MENELISIK MAKNA USTAD

“Dulu ketika belajar di pondok pesantren, orang tua dan masyarakat di daerah tempat saya berasal selalu berharap, bahwa setelah selesai masantren dapat mengamalkan ilmu kembali di masyarakat. Harapan dan tuntutan mereka, lulusan-lulusan pesantren tersebut dapat memperjuangkan syi’ar-syiar dakwah Islam. Begitu pun ternyata dengan mayoritas teman saya kala itu, mereka dituntut sama mampu mengabdikan ilmu agamanya untuk membina masyarakat. “
Sebagaimana wejangan kya’i di pondok dulu bahwa sebenarnya aktivitas dakwah dan tabligh  hakikatnya menjadi kewajiban bagi setiap insan manusia.  Termaktub dalam Al Qur’an mengenai kewajiban aktivitas berdakwah :
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104).
 Lalu pada ayat lain : ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushilat: 33).
Opini publik dan pencitraan media massa terkait “Ustadz” di masyarakat kini, seakan merosot dan nampak terlihat jelas. Sebagaimana kita saksikan sendiri bahwa Ustadz-ustadz yang berdakwah di televisi, ataupun tampil di ruang publik mendapat sorotan-sorotan sinis karena ulah/sikapnya yang jauh dari nilai-nilai luhur seorang aktivis dakwah yang mempunyai misi suci menyampaikan syiar-syiar Islam.
 Ketika berbicara konteks global pada ranah akademisi penamaan Ustadz ternyata bukanlah sembarang nama. Istilah Ustadz merupakan gelar bagi seorang doctor yang telah menempuh jenjang pendidikan sampai Strata tiga (S3) contohnya di Universitas al Azhar, Ummul Quro Makkah ataupun di perguruan-perguruan tinggi di Timur Tengah. Maka, merupakan sebuah kebanggaan dan kehormatan bagi dai’-dai (sebagai aktivis yang menyampaikan syi’ar Islam) di Indonesia mendapat gelar sebagai “Ustadz”.
Aktivitas dakwah tentu mempunyai syarat adanya interaksi antara da’I (orang yang mengajak) dan mad’u (orang yang diajak) dalam sebuah proses komunikasi. Dengan proses inilah nilai-nilai Islam yang bersifat sakral ditransformasikan pada masyarakat sebagai upaya menjadi sebaik-baiknya umat. Sebagaimana telah diterangkan dalam firman Allah SWT :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” (surat Ali-Imron ayat 110:).
Dakwah ibarat lentera kehidupan yang memberi cahaya dan menerangi hidup manusia dari nestapa kegelapan. Tatkala manusia dilanda kegersangan spiritual, dengan rapuhnya akhlak, maraknya korupsi, kolusi, dan manipulasi, dakwah diharapkan mampu memberikan cahayanya. Disamping itu dakwah diharapkan bisa memberi kontribusi positif di tengah berbagai ketimpangan, kerusuhan, kecurangan dan sederet tindakan tercela lainnya, yang disebabkan terkikisnya nilai-nilai agama dalam diri manusia. Semua itu dapat terwujud ketika ajaran Islam dijadikan pedoman hidup dan dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.
Manakala perjuangan suci dalam membela dan mengaplikasikan Islam disalah gunakan contohnya sebagai praktik mencari kekayaan, mencari popularitas, tentulah aktivitas dakwah yang merupakan aktivitas mulia menjadi kabur maknanya karena sebagian perilaku oknum-oknum jahil yang mengatasnamakan “Ustadz”.
Secara historis, aktifitas dakwah Islam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Rasulullah saw. terus dilanjutkan oleh umatnya pasca beliau wafat. Hal ini dikarenakan disamping sebagai suatu amalan yang mulia juga sebagai suatu kewajiban bagi seluruh kaum muslimin.
Dewasa ini, bila kita tinjau aktifitas dakwah pasca masa Rasulullah saw. Tentulah diwarnai dengan perbedaan dalam berbagai hal, mulai dari konsep, orientasi bahkan sampai indikator pencapaian dakwah itu sediri. Hal tersebut di atas memang wajarlah terjadi, karena aktifitas mulia ini kemudian dilanjutkan oleh generasi yang memiliki bermacam perbedaan dalam berbagai seginya. Salah satu yang paling mencolok untuk diperhatikan adalah dari segi kualitasnya (kredibilitas dan kecerdasan nya). Dari setiap tingkatan generasi, mulai dari sahabat, tabi’in, atba’ut tabi,in, taba’ul atba’ hingga masa kini memiliki kualitas yang berbeda dari segi apapun tergantung pada kemampuan, kondisi dan hal lain-lain yang mempengaruhinya.
Secara rinci memang kita tidak begitu tahu mengenai gambaran dakwah tiap generasi tersebut, namun secara umum kita dapat mengambil gambaran dari aktifitas dakwahnya masing-masing. Yang terpenting bagi umat Islam generasi manapun adalah bagaimana caranya agar dakwah islam tetap berlangsung dan menciptakan hasil yang lebih baik dari sebelumnya, sehingga Islam sampai pada maqom (derajat) kemuliaanya.
Rasulullah saw. Banyak menggambarkan akan keadaan umatnya di masa depan, terlepas dari positif atau negatifnya keadaan umat di masa depan, Rasulullah senantiasa memberikan nasehat agar umatnya senantiasa berpegang teguh pada pedoman utama yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Kuantitas umat memang sangat diharapkan namun kualitaspun senantiasa Rasul tekankan. Kesejahteraan duniawi memang senantiasa dianjurkan namun perhatian terhadap kehidupan ukhrawi sangat Rasul utamakan ada pada setiap diri umatnya. Dengan demikian, kaum muslimin memang tidak punya alasan melainkan terus melanjutkan misi dakwah Islamnya hingga ia dan Islam berada pada derajat kemuliaan sebagaimana yang telah Allah janjikan.

