HIJRAH
“Barang
siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat
hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya
dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap
pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .“(
QS.An Nisaa : 100).”
Secara bathin hijrah adalah meninggalkan
perbuatan-perbuatan yang rusak menuju amal shaleh. Rasulullah Saw bersabda:
....وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Artinya: “...orang yang berhijrah adalah orang
yang meninggalkan larangan Allah”
Menurut Ibnu Hajar, kalimat tersebut ditujukan
kepada kaum Muhajirin agar mereka tidak lekas puas hanya dengan melakukan
hijrah dalam arti dzahir dengan meninggalkan tanah air mereka semata, apa lagi
hijrah membuat para sahabat terlena sehingga lemahnya mereka dalam beramal.
akan tetapi sejatinya kaum Muhajirin melakukan hijrah dalam arti bathin yaitu
dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Menurut beliau, kemungkinan sabda Rasulullah ini terjadi
saat penaklukan kota Mekah, hal ini betujuan agar orang-orang yang belum sempat
berhijrah tetap bergembira. Karena pada hakikatnya hijrah dapat diperoleh oleh
siapa saja yang tetap bersemangat dalam beramal shaleh.
Dari sabda Rasul diatas mengisyaratkan bahwa
hijrah secara dzahir berlaku sangat kondisional dan insidental, karena sesungguhnya yang paling utama dalam berhijrah
adalah hijrah yang bersifat bathin, yaitu orang yang sanggup untuk ta’at kepada
Allah Swt dan ridha bermakmum pada Rasulullah Saw tentunnya dengan mengerjakan
seluruh perintah dan menjauhi segala laranganNya. (Fath-al Baari,
Kitab Ar Riqaaq Bab Intihaa’i an Al Ma’aasi no.6484)
Hijrah ke Madinah adalah hijrah pertama kali, dan
saat itu pula diperintahkan oleh
Allah SWT untuk menghadap ke Baitil Maqdis di waktu shalat. Maka gembiralah
kaum Yahudi. Rasulullah SAW melaksanakan perintah itu beberapa belas bulan
lamanya, tetapi dalam hatinya tetap ingin menghadap ke qiblatnya Nabi Ibrahim
AS (Mekkah). Beliau selalu berdoa kepada Allah sambil menghadapkan muka ke
langit; menantikan turunnya wahyu. Maka turunlah ayat "qad nara
taqalluba wajhika fis-sama-i sampai akhir ayat." (S. 2: 144). Kaum
Yahudi menjadi bimbang karena turunnya ayat itu (S. 2. 144), sehingga mereka
berkata: "Apa yang menyebabkan mereka membelok dari qiblat yang mereka
hadapi selama ini?" Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 115) sebagai
jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi. Sampai akhirnya turun ayat :”Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka
kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas
(rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”QS.Al Baqarah : 115.(Diriwayatkan oleh
Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari 'Ali bin Abi Thalhah yang bersumber dari
Ibnu Abbas. Isnadnya kuat, dan artinya pun membantu menguatkannya, sehingga
dapat dijadikan dasar turunnya ayat tersebut.)
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekkah, tetapi jihad dan niat." Muttafaq Alaihi. Dari Abdullah Ibnu al-Sa'dy bahwa Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan putus hijrah selama musuh masih diperangi." Riwayat Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.
Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Mekkah, tetapi jihad dan niat." Muttafaq Alaihi. Dari Abdullah Ibnu al-Sa'dy bahwa Rasulullah saw bersabda: "Tidak akan putus hijrah selama musuh masih diperangi." Riwayat Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.
Hijrah
Makna
Hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya.
Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya
artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya. Bentuk-bentuk
Hijrah diantaranya adalah :1. Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
2.Meninggalkan negeri bidáh menuju negeri sunnah. 3. Meninggalkan negeri penuh
maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan.
Ketiga bentuk Hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna Hijrah .
Tidak ada Hijrah lagi sesudah fathu Mekah
selain jihad, niat, dan apabila diserukan berangkat (pergi berperang) maka
berangkatlah.
(HR. Bukhari) Hadis riwayat
Mujasyi` bin Mas`ud As-Sulami ra., ia berkata:
Aku datang
menghadap Nabi saw. untuk membaiat beliau untuk berhijrah. Beliau bersabda:
Sesungguhnya
Hijrah telah berlalu bagi orang-orang yang telah
melaksanakannya, tetapi masih ada Hijrah untuk tetap setia pada Islam, jihad
serta kebajikan. (Shahih Muslim
No.3465)
Hadis
riwayat Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda pada hari
penaklukan, yaitu penaklukan kota Mekah: Tidak ada lagi Hijrah yang ada ialah jihad dan niat. Maka bila kamu sekalian
diperintahkan berperang, peranglah!. (Shahih Muslim No.3467)
Hadis
riwayat Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. ditanya tentang Hijrah, lalu beliau menjawab: Tidak ada lagi Hijrah setelah penaklukan (Mekah). Tetapi yang ada ialah jihad dan
niat. Maka bila kamu diperintahkan berperang, peranglah!. (Shahih Muslim No.3468)
Hadis riwayat Abu Said Khudri ra.: Bahwa seorang
Arab badui bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai Hijrah Rasulullah saw. menjawab: Celaka
kamu! Sesungguhnya masalah
hijrah itu sangat
berat. Apakah kamu mempunyai unta? Badui itu menjawab: Ya. Rasulullah saw.
bertanya lagi: Apakah kamu menunaikan zakatnya? Orang itu menjawab: Ya.
Rasulullah saw. lalu bersabda: Bekerjalah dari balik negeri ini, sesungguhnya
Allah tidak akan menyia-nyiakan amalmu sedikit pun. (Shahih Muslim No.3469).
Niat dalam berhijrah
Dari Alqamah bin Waqash al-Laitsi, ia
berkata, "Saya mendengar Umar ibnul Khaththab r.a. di atas mimbar,
'Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, '(Wahai manusia), sesungguhnya
amal-amal itu hanyalah dengan niatnya (dalam satu riwayat: amal itu dengan niat
dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang
hijrahnya (kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul
Nya. Dan, barangsiapa yang hijrahnya
kepada dunia, maka ia akan mendapatkannya. Atau, kepada wanita yang akan
dinikahinya (dalam riwayat lain: mengawininya), maka hijrahnya itu kepada
sesuatu yang karenanya ia Hijrah.”
Ya Allah,
sempurnakanlah Hijrah sahabat-sahabatku, dan janganlah Engkau
kembalikan mereka ke belakang (ke kekufuran). Tetapi orang yang celaka yaitu
Sa`ad bin Khaulah berkata: Rasulullah saw. menyayangkannya (Sa‘ad bin Khaulah
yang meninggal di Mekah ). (Shahih Muslim No.3076)
....Seandainya tidak ada Hijrah tentu aku
adalah salah seorang di antara golongan Ansar. Seandainya orang-orang melalui
lembah dan lereng, tentu aku melalui lembah dan celah orang-orang Ansar. Kalian
pasti akan menemukan keadaan yang tidak disukai sepeninggalku. Karena itu, bersabarlah
kalian hingga kalian bertemu denganku di atas telaga (pada hari kiamat).
(Shahih Muslim No.1758).
Wawlaahu a’laam bi Shawaab.
Comments
Post a Comment