisihkan. Mereka adalah penduduk Arab berketurunan Yaman yang tinggal di Khurasan, golongan Mawali (bukan Arab) yang juga berpusat di sekitar Khurasan, kelompok Syi’ah yang mempunyai dendam pribadi dengan Bani Umayyah, dan segolongan daripada mereka yang menzahirkan diri sebagai Muslim tetapi masih benci terhadap Islam serta terus berpegang dengan pemahanan pra Islam seperti Rawandiyyah dan sebagainya.
Tantangan serius Dinasti Umayyah mula-mula datang dari pemberontakan Mukhtar yang secara sistematis memanfaatkan kesyahidan Husein untuk tujuan-tujuan politik. Upaya Mukhtar untuk menarik simpati dengan memakai nama Husein ini berhasil, baik itu terutama dikalangan klien-klien non Arab, yang tidak menyukai hubungan yang tidak sederajat dengan bangsa Arab. Orang-orang Arab juga memandang rendah dan menghina mereka, tingkat partisipasi mereka bisa dilihat dari fakta bahwa dalam satu pasukan yang dikirim Mukhtar untuk berperang melawan musuh terdiri dari 2300 ( dua ribu tiga ratus ) klien dan 300 (tiga ratus ) orang Arab. Namun demikian, Mukhtar akhirnya dapat dikalahkan dan dibunuh.
Orang-orang Syi’ah dianiaya dengan kejam. Ibnu Athir menceritakan bahwa dalam banyak kasus, tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel dan mereka digantung di pohon-pohon. Bahkan dari tentara Mukhtar yang tertangkap, orang-orang Arab dibebaskan sementara para klien dihukum gantung
Perlu digarisbawahi bahwa orang-orang Arab yang memimpin gerakan resistensi menentang penguasa Umayyah harus berjanji kepada kepada rekan -rekan non Arabnya untuk memberikan peran dalam kekuasaan serta melindungi hak-hak dan kepentingan mereka sebagai Muslim. Dengan kata lain, mereka harus menyetujui persamaan status seperti yang diajarkan Islam. Keluarga Abbasiyyah (yaitu keturunan paman Nabi, Abbas) membuat kesepakatan dengan kelompok Syi’ah untuk menggulingkan kekuasaan Umayyah dan membangun jaringan propaganda bawah tanah, terutama di Persia.
Terlibatnya Syiah di dalam propaganda Revolusi Abbasiyyah merupakan faktor terpenting ke arah tumbangnya Khilafah Bani Umayyah. Muhammad bin Ali telah mewarisi gerakan Revolusi Abbasiyyah yang diasaskan oleh Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abd al-Muttalib. Muhammad bin Ali menyokong perjuangan Abu Hasyim bin Muhammad bin Ali al-Hanafiah yang merupakan seorang Imam Syiah. Ketika Abu Hasyim di ambang kematiannya .
Tahun 125 H, berlaku peralihan kepimpinan Revolusi Abbasiyyah diserahkan ke tangan Abu Muslim al-Khurasani yang melancarkan Revolusi Abbasiyyah secara terbuka. Pada masa itu nama Imam Ibrahim yang menggantikan tempat ayahandanya Imam Muhammad bin Ali masih dirahasiakan. Apabila rahasia ini terbongkar, Imam Ibrahim telah ditangkap dan dibunuh di Harran (132H) dan beliau telah mewasiatkan supaya saudaranya Abu al-Abbas as-Saffah menggantikan tempatnya sebagai Imam.
Keluarga Abbasiyyah sangat cerdik, waspada, bermuka dua sehingga mereka berhasil dalam menjalankan intrik-intrik politiknya. Mereka memerintahkan orang-orangnya untuk membuat kesepakatan dengan kelompok Syi’ah dibawah bendera Hasyim, yang menjadi keturunan Abbas dan Ali sekaligus, meskipun tentu saja mereka mempunyai maksud tersembunyi untuk melenyapkan keturunan Ali.
Para keturunan Abbas dan Ali nampaknya hidup di wilayah pengungsian yang jauh, dari kota bernama Humayama, diselatan Laut Mati tetapi sebenarnya kota ini menjadi rute yang dilewati oleh orang-orang Syiria yang pergi haji, sehingga menjadi basis komunikasi dengan wilayah-wilayah Islam lainnya.
Keturunan Abbas mereka adalah Muhammad bin Ali, Ibrahim bin Muhammad, dan terakhir Abu Abbas Al-Saffah. Di Kufah lah dilakukan baiat kepada keluarga Al-Abbas, meskipun Abu Salamah Al-Khallal yang ketika itu pemimpin propaganda di Kufah tidak menyetujuinya.