A.   Perjalanan Dakwah dari Masa ke Masa
a.   Dakwah Sebelum Islam
Sesuai dengan apa yang diberitakan melalui Al-Quran, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pembahasan mengenai aktifitas dakwah sebelum zaman Rasulullah saw adalah diawali pada zaman Nabi Nuh as. dan berakhir sampai pada zaman Nabi Isa as.[2]
Dari uraian mengenai sepak terjang para Nabi terdahulu dalam menjalankan misi dakwahnya, kiranya dapat kita ambil catatan penting dan ringkas sebagai kesimpulan dari uraian terdahulu. Berikut adalah kesimpulannya:
1.     Para Nabi dan Rasul sejalur dalam dakwah yaitu menanamkan ajaran Tauhid kepada kaumnya, memerangi kemusyrikan da kekufuran, memerintahkan taat dan melarang dari hal-hal yang diharamkan. Semuanya adalah berdakwah menuju Allah azza wa jalla.
2.    Para Nabi hanya diutus untuk satu kaum tertentu, sedangkan Rasul diutus untuk seluruh umat manusia

b.  Dakwah Pada Zaman Rasulullah Saw
Secara geografis, Rasulullah melakukan dakwah terbagi pada dua tempat penting yaitu di Mekah dan Madinah.
Dakwah masa Rasulullah berakhir saat hayat Rasulullah berakhir, sebelumnya sempat terjadi peristiwa yang sangat penting sebagai gambaran kemenangan Islam, yaitu peristiwa Fathul Makkah (pembebasan kota Mekah), hal itu terjadi pada tahun ke 10 hijrah. Sebagian besar Ulama menyebutkan bahwa beriringan dengan akhir masa dakwah Rasul turunlah ayat terakhir yaitu: Al-Maidah: 3, sebagai berikut:
  
“… pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu …” (Al-Maidah: 3).

