AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF BARAT


A. Pendahuluan
 Tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu, baik itu peradaban kuno maupun peradaban modern. Mengapa tradisi ilmu?, sebab manusia memiliki kemampuan untuk berfikir dan rasa ingin mengetahui akan sesuatu di luar dirinya. Setiap manusia akan dihadapkan pada pertanyaan filosofis yang menyangkut eksistensi dan realitas alam semesta termasuk diri manusia itu sendiri sebagai bagian dari kosmologis. Pertanyaan itu adalah dari mana manusia berasal?, untuk apa manusia diciptakan?, dan akan kemana manusia mengakhiri hidupnya?. Ketiga pertanyaan inilah kemudian memunculkan aliran-aliran filsafat besar dunia yang mana satu dengan yang lainnya berusaha memberikan jawaban tentang Hakekat Manusia, Alam Semesta dan Tuhan. Dalam Islam ' Mengetahui tidak mustahil '. 
 Dengan kata lain mengetahui menjadi mungkin. Karena itu, untuk mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan itu menjadi sesuatu yang tidak mustahil. Setiap manusia normal, dengan segala potensi yang ada padanya, sesungguhnya dan pada hakekatnya dapat mengetahui (’ilm)  dan mengenal ( ma’rifah) . Tidak seperti yang diklaim oleh kaum sophis  ( as sufasta’iyah) , relativis  ( al ’indiyah ) , skeptis  ( al ’inadiyah ) , dan agnostis  ( al laadriyah) , bahwa manusia tidak mampu mencapai suatu kebenaran yang hakiki. 
 Problem hubungan antara agama dan sains selalu menarik dan menantang kekritisan kalangan cerdik-pandai, pemikir dan filosuf, khususnya dalam bidang filsafat agama, dahulu maupun kini. Topik ini seakan tak pernah kering dan tuntas dibahas. Di Barat, sekelompok kecil dari mereka berusaha “mendamaikan” antara agama dan sains,[1] sementara sebagian besar beranggapan bahwa masing-masing dari keduanya memiliki logika dan wilayah jurisdiksinya sendiri-sendiri yang sama sekali tidak saling kait-mengkait. Sehingga kebenaran agama (religious truth) dan kebenaran ilmiah atau saintifik (scientific truth) adalah dua makhluk yang berbeda.
Terdapat anggapan umum bahwa kemajuan sains dan teknologi di dunia Barat (Eropa dan Amerika) sejak beberapa abad terakhir ini disebabkan antara lain dan terutama oleh faham sekularisme dan gerakan sekularisasi yang mengakhiri apa yang kemudian disebut sebagai Zaman Kegelapan. Asumsi ini memang ada benarnya, mengingat hubungan yang tidak harmonis sepanjang sejarah antara dogmatisme Gereja dan rasionalisme para saintis. Ketegangan dan konflik antara keduanya begitu sengit, sehingga seringkali satu pihak berusaha menjatuhkan dan menindas yang lain.[2]Terjadilah praktek-praktek seperti ex-komunikasi, kondemnasi, persekusi, immurasi, inkuisisi, dan eksekusi. Tidak sedikit saintis yang dikucilkan, dikutuk, diburu, dikurung, diinterogasi, dan dijatuhi hukuman mati. Kasus Giordano Bruno, Galileo Galilei, dan Baruch Spinoza―untuk menyebut beberapa contoh saja―merupakan ‘lembaran hitam’ dalam sejarah sains di Barat. Sebelum berlanjut pada (pertikaian) problem antara Sains dan Agama.
Ada baiknya untuk mengetahui secara konseptual agama-agama semitik.
Konsep Agama menurut Islam, Kristen, dan Barat. (The Concept of Religion (Din)  
       Terma Din jangka telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai 'agama (religion)'. Hal ini menciptakan banyak kebingungan bahwa definisi din berarti lebih dari agama lainnya, dan juga orang Barat cenderung untuk segera memikirkan Kristen, doktrin-doktrinnya, ritual dan sejarah ketika agama disebutkan. Yang juga mengingatkan mereka tentang sejarah kejam yang buruk inkuisisi dan penganiayaan ilmuwan. Setelah kata agama atau iman disebutkan di dunia Barat, Scott Peck, psikolog kontemporer Barat mengatakan: Mereka secara otomatis akan membuat orang berpikir tentang:Inkuisisi. Bertakhyul. Stultification. Dogmatisme.
          Ketidakpedulian. Kemunafikan. Diri benar. Kekakuan. Kekejaman. Buku-pembakaran. Penyihir terbakar. Inquisisi Takut. Kesesuaian. Morbid-rasa bersalah. Penyakit jiwa. Tapi apakah itu semua ini yang telah dilakukan Allah untuk manusia atau apa yang manusia telah dilakukan untuk Allah ? Hal ini berlimpah jelas bahwa percaya pada Tuhan sering destruktif dogmatis. Dalam rangka untuk membuka jalan bagi Revolusi Ilmiah dunia Barat harus menurunkan dr takhta gereja dan mahkota ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai dewa baru. Oleh karena itu, penting untuk konsep Islam sebagai Den, bukan hanya sebagai agama dipahami dalam pengertian Barat. Dalam sejarah dahannya panjang, Islam tidak pernah menciptakan perpecahan antara sains dan agama, juga tidak umat Islam telah diteror oleh inkuisisi gereja atau kediktatoran moralnya. Sebagai soal fakta, para pengikut Islam menjadi beradab dan ilmiah maju ketika mereka menerima Islam dalam totalitasnya..[3]