Bani Abbasiyyah meraih kekuasaan setelah memenangkan perang sipil ketiga (744-750) dan menjadi pahlawan keadilan Islam melawan Bani Umayyah yang korup. Pemimpin mereka, Abu al-Abbas al-As Saffah (Wafat 750-754), mengaku sebagai keturunan paman Muhammad; mereka meminta rakyat untuk memberikan kesetiaan kepada keluarga langsung Nabi. Dukungan pertama yang mereka peroleh berasal dari Khurasan (Iran Timur), yang disana mereka dikenal sebagai pemilik daulah.

C.Pandangan Umum tentang Periode pemerintahan Syi’ah pada masa Dinasti Abbasiyyah
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa sebagian dunia Islam saat kekhalifahan Dinasti Abbasiyyah ada dibawah kekuasaan negara-negara Syi’ah seperti : Bani Buwaihi, Qaramithah, Hamdan, Fathimiyyah , dan Zaidiyyah di selatan Jazirah Arab. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi ? Tidak diragukan lagi ada sebab-sebab yang tidak langsung, yaitu semenjak kemunculan negara Umayyah, keluarga Ali senantiasa mencari jalan untuk kembali meraih tongkat khilafah . Dengan demikian, mereka sering mengobarkan berbagai revolusi, menyebarkan propaganda ke seluruh dunia Islam dan menyelusup kedalam kelas-kelas masyarakat.
Orang-orang Syi’ah melakukan propaganda besar di dunia Islam semenjak permulaan Dinasti Umayyah. Namun, mereka selalu saja gagal, kecuali di dua tempat, yaitu selatan laut Khazar (Laut Kaspia)- berkerjasama dengan Zaidiyyah dalam rentang waktu yang tidak panjang -dan di Marakisy ( kota Barat di Maroko)- bekerjasama dengan dengan orang-orang Adarisah. Salah satu proyek gerakan mereka Imamiyyah Zaidiyyah yang hasilnya gagal, Hingga akhirnya mereka tinggal di negeri Dailam di selatan pantai Khazar dan mendirikan pemerintahan disana, dan akhirnya berhasil mendirikan negara Buwaihi.
Dari sana mereka bergerak ke Baghdad dan pergi ke Maroko jauh dan mendirikan negara Fathimiyyah - Ubaidiyyah. Dari sana mereka berjalan ke jantung negara Arab. Perjalanan mereka dilakukan dari dua arah. Namun, kesepakatan diantara dua arah tersebut tidak bisa dilakukan dengan sempurna. Madzhab keduannya berbeda, yang pertama adalah Ismailiyyah yang tidak berdiri atas, bantuan keluarga Ali dan memiliki negara Ubaidiyyah Fathimiyyah, sedangkan yang kedua Zaidiyyah yang menjadi embrio negara Buwaihi.

D. Perkembangan Syi’ah serta Peran Bani Buwaihiyyah dan Fathimiyyah pada masa Abbasiyyah
Adanya ikatan antara Buwaihiyyah dan para khalifah Abbasiyyah merupakan persoalan yang kompleks, meskipun Bani Buwaihiyyah adalah Syi’ah, mereka tidak berusaha menghapuskan kekhalifahan Abbasiyyah (yang Sunni). Pemimpin-pemimpin Buwaihiyyah seperti Mu’iz Al-daulah, Rukn Al-daulah, dan A’dhud Al-daulah menggaungkan konsepsi ’suatu bentuk kekuasaan bersama Abbasiyyah - Syi’ah’.
Sekte yang dianut oleh Buwaihiyyah adalah sekte Zaidiyyah, mengikuti keyakinan Syi’ah yang dominan di tanah kelahiran mereka. Pada saat kemunculan Buwaihiyyah, sekte Imamiyyah merupakan sekte Syi’ah yang berpengaruh di Iran dan Irak, dan doktrinnya pada saat itu secara aktif dielaborasi oleh tokoh-tokohnya yang legendaris: Al-Kulaini wafat 329 H/ 941 M, Ibn. Babuya atau Babawaih wafat 381 H/ 991 M, dan
terakhir syaikh Al-Mufid yang dikenal juga sebagai Ibn. Al-Mu’allim wafat 1413H/1022 M.
