MEMASYARAKATKAN ISLAM DAN MENGISLAMKAN MASYARAKAT


Berbicara Islam Indonesia, dan tradisi masyarakat  keduanya memiliki kekuatan dan potensi budaya yang menakjubkan, namun belum dikembangkan secara maksimal. Menanamkan nilai-nilai keislaman, memperkuat dan mengembangkan potensi budaya kita sendiri bisa sedikit meminimalisir masuknya budaya Barat yang belum tentu sesuai dengan budaya kita. Dengan sikap seperti ini, berarti kita telah bersikap tepat dalam menghadapi westernisasi dan modernisasi yang sudah merambah sampai ke pedalaman-pedalaman.
Satu langkah menjadikan Islam sebagai asas bangunan peradaban Indonesia di masa depan adalah kembali “memasyarakatkan Islam dan mengislamkan masyarakat”. Kita mengenal peradaban ini seringkali disandingkan dengan kata tamaddun yang secara bahasa berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city) dan peradaban Islam ini terwujud karena masyarakatnya berkebudayaan/membudayakan Islam.
Membangun peradaban Islam sama seperti halnya ketika Madinah dipimpin Rasulullah Shallawlaahu alaihi wassalam, dimana nilai-nilai islam teraktualisasikan oleh masyarakat. Hal ini pula yang menjadi landasan PERSIS (Persatuan islam) sebagai paradigma gerakan dakwahnya di masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak perilaku umat Islam berseberangan dengan prinsip dan nilai islam. Bahkan terkadang cenderung sikap masyarakat berlawanan atau bertolak belakang.
Sebagai bentuk evaluasi atas kondisi umat Islam serta peran strategis yang bisa kita tawarkan, dalam gerakan dakwah diantaranya; 1. Pentingnya pendidikan Islam sebagai Basic Moral 2. Mengentaskan Kemiskinan 3. Pentingnya Ukhuwah Islamiyyah dan pemberantasan kepercayaan Magic  4. Mengatasi Deislamisasi dan Liberalisasi 5.Konsolidasi Gerakan Dakwah
Pendidikan Islam sebagai Basic Moral
Pendidikan sering diposisikan sebagai yang paling bertanggungjawab atas kompleksitas problem kehidupan, karena potret dan karakter masyarakat sangat tergantung atau sangat ditentukan oleh pendidikannya. Itulah sebabnya persoalan baik buruk individu dan masyarakat sering dipulangkan pada kualitas pendidikannya. Problem morallitas masyarakat bukan hal baru, namun merupakan pelajaran dimasa lampau (kaum Tsamud, Ad’ dengan kemajuan pengetahuan kala itu )sebagaimana dikisahkan oleh Allah swt di dalam al Qur’an, ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Q.S. Al Isrâ [17]: 16).            
Letak signifikansi peran pendidikan, terutama pendidikan agama. Sesungguhnya dimaksudkan untuk membangun kecerdasan; yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Dengan ketiga kecerdasan ini, manusia dapat menyeimbangkan kehidupannya, antara tuntutan material dan moral.
Beberapa prinsip pendidikan moral telah banyak kita temukan dalam sistem pendidikan islam, diantaranya prinsip pendidikan moral yang terkandung dalam surat QS.Thaha : 128, dan QS.An-Nur ayat 30-31 :
Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (QS.Thaha : 128).

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..." (QS.An-Nur: 30-31)

Pendidikan Islam dalam muatan managemen sekolah atau hadirnya pesantren/sekolah (formal-non formal) berbasis keislaman mengimbangi sistem pendidikan sekuler yang anti spiritualitas. Mengintegrasikan sistem pendidikan terpadu antara ilmu agama dan ilmu umum. Ditunjang dengan keberadaan masjid dalam hal ini dapat dimanfaatkan sebagai basis pendidikan Islam yang akan menjadi penyambung lidah antara akademisi dan masyarakat umum.
Masyarakat Islam dalam hal ini tak hanya menyiapkan generasi yang melek pengetahuan dan berteknologi tinggi, namun lebih dari itu menjadi insan pembelajar dengan dasar moralitas yang kuat dengan nilai-nilai Islam.
Islamisasi pendidikan, upaya melawan sekulerisasi pendidikan. Contoh sederhanya seperti perilaku jujur, adil, amanah, yang kini seakan dirancukan sebagai istilah umum. Seharusnya, kembali dikaitkan bahwa itu semua merupakan “moral idea” Islam. Kita menanti sejauh mana sarjana ataupun para guru menanamkan Islam sebagai basic moral di dunia pendidikan.
Kesadaran baru harus dibangun, jika hal seperti ini tidak muncul, mustahil umat Islam yang mengenyam pendidikan akan menjadi lebih baik di tengah berbagai krisis global itu.
Maka yang paling utama adalah adanya perubahahan kesadaran dan sikap, lalu perubahan nilai dan budaya.

