KADER ULAMA DAN PESANTREN

Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fath al Baari menjelaskan hadis dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash, yang (isi) matan hadis nya; Rasulullah Shallawlaahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari seorang hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama Hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan". (Shahih Bukhari, Kitab al Ilmi Bab Kaifa Yuqbadhu Al Ilmu no.100).
Rasulullah Shallawlaahu alaihi wasallam membacakan hadis ini ketika Haji Wada, “Ambillah oleh kalian ilmu sebelum dicabut atau diangkat. Maka berkata seorang Arab Gunung,” Bagaimana cara diangkatnya?” Rasulullah berkata,” Ingatlah, hilangnya ilmu nampak ketika hilangnya orang yang membawanya (para Ulama) tiga kali.  Hadis ini menunjukan bahwa zaman itu tidak akan pernah terjadi sehingga tidak tersisa para Ulama. Dan berkesimpulan para jumhur Ulama, bahwa sanya hal ini terjadi ketika suatu zaman kosong dari seorang mujtahid dan atas kekuasaan Allahlah  hal ini terjadi.
Selain itu, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Hadis ini juga merupakan anjuran untuk menjaga Ilmu (ilmu syar’i) dan peringatan pengangkatan pemimpin dari orang-orang bodoh  yang menjadi ahl fatwa tanpa ilmu. (Ibnu Hajar, Syarh Shahih Bukhari Fath al Baari, 1:195).
Lahirnya para ulama dari rahim pesantren adalah harapan kita semua. Dulu, pesantren merupakan lembaga pendidikan paling tepat untuk membina moral dan ilmu-ilmu agama (keulamaan). (Lihat Tanggapan :Risalah,1988). dahulu tahun 65-an animo masyarakat terhadap pesantren sebagai salah satu tempat kaderisasi ulama terbilang besar. Ada kebanggaan tersendiri bagi orang tua bila mengirimkan putera-puterinya ke pesantren. 
Kini, nampaknya  pergeseran persepsi dan pola pandang  masyarakat yang merosot tajam terhadap lembaga pendidikan ke ulama-an semakin nampak.Di tengah realitas dan problematikanya ( contohnya ;kurikulum pesantren dan standarisasi lulusan yang lemah jadi salah satu penyebabnya). Maka yang lahir dari pesantren, tidak semuanya menjadi Ulama. Lulusan atau alumnus pesantren pun lebih banyak yang berminat melanjutkan pendidikan tinggi umum.
Adapun Ulama yang kini beredar banyak, belum seutuhnya memiliki peran sebagai pewaris Nabi. Menimbun harta, menjilat para penguasa, dan pemikiran liberal yang mereka coba wariskan sangat berbahaya. Bukan Ulama yang istiqamah akan tetapi  ulamaus-su’/ulama jahat.
Ulama adalah ahli waris para Nabi “.(Shahih Bukhari, Kitab al Ilm Bab al Ilm qabla Qaul wal Amal, 1: 24). Posisi tersebut menuntut, ulama menjalankan fungsi kenabian diantaranya membimbing umat Islam dengan pemahaman ilmu yang benar dan teladan akhlaq  yang baik.
Pada hakikatnya, menjaga ilmu syar’i adalah tugas kita bersama sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar pada hadis tersebut.Maka senantiasa mempelajarinya jadi tugas utama kita. Karena, siapa saja yang berkesempatan dan siap untuk serius memperdalam ilmu syar’i merekalah  yang disebut Ulama.
“....Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.At-Taubah : 122).
Wawlaahu A’laam bi Shawaab.




Comments

Popular Posts