BANGUNAN PERADABAN BANGSA DAN CITA UNIVERSITAS ISLAM INTERNASIONAL

Kegemilangan suatu bangsa diukur sejauh mana Ilmu pengetahuan menjadi parameter kemajuan di berbagai bidang; teknologi, sains, ekonomi, bahkan budaya. Sebutlah, peradaban Yunani sebagai hasil jenius bangsa Yunani; produk pemikiran mereka jadi dasar perkembangan sains dan teknologi Barat kini. Perhatian suatu bangsa terhadap Ilmu Pengetahuan, menjadi indikasi sejauh mana maju dan mundurnya peradaban suatu bangsa.
Sebagaimana dilansir oleh Kompas.com (07/31/16), bahwa presiden Joko Widodo sudah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang pendirian Universitas Islam Internasional. Jokowi mengutarakan harapannya bahwa dengan lahirnya Universitas Islam Internasional ini akan lahir nilai-nilai ajaran Islam yang moderat, toleran, dan islam egaliter dan sejalan dengan prinsip Islam Nusantara. Jokowi mengatakan, kelak Indonesia akan menjadi referensi pemikiran dan pembelajaran Islam dunia.
Sejauh mana efektivitas dan urgensitas Universitas Islam Internasional di bangun di Indonesia? Keberadaan UIN (Universitas Islam Negeri) di Indonesia adalah salah satu percontohan yang terus dikembangkan. Fakultas-fakultas umum diperbanyak, salah satu tujuan perluasan fakultas-fakultas umum tiada lain untuk mengimbangi tuntutan ilmu pengetahuan modern. Karenanya, selain ilmu pengetahuan itu secara murni dipelajari, juga diperbandingkan dengan khazanah keilmuan yang dimiliki Islam. Seperti pada fakultas ekonomi misalnya, selain dipelajari ilmu ekonomi modern juga studi ekonomi Islam (Yusuf; 2006,hlm.16).Yang menjadi target utama menciptakan kualitas alumni yang unggul dalam pendidikan modern dan siap menghadapi tantangan global.
Penerapan manajemen ISO (International Organization for Standardization), di beberapa fakultas di UIN menunjukan bahwa seiring terbukanya Asian Free Trade Area (AFTA) sejak Januari 2003 yang membutuhkan SDM-SDM unggul. Lembaga Pendidikan dalam hal ini Universitas menerapkan prinsip-prinsip Manajemen ISO di dalamnya untuk mendapat standar “grade” Nasional ataupun Internasional
Langkah-langkah strategis yang bisa dimulai, berkiblat ke Universitas al Azhar Mesir yang bertransformasi dari tradisonal ke modern; mengirimkan utusan yang dikirimkan ke Eropa untuk mempelajari dan mengkaji berbagai bidang ilmu pengetahuan dari sumbernya yang asli. Tahun 1826, utusan pelajar yang berjumlah empat puluh orang akhirnya diberangkatkan Muhammad Ali Pasha ke Perancis dan dipimpin oleh Prof.Dr.Muhammad Sayyid Tahtâwî. Pada gilirannya kelak, Tahtawi menjadi salah seorang utusan paling menonjol dan disebut-sebut pemimpin gerakan kebangkitan keilmuan di Mesir.(Yusuf; 2006 ,hlm.10).
Pada abad kedua puluh, Al-Azhar kemudian memperluas pengiriman para utusan yang belajar di luar negeri tidak hanya ke Eropa tetapi juga ke Amerika. Beberapa tujuan yang diharapkan dari pengiriman utusan ini, agar mereka mempelajari studi orientalisme, dan juga mempelajari metodologi pendidikan modern di Barat. Gerakan ini dipimpin oleh Sheîkh Muhammad Abduh (1845-1905 M.) yang melanjutkan pertukaran pelajar ke Barat pada tahun 1931.