 Mengentaskan Kemiskinan[1]
Kemiskinan merupakan mimpi buruk bagi umat Islam, padahal sebenarnya Allah telah menjamin rizki setiap makhluk yang telah, sedang, dan akan diciptakannya (QS 30:40; QS 11:6). Di saat yang sama Islam telah menutup peluang bagi kemiskinan kultural dengan memberi kewajiban mencari nafkah bagi setiap individu (QS 67:15). Setiap makhluk memiliki rizki masing-masing (QS 29:60) dan mereka tidak akan kelaparan (QS 20: 118-119).

Islam memiliki berbagai prinsip terkait kebijakan publik yang dapat dijadikan panduan bagi program pengentasan kemiskinan dan sekaligus penciptaan lapangan kerja. Islam mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberi manfaat luas bagi masyarakat (pro-poor growth).

Islam mencapai pro-poor growth melalui dua jalur utama: Pertama, pelarangan riba dan mendorong kegiatan sektor riil. Pelarangan riba secara efektif akan mengendalikan inflasi sehingga daya beli masyarakat terjaga dan stabilitas perekonomian tercipta. Kedua, Islam mendorong penciptaan anggaran negara yang memihak pada kepentingan rakyat banyak (pro-poor budgeting). Dalam sejarah Islam, terdapat tiga prinsip utama dalam mencapai pro-poor budgeting yaitu: disiplin fiskal yang ketat, tata kelola pemerintahan yang baik, dan penggunaan anggaran negara sepenuhnya untuk kepentingan publik. .

Tidak pernah terjadi defisit anggaran dalam pemerintahan Islam walau tekanan pengeluaran sangat tinggi, kecuali skala pada masa pemerintahan Nabi Muhammad SAW karena perang. Bahkan pada masa Khalifah Umar dan Usman terjadi surplus anggaran yang besar. Yang kemudian lebih banyak didorong adalah efisiensi dan penghematan anggaran melalui good governance. Di dalam Islam, anggaran negara adalah harta publik sehingga anggaran menjadi sangat responsif terhadap kepentingan orang miskin..