c.   Dakwah setelah Rasulullah saw
           i.   Pada zaman Khulafa Al-Rasyidun
Dakwah pada masa Khulafa Al-Rasyidun berjalan selama kurang lebih 30 tahun, sejak wafat Rasulullah tahun 10 hijriyah sampai tahun 40 hijriyah setelah kewafatan Ali bin Abi Thalib. Pada masa Khulafa Al-Rasyidun, usaha dakwah Islam yang dilakukan Rasul tetap dilakukan pada masa ini, yaitu Tabligh Al-Islam (penyampaian Islam), Ta'lim Al-Islam (pengajaran Islam) dan Tathbiq Al-Islam (aplikasi Islam).

      ii.   Pada zaman daulah Umawiyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah
Tarikh dakwah pada masa pasca Khulafa Al-Rasyidun dimulai sejak tahun 40 Hijriyah, dimulai dengan daulah Umawiyah sampai tahun 132 Hijriyah, kemudian daulah Abasiyah hingga tahun 656 Hijriyah dan kemudian daulah Utsmaniyah dimulai pada tahun 698 Hijriyah hingga tahun 1343 Hijriyah. Berikut uraian singkat tarikh dakwah pada masa daulah Umawiyah, Abasiyah dan Utsmaniyah:
a. Daulah Umawiyah (40 H – 132 H)
Pada masa daulah umawiyah, kaum muslimin senantiasa mendapatkan futuh atas berbagai tempat, dengan demikian, para Ulama mengiringinya dengan berbagai ilmu seperti fiqih, Syari'ah, Hadits, Tafsir untuk menjelaskan Islam, mereka menyebar ke beberapa tempat seperti Mesir, Kufah, Syam dan Afrika, sehingga pada masa ini terdapat aktifitas keilmuan yang hidup
b. Daulah Abasiyah (132  H – 656 H)
Para ahli sejarah membagi dua masa pada kekhalifahan Abasiyah, yaitu pada pada masa awal (132 H – 447 H) dan masa kedua (447 H – 656 H). pada masa awal daulah Abasiyah,[3] prosesi dakwah terlaksaa begitu kuat, namun pada masa kedua prosesi dakwah Islamiyah melemah.[4] Lemahnya dakwah adalah di level pemerintahan, sementara itu di level rakyat aktifitas dakwah tetaplah berlangsung lewat jasa mulia para Ulama, aktifitas ta'lim, riwayat dan menulis (kitab) senantiasa hidup dalam kehidupan masyarakat.
c.  Daulah Utsmaniyah (698  H – 1343 H)
Sebagaimana daulah sebelumnya, daulah Utsmaniyahpun demikian, kedaulahan sempat kokoh pada masa awal kedaulahan dan melemah untuk selanjutnya hingga pada akhir kedaulahan. Pendiri daulah (Utsman bin Arthaghul) sempat berwasiat kepada anaknya:
“Wahai anakku: hati-hati! Kau akan disibukkan oleh perkara yang tidak diperintah oleh Allah, Tuhan semesta alam. Jika engkau berhadapan dengan masalah yang sulit, maka hendaklah engkau berpegang pada musyawarah (kesepakatan) para Ulama (pemuka agama) sebagai perlindungan”.
Dengan demikian, daulah Utsmaniyah berjalan dengan asas Islam yang kuat, hal ini mencapai puncaknya pada masa khalifah Muhammad Al-Fatih pada tahun 855 H / 1451 M saat penaklukan Konstantinopel, semenanjung Al-Mauah dan Albania pada tahun 857 H dan beberapa wilayah kekuasaan daulah Utsmaniyah menyatu dalam satu panji.[5]
     iii.   Pada zaman sekarang
Secara nyata bahwa system pemerintahan (Negara-negara) Islam melalui “khilafah” mulai hilang sejak tahun 1924 M. hal ini ditandai dengan semakin banyaknya wilayah yang harus didakwahi, sementara kondisi kaum muslimn begitu alot dengan berbagai permasalahan intern maupun ekstern yang terus menerus menggerogoti tubuh kaum muslimin. Dengan demikian, tampaklah kesulitan tersiarnya dakwah dan keilmuan dari berbagai arah, yang keadaan tersebut semakin memperburuk keadaan ukhuwah dan semangat perjuangan kaum Muslimin.

