KIMIA BAHAGIA AL GHAZALI
Bahagia menjadi kata yang sulit di
definisikan bagi saudara kita di Palestina saat ini dan sejak satu dekade
lampau.Seakan menyadarkan kondisi kita yang larut dalam euphoria saat ini. Euphoria
kata tepat untuk memaknai kondisi kita saat
ini. Merujuk kamus Advance English-Indonesian Dictionary kata ini mempunyai
makna, “perasaan gembira dan bahagia” (Peter Salim :2003) sama hal nya dengan
kata happy artinya “gembira, senang, bahagia”. Sedangkan kata bahagia menurut
kamus bahasa Indonesia (KBBI versi 1.3) adalah “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala hal menyusahkan).”
Kebahagiaan
merupakan harapan semua orang. Kebahagiaan menjadi alasan utama manusia memperjuangkan
hidup. Kebahagiaan sejati terjadi di akhirat, ganjaran bagi mereka termaktub di
dalam al Qur’an :”Kamu lihat orang-orang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-
kejahatan telah mereka kerjakan, sedang
siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang
beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga,
mereka memperoleh apa mereka kehendaki
di sisi Tuhan mereka. demikian itu
adalah karunia besar.”(QS.Asy Syuura
:22).
Kebahagiaan dan
kemenangan sesungguhnya merupakan buah dari perjuangan dan pengorbanan. Kebahagiaan
membuat ketentraman dalam menatap masa depan, seakan melapangkan hati dari
berbagai problematika kehidupan. Seperti itulah pemahaman yang kita tarik mengenai kebahagiaan, ada hal
esensial yang hilang sehingga kita larut
dalam “euphoria” pada beberapa momen insidental tanpa efek menyeluruh pada
realitas kehidupan sesudahnya .
Oleh karena itulah,
barangkali kita perlu mengkaji dan mengeksekusi bahan-bahan kebahagiaan
sebenarnya. Secara utuh Abu Hamid al Ghazali (1111 M/501 H)
seorang pakar tasawuf mengungkap “kimia kebahagiaan” judul dari buah karyanya Kimyatusy
AsySa’adaah, mengenai hakikat kebahagiaan. Al Ghazali
mengungkapkan, bahwa kondisi manusia secara individu ,“Ketahuilah
bahwa manusia ini diciptakan bukan untuk senda-gurau atau "sia-sia"
saja. Tetapi dia dijadikan dengan 'Ajaib sekali dan untuk tujuan besar dan mulia. Meskipun tubuhnya kecil dan berasal dari tanah, namun Ruh atau Nyawa adalah tinggi dan berasal atas Kemaha Kuasaan Nya. Apabila hawa nafsunya dibersihkan sebersih-bersihnya, maka ia
akan mencapai taraf paling tinggi. Jika Ia tidak lagi menjadi budak hawa nafsu yang rendah. Ia akan mempunyai sifat-sifat seperti Malaikat.”
Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk membersihkan Hati
dari karat-karat hawa nafsu dan amarah, sehingga ia jadi seperti cermin bersih
akan memantulkan Cahaya Allah SWT. Aqal sebagai salah satu daya paling tinggi pada manusia sehingga mampu
berfikir. Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal Ketuhanan. Jika daya berfikir
ini meliputi dirinya, maka bila ia mati (berpisah nyawa dari tubuh) , ia
akan meninggalkan kecenderungan pada hawa nafsu dan marah, dan layak duduk
bersama dengan Malaikat. Jika berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan, maka
manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang, tetapi Aqal menjadikan manusia
itu lebih tinggi tarafnya, dalam al Qur’an :
“Tidakkah
kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu
apa di langit dan apa
di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada
membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab memberi penerangan”. (QS.
Luqman:ayat 20)
Kimia ini ialah ringkasnya terbagi
pada empat :
Pertama, (1). Mengenal Diri. Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk
Mengenal Alloh. Sebuah redaksi hadis : Man Arafa Nafsahu wa
qod arafa Rabbahu (Siapa kenal
kenal dirinya akan Mengenal Tuhan Nya). Firman Allah SWT :“Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa
Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah
Tuhanmu tidak cukup (bagi
kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
(QS. Fusshilat: ayat 53)
Tidak ada hal melebihi diri sendiri. Jika anda tidak kenal
diri
sendiri, bagaimana anda hendak tahu hal-hal lain? dimaksudkan dengan mengenal diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, Dan bukan
pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu
bila anda lapar anda makan, bila dahaga anda minum, bila marah anda memukul dan sebagainya. Jika anda bermaksud demikian,
maka binatang itu sama juga dengan anda.