Kira-kira pada masa inilah, kegaiban besar (al-ghaibah al-kubra) dari sang Imam dimulai, menyusul kegaiban kecil (al-ghaibah al-shugra) setelah hilangnya (bersembunyinya) Imam kedua belas pada 260 H/ 874 M. Doktrin tentang Imam yang tersembunyi sangat tepat untuk golongan Syi’ah Imamiyyah karena ini memungkinkan mereka memelihara kesetiaan pada Imam mereka, sementara mereka menyetujui kekuasaan amir-amir Buwaihiyyah mereka.
Walaupun telah menjalankan kebijakan guna mewujudkan perdamaian antar aliran, Mu’izz Al-daulah menyetujui pelaksanaan praktik-praktik Syi’ah. Upacara Asy’ura berkenaan dengan kesyahidan anak Ali, Al- Husain (60 H/ 680 M) pertama kali dirayakan dengan perkabungan umum pada 10 Muharram 352H/ 963 M ( diadakan prosesi penyiksaan terhadap diri sendiri dan ratapan), juga pada tahun yang sama, 18 Dzulhijjah 352 H/7 Januari 964 M, peristiwa Ghadir Khumm (peristiwa dimana saat Nabi Muhammad SAW menyatakan Ali sebagai penggantinya).
Pada masa Buwaihiyyah ini tercipta kebebasan mempraktikkan keyakinan mereka secara terbuka, tanpa perlu melakukan taqiyyah ( penyamaran yang hati-hati). Meskipun tidak dijadikan sebagai aliran resmi negara, Syi’ah Imamiyyah menjadi aliran yang sangat sesuai dengan perkembangan saat itu, menarik perhatian orang-orang yang telah matang, termasuk para saudagar, orang-orang kaya dan pegawai pemerintahan di perkampungan Karkh, istana pemerintahan, bahkan sampai daerah-daerah sekitar istana kekhilafahan.
Syi’ah Imamiyyah merupakan katalisator bagi fenomena Syi’isme yang lain, termasuk Ismailiyyah yang menarik perhatian tokoh-tokoh terkemuka selama periode ini. Munculnya Dinasti Syi’ah yang bersamaan dengan pertumbuhan yang pesat dari sebuah kebudayaan yang sangat besar, ketika para pelaku dan penerusnya sering merupakan orang-orang Muslim non-Sunni, atau non-Muslim, tentu bukan merupakan fenomena yang bersipat kebetulan.
Baghdad yang diklaim sebagai pusat kebudayaan peradaban dunia dibawah pemerintahan Buwaihiyyah ”tidak ada satupun” di dunia, kota yang dapat dibandingkan dengan Baghdad dalam hal luas wilayah dan kemegahannya, atau dalam jumlah sarjana-sarjana dan tokoh-tokohnya yang terkemuka.
Perbedaan tokoh-tokoh terkemuka dan masyarakat umum menyajikan perbedaan Baghdad dari kota-kota yang lain, sebagaimana distrik-distriknya yang luas, perbatasannya yang lebar, dan daerah-daerah permukiman serta istana -istananya yang banyak jumlahnya. Baghdad pada pertengahan dan akhir abad ke 10 M, pada masa kejayaan Buwaihiyyah, telah mencapai puncaknya dalam pertumbuhan kota sekaligus memasuki masa kemunduran sosial-ekonomi.
Pada tahun 910 M, tiba di Tunisia Ubaidullah “Al-Mahdi” (wafat tahun 934) seorang yang mengklaim sebagai mahdi dan imam sejati. Ia menyatakan dirinya sebagai khalifah, dan pada pertengahan abad selanjutnya keluarganya menciptakan dinasti yang stabil yang diberi nama Dinasti Fathimiyyah, mengatasnamakan Fathimah, putri Nabi dengan membawa alasan keagamaaan dan politik, dinasti ini bergerak ke Timur menuju wilayah-wilayah Abbasiyyah, dan pada 969 M menguasai Mesir. Dari sana, dinasti ini memperluas kekuasaanya ke Arabia Barat dan Suriah, tetapi tidak lama kemudian ia kehilangan wilayah Tunisia.
Basis kekuatan Fathimiyyah adalah pendapatan yang diperoleh dari tanah-tanah subur di Delta dan Lembah Nil, hasil kerajinan kota-kota, dan perdagangan di wilayah Mediterania serta Laut Merah ini cukup memadai guna memperkuat tentara yang direkrut dari luar Mesir: Pasukan Berber, pasukan berkulit hitam dari Sudan, serta orang-orang Turki. Khalifah tidak membuat upaya yang sistematis guna memaksakan doktrin-doktrin Ismailiyyah kepada kaum Muslim Mesir yang sebagian besar merupakan kaum Sunni, yang didalamnya sejumlah besar penduduk Kristen dan Yahudi secara keseluruhan hidup dalam hubungan timbal balik yang damai dengan mereka.
