DAKWAH MAHASISWA PERSIS
Himpunan Mahasiswa PERSIS disingkat HIMA
PERSIS pertama kali diresmikan menjadi bagian dari otonom PERSIS pada tahun
1996 pada masa kepemimpinan KH.Latief Muchtar. Konteks sosial pada masa itu, di
tengah menjamurnya paguyuban atau komunitas yang mengatasnamakan
mahasiswa yang berlatar belakang alumni pesantren Persis, atau berasal dari
keluarga persis. Maka, keberadaan HIMA PERSIS menjadi alternatif tempat
berjuang sekaligus menjadi lokomotif baru gerakan dakwah muda PERSIS selain
PEMUDA PERSIS. Gerakan dakwah HIMA PERSIS bertitik tolak dari
sebuah landasan dalil,”Allah menganugerahkan Al Hikmah (paham Al
Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan
hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (Ulul Albab)”.(baca; QS. Al
Baqarah : 269). HIMA PERSIS
hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat kampus dan bergerak secara komunal
dalam melakukan perubahan (agent of change) dalam tataran sosial,
keagamaan, politik, pendidikan dan ekonomi umat. Kader HIMA PERSIS sebagai
kader dakwah dengan karakteristik; uswah (keteladanan), fathonah (intelektualitas),
militansi dan mobilitas yang tinggi terhadap Islam.
Dakwah menjadi penting sebagai tanggung jawab ilmiah pelajar. Dakwah adalah win solution untuk menjawab setiap perbaikan yang harus dilakukan Dan mahasiswa PERSIS (baca:hima) punya tanggung jawab besar terhadap Islam, diharapkan hasilnya perbaikan umat saat ini maupun kelak. Harapan besar tentang masa depan Islam, masa depan pemikiran Islam, dan masa depan mahasiswa Islam. Serta cita-cita luhur untuk merespon persoalan-persoalan pemikiran Islam, kerakyatan, keumatan maupun kebangsaan. Bahwa hari ini kita menyaksikan “kerumunan” mahasiswa yang jauh atau menjauhkan diri dari persoalan pemikiran Islam, sengaja menjaga jarak dengan persoalan masyarakat. Bahkan lebih ekstrimnya, tidak punya kepekaan sama sekali dengan agenda-agenda nasional yang perlu di perbaiki dengan distribusi pemikiran dan gerakan mahasiswa. Lebih parahnya lagi, gerakan mahasiswa sudah menjadi barang dagangan [komoditi] kalangan tertentu, sehingga idealisme dan cita-cita gerakannya mengalami kebuntuan saluran. Fenomena ini sudah menjadi rahasia umum. Dalam situasi seperti ini, posisi Hima Persis mulai membaca membangun paradigma” (Lam-Lam Pahala: 2012;1).
Dakwah menjadi penting sebagai tanggung jawab ilmiah pelajar. Dakwah adalah win solution untuk menjawab setiap perbaikan yang harus dilakukan Dan mahasiswa PERSIS (baca:hima) punya tanggung jawab besar terhadap Islam, diharapkan hasilnya perbaikan umat saat ini maupun kelak. Harapan besar tentang masa depan Islam, masa depan pemikiran Islam, dan masa depan mahasiswa Islam. Serta cita-cita luhur untuk merespon persoalan-persoalan pemikiran Islam, kerakyatan, keumatan maupun kebangsaan. Bahwa hari ini kita menyaksikan “kerumunan” mahasiswa yang jauh atau menjauhkan diri dari persoalan pemikiran Islam, sengaja menjaga jarak dengan persoalan masyarakat. Bahkan lebih ekstrimnya, tidak punya kepekaan sama sekali dengan agenda-agenda nasional yang perlu di perbaiki dengan distribusi pemikiran dan gerakan mahasiswa. Lebih parahnya lagi, gerakan mahasiswa sudah menjadi barang dagangan [komoditi] kalangan tertentu, sehingga idealisme dan cita-cita gerakannya mengalami kebuntuan saluran. Fenomena ini sudah menjadi rahasia umum. Dalam situasi seperti ini, posisi Hima Persis mulai membaca membangun paradigma” (Lam-Lam Pahala: 2012;1).
Ada dua pola
ciri khas gerakan mahasiswa islam secara umum; Pertama, adalah mahasiswa,
yang—menempatkan dirinya pada posisi garda terdepan dalam pengembangan
keilmuan, penalaran dan wawasan islam. Serta pada saat yang sama menjadi garda
terdepan pula dalam mengantisipasi dan menjawab setiap problema umat
disekitarnya. Kelompok mahasiswa dengan misi seperti ini sebut saja dengan
sebutan “Mahasiswa Garda Depan” yang memiliki ghirah (komitmen) yang
kuat terhadap ilmu pengetahuan dan ketajaman kepekaan terhadap islam, kritis,
berani berbicara tentang kebenaran dan keadilan meskipun terhadap kekuasaan.
Untuk itu mereka berusaha menyingkirkan segala macam yang menghalangi
idealismenya.
Kelompok kedua adalah mahasiswa yang akrab sekali
dengan pragmatisme kehilangan ghirah pada pengembangan ilmu, penegakan
moral, kepekaan terhadap umat islam. Seringkali terbunuh dan membunuh karakter
idealismenya sendiri sebagai mahasiswa sesungguhnya yang merupakan habitat dan
tanggung jawabnya. (Syahrin, 2005: 201)
Tulisan ini sedikit
menawarkan idea/gagasan dakwah mahasiswa PERSIS ke depan. Dan hari ini, tentu mahasiswa
PERSIS siap mewakafkan dirinya menjadi kader garda terdepan di jalan dakwah dan
dunia pergerakan mahasiswa Islam.In shaa Allah.
Wawlaahu a’laam.
Dilan Imam
Adilan
Bidgar
Kaderisasi PW.HIMA PERSIS Jabar 2016-2018
Comments
Post a Comment