   iv.Kesimpulan
Ironis, jika label Ustadz yang akrab ditelinga menjadi samar makna nya karena niat yang sudah menyimpang dari hakikat aktifitas dakwah yang mulia. Sejak zaman Rasul sampai para sahabat, tidaklah sedikitpun yang mereka harapkan adalah bergelimangnya harta ataupun terlepas dari berbagai kepentingan individual . Tujuan dan Keutamaan Dakwah menurut Dr. Bassam al-'Amuusy dalam bukunya "Fiqh ad-Dakwah" menyebutkan beberapa tujuan dan keutamaan dakwah. Ketika menjelaskan tujuan-tujannya, tidak kurang dari delapan tujuan dakwah yang ia sebutkan, yakni sebagai berikut:
a)  Membela dan menyebarkan agama
b)   Menegakkan Syariat Islam
c)   Membangkitkan kesadaran dalam barisan umat Islam serta memerangi kebodohan
d)   Menegakan keadilan sosial di antara sesama manusia
e)  Amar ma’ruf Nahyi Munkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran)
f)  Menyebarkan akhlak yang utama di antara sesama manusia
g) Menjaga eksistensi dan generasi umat
h) Mencapai pahala yang besar yang dipersiapkan dengan melaksanakan da’wah (seruan) kepada Allah Swt.[6]

          Selanjutnya, al-‘Amuusy juga menyebutkan sepuluh keutamaan yang bisa tercapai dengan dakwah, yaitu sebagai berikut:
a)    Dakwah menjadi wasilah yang bisa mendekatkan manusia dengan Tuhannya, yakni dengan mengelurkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
b)   Dakwah menjadi jalan atau cara untuk memperoleh pahala dan kebaikan
c)    Dakwah menjadi jalan untuk menjaga generasi umat Islam.
d)   Orang yang menyeru kepada Allah berarti mengikuti jejak para nabi
e)    Dakwah menjadi jalan untuk berhadapan pemikiran dan keyakinan
f)     Dakwah menggambarkan kehormatan manusia dengan menyeru untuk tidak meyembah berhala
g)    Dakwah menjadi jalan bersosialisasi dan saling tolong menolong
h)   Dakwah menjadi jalan bergaul dan berinteraksi dengan Allah Swt, karena seorang da’i itu menyeru untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
i)     Dakwah adalah salah satu bentuk dari jihad, karena jihad adalah mencurahkan kesungguhan, dan dakwah juga menuntut kesungguhan badan dan pikiran
j)     Dakwah adalah jalan teduh kehidupan dan jalan untuk untuk menempuh derajat serta kedudukan yang tinggi.[7]




Wallahu a’laam Bi Showaab.






[1] Alumnus pondok Pesantren Ittihad Islamiy 34 Soreang-Kutawaringin. Mahasiswa Tafsir Hadith STAIPI Garut
[2] Nabi Nuh merupakan Rasul pertama yang Allah utus dan Nabi Isa merupakan Nabi yang diutus oleh Allah yang kemudan setelahnya adalah Rasulullah saw. Dapat pula dilihat pada, Muhammad Abu Al-Fatah Al-Bayanuni, Al-Madkhol Ila 'Ilmi Al-Dakwah, (Madinah: Muassasah Al-Risalah, 1995) hlm. 54. (Selanjutnya ditulis, Al-Bayanuni, Al-Madkhol Ila 'Ilmi Al-Dakwah)
[3] Masa khalifah Al-Manshur, Almahdi, Al-Rasyid dan beberapa khalifah selanjutnya.
[4] Lihat, Al-Bayanuni, Al-Madkhol Ila 'Ilmi Al-Dakwah, hlm. 101.
[5] Lihat, Al-Bayanuni, Al-Madkhol Ila 'Ilmi Al-Dakwah, hlm. 104.
[6] Bassam al-'Amuusy, Fiqh ad-Dakwah, Ardan, Dar an-Nafa'is, cetakan pertama, thn.2005, hal. 10.
[7] Ibid, hal. 8-9

Comments

Popular Posts