Kaum Ismailiyyah adalah kelompok Syi’ah yang merupakan cikal bakal Dinasti Fathimiyyah yang diklaim berafiliasi dengan mereka, ketika mereka memerintah Mesir dan Suri’ah. Kaum Ismailiyyah menganut keyakinan yang kemudian dikaburkan oleh sebuah sistem pemikiran yang dimunculkan oleh para sarjana di bawah patronasi Fathimiyyah dan disebarkan dengan bantuan kekuasaan Fathimiyyah.
Doktrin yang disukai oleh Dinasti Fathimiyyah adalah yang memberikan keabsahan kepada klaim mereka bahwa Imamah telah diturunkan Jafar’ Al-Shadiq kepada cucunya, Muhammad sebagai imam ke tujuh, dan sebagai Imam dzahir yang terakhir dalam garisnya. Untuk memberikan pembenaran dan menjelaskan keyakinan ini, dikemukakan sebuah definisi Imam yang sesungguhnya, didasarkan pada pandangan tertentu mengenai sejarah.
Seni dan Ilmu pengetahuan, filsafat dan pembelajaran agama berkembang pesat pada masa ini. Kota-kota seperti Mesir, Suriah, dan Arabia barat mengalami kemajuan pembangunan yang sangat pesat . Pusat kekuasaannya terletak di Kairo, kota yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyyah di tengah-tengah daerah pertanian yang luas dan subur dan di jantung sebuah sistem perdagangan yang terjalin dengan dunia Samudra India dan Laut Mediterania. Di Mesir, Dinasti Fathimiyyah terus berkuasa hingga 1171 M. Dinasti Fathimiyyah merupakan cabang dari Syi’ah Ismailiyyah
Kerajaan Fatimiyyah mempunyai sumbangan yang banyak terutama dalam aspek pembangunan Peradaban Islam. Pada era tersebutlah juga kita dapat menyaksikan meluasnya penyebaran faham dan amalan syiah yang khurafat.

E. Masa kegemilangan Dinasti Abbasiyyah
Penguasa Abbasiyyah memulai kekuasaanya sebagai revolusioner yang shaleh, tetapi mereka segera mengadopsi gagasan patrimonial tentang dinasti monarki, yang diperhalus oleh pasca tribalisme islam . Segera setelah berkuasa, alih-alih bersimpati kepada kelompok oposisi minoritas, seperti aliran-aliran Syi’ah mereka mengakomodasi beberapa kelompok semi Sunni. Meski demikian, mereka tetap mengenakan gelar penguasa berdasarkan pertalian darah dengan nabi.
Pada masa Abbasiyyah, wilayah Islam meluas sampai ke kawasan pegunungan di Asia Tengah dan Barat Laut Afrika, padang rumput di dataran tinggi Iran Tengah, bagian Timur Anatolia ( yang masih nomaden), dan ke kawasan pertanian yang kebanyakan menggunakan sistem irigasi, seperti Irak, Mesir, dan daerah Oxus.
Penaklukan Islam membuka peluang bagi perdagangan jarak jauh yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, misalnya jalur dagang timur-barat dari Cina sampai Damaskus dan perdagangan melintasi Samudera Hindia dan Mediterania; disini Mesir menjadi titik pusat. Produksi kerajinan tangan berkembang diseluruh daerah Urban, dari Marw, Rayy, dan Bukhara, sampai Baghdad. Damaskus, Kordoba, dan Qairo.
Kemenangan Abbasiyyah mengukuhkan takdir Islam sebagai agama universal yang dominan, dengan tradisi Arab sebagai patokannya; kemenangan itu juga sekaligus menandai kemenangan masyarakat multietnik dan multikultur. Dalam wilayah Islam sendiri, terus terjadi beberapa saat setelah penaklukan, dan disebabkan berbagai alasan. Di berbagai tempat, seperti di Mesir dan Libanon, sejumlah besar minoritas hidup berdampingan dengan damai sampai terjadinya Perang Salib.
Pada masa Dinasti Abbasiyyah inilah peradaban Islam-Arab mencapai puncak kegemilangannya. Tingkat peradaban dapat diukur dengan adanya peninggalan-peninggalan pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan atau karya. Jika kita mau merujuk kepada pemikiran dan penulisan, kita akan melihat bahwa bangsa Arab telah mencapai tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh Barat kecuali pada periode terakhir ini. Untuk menjelaskan hal tersebut kita perlu mengambil contoh jumlah karya yang dihasilkan lebih dari dua juta buku dari tiap jilid mencapai empat ratus kertas yaitu sekitar delapan ratus halaman.