Seharusnya, mampu mengenal
Apakah ada dalam diri anda itu? Dari mana anda datang? Kemana anda pergi? Apakah
tujuan anda berada dalam dunia
fana ini? Untuk mampu
mengenal diri dan menjawab pertanyaan diatas, kita harus tahu bahwa manusia
terdiri dari unsur bathin dan dzhahir. Unsur bathin yaitu
Hati menggerakan semua kekuatan dalam
jiwa, dan unsur dzhahir atau tubuh kita sebagai alat bantu saja. Berdialog
dengan hati tentunya hanya dapat kita tempuh dengan menyelami ilmu agama, apa sich
hakikat keberadaan, tujuan kita di dunia, sehingga akhirnya kita mampu
mengenal diri kita seutuhnya.
Kedua (2)
Mengenal Allah SWT. Satu
Hadis Nabi Muhammad SAW. masyhur ialah; "Siapa
mengenal dirinya, mengenal ia akan TuhanNya".
Ini berarti dengan mematuhi dan memikirkan tentang
dirinya dan sifat-sifatnya, manusia
itu bisa sampai mengenal Allah
SWT. Tetapi, banyak juga
orang
memikirkan
tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan, maka tentulah ada cara-caranya khusus bagi mengenal ini. melampaui semua kuasa kekuatan dan pengetahuan kita. Tidak sempurna pengenalan kita berkenaan Allah
SWT itu, bukan dengan pikiran saja tetapi adalah disertai oleh ibadah dan pengabdian kita. Ringkasnya, kita
mengetahui sumber hukum dalam agama, mengerjakan apa diperintah dan menjauhi apa dilarang …., Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang lalim. (Al-Baqarah; 229).
Ketiga
(3) Mengenal Dunia ini. Dunia ini adalah
ibarat pasar dilewati oleh pengembara
dalam perjalanannya menuju ke suatu
tempat. Di sinilah pengembara itu mengumpulkan bekal untuk perjalanannya. Pendeknya di sinilah manusia itu dengan
menggunakan indera jasmaninya,
memperoleh pengetahuan tentang kerja-kerja Allah
SWT, dan melalui pengetahuan itu mampu
lebih dekat mengenal Nya. Pandangan
terhadap Allah SWT
inilah menentukan kebahagiaan dan
keselamatan di hari kemudian, karena
untuk mendapatkan Ilmu Pengetahuan inilah, maka manusia diturunkan ke dunia. Selagi inderanya ada bersama dengannya,
orang itu dikatakan berada "dalam dunia ini".
Apabila indera ini meninggalkan jasad dan hanya sifat-sifatnya tertinggal. maka orang itu dikatakan telah
kembali
"ke akhirat". Semasa
manusia itu berada dalam dunia ini, dua hal perlu baginya. Pertama ,
melindungi dan mengasuh(memelihara) ruh nya. Kedua, memelihara
dan menjaga tubuhnya. Makanan Ruh itu seperti diungkapkan sebelumnya, ialah :”Dan
ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti
(kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat
kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan
iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran,
kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang
mengikuti jalan lurus,” (QS.Al-Hujurat:ayat 7)
Terakhir, keempat (4) Mengenal
Akhirat. Semua orang-orang beriman pada Al-Qur'an dan Hadis mengetahui tentang kebahagiaan di Surga dan azab di Neraka akan
dirasakan di Akhirat kelak. Tetapi banyak orang tidak
mengetahui adanya Surga dan Neraka. Berkenaan dengan surga Allah SWT pernah
berfirman kepada Nabinya :"mata tidak akan mampu melihat, telinga tidak
pernah mendengar, dan hati tidak pernah berfikir tentang hal-hal disediakan bagi orang-orang sholeh."
Banyak orang, bahkan para
ilmuwan tidak memiliki kepercayaan mereka tentang kebahagiaan dan azab ruh di Akhirat nanti. Tetapi
orang penuh keyakinan tanpa diganggui oleh perasangka akan mencapai keyakinan
penuh dalam hal ini. Firman Allah SWT : “Kamu tidak akan
mendapati sesuatu kaum beriman kepada
Allah dan hari akhirat, saling berkasih sa dengan orang-orang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun
orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun
keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang
Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dating daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga
mengalir
di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah
Ridha terhadap mereka dan mereka pun
merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
golongan Allah itulah golongan
beruntung.” (Mujaadilah: ayat 22).
Ke empat elemen kimia bahagia tersebut merupakan suatu kesatuan.
Sederhana, pertanyaan-pertanyaan seperti, apa anda mengenal diri anda? mengenal
Allah SWT? mengenal dunia ini? dan terakhir, apakah anda mengenal akhirat? sebagai
bekal pengetahuan dan bahan instrospeksi diri, karena“kimia bahagia” mencoba menuntun
kita pada hakikat kebahagiaan seutuhnya, bukan hanya terjebak pada euphoria
sementara.
Wa allahu’a’laam bi Shawaab.
Comments
Post a Comment