Mereka yang pernah dikirim untuk belajar di berbagai universitas terkemuka di Barat pada masa-masa awal, tahun 1931, adalah Dr. Muhammad al-Bâhî dan Dr. Muhammad Abdullah Mazhi masing-masing ke universitas Hamburg dan Berlin. Pada tahun 1935, pengiriman pelajar tidak hanya ke Jerman tetapi juga Inggris dan Perancis. Salah seorang yang mendapat kepercayan tersebut saat itu adalah Dr. Abdul Halim Mahmud (Sheîkh Al-Azhar tahun 1973-1978 M.) yang dikirim ke Universitas Sorbonne, Perancis.
Proyek Universitas Islam Internasional ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia untuk dapat segera direalisasikan secara perlahan-lahan. Kebutuhan ilmu pengetahuan sebagai dasar suatu peradaban bangsa dan memperlihatkan wajah Islam sebagai agama yang berkemajuan, dengan optimisme tinggi mengangkat harkat bangsa kita pada posisi tertinggi. Dan masyarakat dunia kini memerlukan dialog dalam bahasa peradaban, bukan hanya dalam bahasa agama. Disini identitas masing-masing peradaban perlu diperkenalkan kembali, untuk kemudian ditemukan sisi perbedaan dan persamaan agar dapat ditentukan bentuk kerjasama dan batas-batas toleransi yang dapat dan harus dipegang (Zarkasy; 2009.hlm.2).
Universitas Basis Peradaban
Sebagai bapaknya Filsafat Sejarah dan Sosiologi, Ibn Khaldun menganalisis bahwa peradaban suatu bangsa adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan yang lahir dari sebuah sistem komunitas (college) yang aktif mengembangkannya. Persebaran komunitas tersebut di perkotaan; Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Bagi Ibn Khaldun indikator yang jelas berkembangnya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan ekonomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Semua itu berkembang dan lahir dari komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan yaitu para aktivis civitas akademika.
Menurut Ibn Khaldun, wujud suatu peradaban merupakan produk dari akumulasi tiga elemen penting yaitu 1) kemampuan manusia untuk berfikir yang menghasilkan sains dan teknologi 2) kemampuan berorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan 3) kesanggupan berjuang untuk hidup. (Ibnu Khaldun; 1978,hlm.54-57). Jadi kemampuan berfikir merupakan elemen asas suatu peradaban. Suatu bangsa akan beradab (berbudaya) hanya jika bangsa itu telah mencapai tingkat kemampuan intelektual tertentu. Sebab kesempurnaan manusia ditentukan oleh ketinggian pemikirannya. Suatu peradaban hanya akan wujud jika manusia di dalamnya memiliki pemikiran yang tinggi sehingga mampu meningkatkan taraf kehidupannya. Suatu pemikiran tidak dapat tumbuh begitu saja tanpa sarana dan prasarana ataupun supra-struktur dan infra-struktur yang tersedia. Dalam konteks saat ini, pendidikan tinggi merupakan sarana penting bagi tumbuhnya pemikiran dan produk-produk. (Zarkasyi; 2009.hlm.7).

Harapan Baru
Dengan lahirnya peraturan presiden Jokowi mengenai Pendirian Universitas Islam Internasional di Indonesia adalah sebuah langkah strategis untuk kembali membangun budaya ilmu masyarakat Indonesia. Paradigma ilmiah, dan berkembangnya produk-produk ilmiah dalam negeri serta tahapan untuk menjadi negara adidaya dengan SDM-SDA yang berkualitas yang lahir dari ruang-ruang kelas Universitas, tidak terbatas mendirikan Universitas Islam Internasional, akan tetapi Universitas Internasional umum yang lain. Para sarjana-magister-doktor yang lahir, merekalah ujung tombak yang akan membangun kembali peradaban bangsa bersama-sama masyarakat Indonesia yang berbasis paradigma ilmiah dan ber-budaya ilmu. Semoga.

Comments

Popular Posts