Buku-buku tersebut menunjukkan tentang karya-karya yang ditulis dalam bahasa Arab hingga abad ke delapan. Tentu saja, angka yang fantastis bila dibandingkan dengan karya-karya orang Barat saat itu, kita akan mendapatkan bahwa jumlah orang Barat tersebut tidak bisa mengeluarkan karya-karya Ilmiah setiap tahun seperti yang dilakukan oleh orang Arab. Sesuai dengan statistik tersebut, orang Arab di zaman dahulu menulis lebih dari seribu lima ratus buku setiap tahun.
Perbandingan peradaban kita dengan peradaban Barat dari sisi produktivitas menunjukkan tingkatan sangat tinggi yang tidak bisa diremehkan. Ada beberapa tokoh yang mempunyai sumbangsih besar dalam mengangkat Dinasti Abbasiyyah dalam puncak kegemilangan.

Zaman Harun Al-Rasyid ( 170-193 H )
Dalam sejarah Arab-Islam, masa Al-Rasyid adalah masa paling gemilang dan indah. Ketika itu, negara memiliki wilayah yang luas sekali. Beberapa tren pemikiran yang muncul sebelum masa ini mengalir dengan deras kemudian bertemu menjadi satu. Selain pada masa itu mengalami masa kegemilangan, terjadi pula tren baru yang kontradiktif yaitu tren separatisme. Semenjak zaman ini sejarah kita mulai berjalan menuju kelemahan. Kedengarannya aneh tetapi inilah kenyataan yang terjadi. Masa ini gemilang karena segala sesuatu memang menyebabkan untuk menjadi seperti itu. Khilafah Abbasiyyah telah menjadi kokoh, musuh-musuhnya telah lenyap, dasar-dasarnya telah kuat dan hukumnya telah tegak.
Dalam hal yang berkaitan dengan peradaban, masa ini adalah masa gemilang dengan berbagai kota, jalan, sarana, dan transportasi yang dimilikinya. Ia dipenuhi dengan berbagai macam barang dari segala penjuru dunia. Kas negara penuh dengan pajak yang dikumpulkan. Ia tidak stagnan dan kacau. Ada jasa Al-Mahdi yang menarik simpati dan mempersatukan rakyatnya sehingga kelompok-kelompok yang memusuhi negara mulai meredup. Sistem Administrasi dibuat dalam bentuk kementrian dan dewan dengan sistem yang rapi. Dimasa Al-Rasyid hal tersebut telah mencapai terget, aktivitas-aktivitas kementrian menjadi jelas dan tertata rapi.
Masa ini terkenal dengan kemajuan di bidang Ilmu pengetahuan yang sangat melimpah. Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa zaman Bani Umayyah tidak memiliki kegemilangan ilmu pengetahuan. Karena, Bani Umayyah adalah penyebab Bani Abbasiyyah memiliki Ilmu pengetahuan yang melimpah di bebagai bidang baik itu agama, bahasa Arab, maupun sejarah.
Diadakan pula proyek penerjemahan naskah-naskah filsafat yunani yang didukung penuh pula pada pemerintahan Al-Makmun dengan membuat Bait Al-Hikmah (rumah kebijaksanaan, perpustakaan sekaligus pusat kajian keilmuan).
Ada seorang tokoh pada masa Harun Al-Rasyid ini Yakub Abu Yusuf (731-798) , seorang eksponen terdepan madzhab Hanafi yang memberikan banyak ruang bagi ijtihad personal. Bukunya kitab Perpajakan (Kitab Al-Kharaj ), adalah karya pertama yang diketahui tentang pemerintahan yang disusun oleh seorang hakim agama.
Abu Yusuf memenuhi harapan orang-orang tentang sosok hakim agama, menekankan keadilan yang setara untuk semua orang. Ia menyatakan bahwa khalifah harus,”Menegakkan hukum Tuhan bagi rakyat kecil maupun besar tanpa pandang bulu”, memperlakukan semua orang dengan sama, ia harus bersipat murah hati, memperlakukan orang miskin dan para tahanan dengan baik. Abu Yusuf menyajikan sebuah rujukan pertama dalam kajian ekonomi-politik dan hubungannya dengan pemerintah.