Ketiga, Islam mendorong pembangunan infrastruktur yang memberi manfaat luas bagi masyarakat (pro-poor infrastructure).
Keempat, Islam mendorong penyediaan pelayanan publik dasar yang berpihak pada masyarakat luas (pro-poor public services). Di dalam Islam, birokrasi adalah amanah untuk melayani publik, bukan untuk kepentingan diri sendiri atau golongan. Khalifah Usman tidak mengambil gaji dari kantor-nya. Khalifah Ali membersihkan birokrasi dengan memecat pejabat-pejabat pubik yang korup. Selain itu, Islam juga mendorong pembangunan pendidikan dan kesehatan sebagai sumber produktivitas untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Kelima, Islam mendorong kebijakan pemerataan dan distribusi pendapatan yang memihak rakyat miskin. Terdapat tiga instrument utama dalam Islam terkait distribusi pendapatan yaitu aturan kepemilikan tanah, penerapan zakat, serta menganjurkan qardul hasan, infak, dan wakaf. Demikianlah Islam mendorong pengentasan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, pengembangan sektor riil, dan pemerataan hasil pembangunan.
Pentingnya Ukhuwwah Islamiyyah dan Menghapuskan kepercayaan Magic
Adanya hadis yang menyebut bahwa umat Islam akan terbagi menjadi tujuh puluh tiga golongan dan yang selamat hanya satu, seolah menjadi alasan normatif bagi umat umat Islam untuk tidak bersatu. Realitas umat yang majemuk, terdiri dari beragai aliran pemikiran dan golongan serta berbagai kelompok gerakan tidak disikapi secara bijak oleh umat Islam sebagai sebuah keniscayaan sejarah, tetapi malah dijadikan alasan untuk mengutuk, menyesatkan, menafikan dan menyerang kelompok lain.
Di Indonesia, dapat disaksikan betapa umat Islam tidak mempunyai satu ritme gerakan untuk melaksanakan agenda umat melawan musuh bersama Islam. Atau jangan-jangan musuh bersama (common enemy) itu tidak pernah terpikirkan oleh umat Islam sehingga justru yang menjadi musuh adalah kelompok Islam lain. Sinergitas antar gerakan Islam tidak tampak dan yang muncul adalah egoisme kelompok, seolah hanya dengan kelompoknya sendiri seluruh persoalan umat Islam dapat dipecahkan.
Masalah lainya adalah kepercayaan terhadap magic. Salah satu akibat yang dimunculkan oleh Magic adalah mejadikan umat Islam anti terhadap ilmu pengetahuan. Padahal, kemajuan yang dicapai Barat dan yang lantas digunakannya untuk menyerang Islam adalah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia Islam terlena dengan kesadaran magic, dan menganggap seolah-olah semua persoalan umat dapat diselesaikan dengan perilaku yang bersumber dari kasadaran macam itu.
Mengatasi Deislamisasi dan Liberalisasi
Proses deislamisasi khususnya di kalangan generasi umat Islam terasa kian gencar. Tidak hanya Kristenisasi, tetapi demoralisasi juga sedang dilancarkan dengan dahsyat ke dalam tubuh umat Islam. Dan sayangnya, kondisi semacam ini dihadapi oleh umat Islam dengan tidak serius dan tidak efektif. Kristenisasi yang demikian canggih dan multi approach (dengan berbagai cara dan pendekatan) lebih banyak dihadapi umat Islam dengan mengeluh dan mengutuk.
Gelombang liberalisasi moral ditengah-tengah generasi muda Islam juga sering dihadapi secara fregmented (terpilah-pilah) dan tidak komprehensif (menyeluruh). Akibatnya, generasi muda Islam kian hari kian menjauh dari ajaran Islam. Ini adalah problem budaya yang harus dihadapi dengan counter hegemonic culture (melawan budaya dominan), dan tidak semata-mata persoalan split personality (ketidak shalihan individu). Upaya untuk mengatasi problem ini, tidak hanya dalam bentuk kajian. Namun, lebih kepada pembentukan lembaga dakwah ataupun lembaga/study club yang konsen dibidangnya. Contohnya pembentukan Korps.Dai oleh PEMUDA PERSIS dan kajian JITU yang mesti di formalkan sebagai lembaga study clubnya.
Konsolidasi Gerakan Dakwah
Di samping gerakan Islam lemah dalam konsolidasi, mereka juga lemah dalam menyusun strategi gerakan sehingga tidak efektif dalam mengusung agenda Islam. Gerakan Islam lebih tertarik dengan membuat program yang bisa memperbesar anggota ketimbang program yang langsung menyentuh persoalan umat. Sehingga program pemberdayaan masyarakat, advokasi terhadap mereka yang tertindas atau membangun kekuatan ekonomi serta politik umat Islam menjadi terlupakan.
Konsolidasi perlu dilakukan kembali umat Islam agar kondisinya tidak semakin parah. Konsolidasi ini meliputi konsolidasi pemahaman dan konsolidasi gerakan. Konsolidasi pemahaman artinya diupayakan adanya pemahaman yang sama diantara umat Islam atas persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi umat. Dan konsolidasi gerakan maksudnya adalah adanya sinergitas anta gerakan Islam walaupun masing-masing bergerak dengan cara dan strateginya sendiri.
Konsolidasi pemahaman dilakukan melalui cara-cara silatururahmi dialogis yang intensif antar gerakan Islam yang membahas tentang topik persoalan umat bukan membahas perbedaan khilafiyah antar mereka. Dari konsolidasi ini muncul rumusan tentang common enemy (musuh bersama) umat Islam yang harus dihadapi dengan terencana, sistemik dan sinergis antar gerakan Islam. Dari konsolidasi ini pula akan terkikis saling curiga dan yang muncul adalah saling percaya dan saling mendukung.
Harapan kita tersemat, bahwa Islam dan tradisi masyarakat akan menyatu menjadi “masyarakat yang berbudaya dan memiliki nilai-nilai Islam “. Karena Islam menjadi asas peradabannya.
1).Umat Islam yang berpendidikan, menjadikan ilmu sebagai pondasi kehidupan. Terutama ilmu agama, tanpa sikap skeptis atau antipati pada pengetahuan umum. Memiliki semangat untuk mendalami ilmu pengetahuan sebagai bekal melawan hegemoni pengetahuan Barat yang sekuler dan liberal
2.) Umat Islam yang bersatu, tidak tercerai berai, walaupun berada dalam berbagai kelompok gerakan.
3).Umat Islam yang maju, tidak terkungkung oleh alam pikiran tahayul.
4). Umat Islam yang dermawan, umat yang gemar untuk membantu sesama saudaranya yang membutuhkan, sehingga masing-masing umat mendapat kesempatan untuk mengakses pendidikan sebagai bekal memberantas kebodohan umat dan dapat hidup layak.
5). Umat Islam yang sederajat, tidak ada lagi umat yang merasa lebih unggul dari yang lain, yang masing-masing dapat bersinergi dalam memperjuangkan Islam.[2]
Wallahu A’lam bi Shawaab.

Lihat videonya juga :






[1] Yusuf Wibisono Staf Peneliti Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FE Universitas Indonesia di Harian Republika 8/10/2006 .
[2] Anjar Nugroho, dalam sebuah artikel “Tantangan Umat Islam Kontemporer dan Solusinya” di Dauroh Dai’se eks-Karesidenan Banyumas.

Comments

Popular Posts