Menurutnya prinsip keadilan dalam perpajakan akan meningkatkan kemakmuran, dan secara umum, kesejahteraan ekonomi tergantung pada pemerintahan yang baik dan sebaliknya tunggulah kehancuran suatu pemerintah apabila sudah mulai dzalim dan lalim kepada rakyatnya. Ketika kekhalifahan Abbasiyyah mencapai puncak kejayaannya, Al-Rasyid membagi kerajaan untuk dua orang anaknya disertai sebuah perjanjian. Kematian Al-Rasyid menimbulkan perang sipil yang keempat ketika sejumlah wilayah kekuasaan yang berbeda-beda saling berperang satu sama lain.

Zaman Al-Makmun ( 813- 833)
Dari semua Khalifah Abbasiyyah, Al-Makmun tampil sebagai khalifah yang ideal yang paling berusaha dengan gigih memberikan pengaruh kepada para tentara dan dari para pemimpin agama populer dengan cara memikat hati dan pikiran rakyatnya secara langsung. Secara konsisten juga ia menentang pengaruh para perowi dan para ulama yang berbaris rakyat. Ia bergabung dengan aliran-aliran pemikiran yang menentang gaya pemikiran harfiyah, yaitu para kalangan teolog (mutakallimun yang notabene bersebrangan dengan para fuqaha) para filsuf hellenis dan kalangan syiah dengan cara itu ia berharap dapat meningkatkan otoritas khalifah Al-Makmun mengejar program yang telah disusun oleh Ibnu Mukaffa.
Al-Makmun merekrut beberapa orang muktazilah dan menempatkannya di pos-pos pemerintahan. Ia melibatkan diri dalam perselisihan doktrinal dengan mendukung pendapat mereka. Ia memapankan pandangan muktazilah tentang keterciptaan Al-Qur’an berlawanan dengan para ahli hadits sunni sebagai doktrin resmi negara. Pertama kali dalam sejarah Islam ia menetapkan sebuah lembaga inkuisisi (mihnah), 833 yang bertujuan untuk memaksa para pejabat negara dan pemimpin agama untuk menerima pandangan relijiusnya dan wewenangnya dalam soal doktrin dan ritual agama. (lapidus, 1975: 379) para pejabat dan hakim diharuskan menerima doktrin resmi negara, disertai rasa cemas karena takut kehilangan jabatan. Al-Makmun mengangkat pemimpin kedelapan syiah Ali Al-Ridha sebagai pengganti dirinya (Crone dan Hinds, 1986: 137-139).







KESIMPULAN
Sangat urgen meluruskan perspektif syi’ah mengenai masa keemasan Daulah Abbasiyyah sebagai puncak peradaban islam. Secara historis ada unsur kebencian kaum syi’ah terhadap Daulah Umayyah, karena ketidak berdayaan mereka ketika berada dibawah kekuasaan Daulah Umayyah. Oleh karena itu mereka mengklaim secara historis bahwa keberhasilan Daulah Abbasiyyah atas peran mereka dan menafikan jasa-jasa Daulah Umayyah meskipun sebenarnya tidaklah sedikit peran Syiah dalam mengangkat Daulah Abbasiyyah untuk mencapai puncak kegemilangan peradaban Islam.
Tapi tidak secara keseluruhan kaum Syi’ah berhasil mengantarkan Daulah Abbasiyyah mencapai puncak peradaban Islam. Contohnya; kegemilangan peradaban Ilmu pengetahuan Islam pada masa itu tidak lepas dari Daulah Umayyah yang telah memberikan sumbangsih besar pada masa sebelumnya yang pada akhirnya berhasil mereka runtuhkan kekuasaannya.


Wallahu a’laam bii showaaab.












DAFTAR PUSTAKA
Engineer, Ashgar Ali. Asal-Usul dan Perkembangan Islam.1999.Pustaka Pelajar.
Al- Isy, DR. Yusuf. Dinasti Abbasiyyah.2009.Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Athir, Kamil bin. Tarikh, jilid III & IV, terjemahan Bahasa Urdu oleh Maulvi Mohammad Jamil al-Rahman.1992.Jama’i Uthmania
Kraemer, Joel L. Renaissans Islam.2003.Bandung : Penerbit Mizan
.www.syiahsejarah-kemunculannya.dar-elmanhaj.com_
Muhammad Jawad Mughniyah.Syi’ah fil mizan
kitab Rijalul Kusyi hal; 6. Al-Kafy 12/321,322

Comments

Popular Posts