Problem Agama dan Sains.
Untuk menelisik problem yang menghinggapi hubungan antara agama dan sains di dalam Kristen dan Barat kita mutlak perlu mengurai dan merunut akar filosofis pemikiran kedua tradisi yang saling bersinergi secara simbiosis ini. Memang tidak secara otomatis bahwa Barat adalah Kristen, atau sebaliknya, Kristen adalah Barat, tapi dapat dikatakan bahwa secara umum Barat modern lebih tepat jika mengidentifikasikan dirinya sebagai berakar pada tradisi Greco-YudeoKristen.
Tradisi Greek atau Yunani kuna sebetulnya bukanlah monolotik. Aliran pemikiran dan filsafat yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi ini sangat beragam dan variatif, bahkan juga kontradiktif dan saling berseberangan. Sehingga tidak mengherankan jika setiap ideologi, aliran pemikiran dan filsafat yang tumbuh dan berkembang di era modern ini selalu mendapatkan basis filosofisnya pada tradisi Yunani tersebut. Polarisasi aliran pemikiran dan filsafat ini tidak ada satupun faktor atau karakteristik yang sama (common) dan menyatukan diantara yang satu dengan lainnya kecuali “rasionalisme” belaka.
Meskipun issue hubungan antara akal dan wahyu adalah lazim dalam “agama-agama
Semitik” (Yudaisme, Kristianitas dan Islam) khususnya, namun issue ini begitu menguras energi, perhatian dan pikiran kalangan Yahudi dan Kristen lebih besar daripada kalangan Islam. Hal ini tak terelakkan dan menjadi keniscayaan karena semata-mata tuntutan logis atau nalar akan kebenaran (the truth) yang begitu inheren dalam diri manusia. Maka ketika mendapatkan gap yang menganga begitu dalam dan curam antara informasi dan data yang disuguhkan Alkitab (The Bible) dengan nalar, tentu siapapun akan bertanya-tanya. Dalam hal ini, ulama Islam telah lebih dulu melakukan kajian-kajian kritis terhadap Alkitab (the biblical criticism) yang murni menggunakan pendekatan rasional dan empiris (atau yang kini sering disebut dengan “scientific approach”),[4] dengan temuan-temuan berupa kejanggalan-kejanggalan yang sangat mencengangkan khususnya yang berkaitan dengan issue hubungan antara akal dan wahyu. 
Di Barat modern sendiri kajian-kajian serupa juga mulai banyak dilakukan. Misalnya, dalam bukunya, History of the Conflict between Religion and Science yang terbit pada tahun 1875, John William Draper, seorang professor di Universitas New York, mencatat sederet kontroversi dan konflik antara agama dan sains dalam tradisi biblikal dengan mengupasnya secara detail berdasarkan argumen-argumen saintifik.[5] Fakta-fakta empiris-saintifik inilah yang dapat menjelaskan tumbuh dan berkembangnya dikotomisasi epistemologis dalam tradisi Kristen dan Barat. Teori-teori hubungan akal dan waÍyu yang dikembangkan oleh kalangan filosuf dan pemikir Yahudi dan Kristen abad pertengahan kemudian menjadi legitimasi gereja untuk melembagakan sebuah intitusi yang sangat mengerikan yang dikenal dengan “inquisisi”. Tugas utama institusi ini adalah untuk memeriksa, menskrining, memberangus dan memasung pemikiran-pemikiran dan teori-teori ilmiah (serta menjatuhkan hukuman/siksaan pada si empunya) yang berseberangan dengan pendapat resmi gereja. Apa yang kemudian dikenal dengan “the Galileo affair”, meskipun ada sebagian penulis yang mencoba memberikan justifikasinya,[6] adalah merupakan saksi sejarah yang terlalu kuat untuk dibantah.
Efek dari akumulasi fakta-fakta tersebut di atas begitu beragam dan cukup kompleks serta saling berkelindan. Di satu sisi, fakta perseteruan akal/sains dengan waÍyu di lingkungan Kristen telah menggesa dan mendorong lahir serta berkembangnya berbagai teori pendekatan untuk memahami Alkitab (The Bible) di Barat, seperti “hermeneutika” Dilthey, Friedrich Schleiermacher dan Paul Ricour; dan “mitologi” John Hick. Kemudian di sisi lain, khususnya yang berkaitan dengan epistemologi, tradisi Greco-Judeo-Kristen ini telah menegaskan dikotomisasi kebenaran (the truth), yakni kebenaran agama (religious truth) dan kebenaran saintifik (scientific truth), yang tidak saling kait-mengkait. Dengan kata lain, tradisi ini sangat berperan aktif dalam membangun kokohnya “sekularisme” Barat modern. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sekularisme ini lahir secara eksklusif akibat perjalanan sejarah dialektis (atau lebih tepatnya, konfrontatif) antara agama dan akal di dunia Kristen dan Barat. Oleh karena itu, upaya untuk memaksakannya pada tradisi lain, khususnya Islam, bukan saja mubazzir, tapi justru akan merusak tradisi lain tersebut.

Faktor-faktor yang membuat Sains berkembang di Barat.
Tidak dapat diragukan bahwasanya tradisi sains di Eropa berhutang banyak kepada dunia Muslim. Di saat dunia Muslim telah berhasil memunculkan saintis-saintis besar dan mengembangkan tradisi keilmuan dan intelektual, orang Eropa saat itu masih merana dan terbelakang jauh di punggung sejarah keilmuan. Para penulis Eropa sendiri menandakan periode ini (900-1500-an M) sebagai kegelapan yang melambangkan keterbelakangan Eropa dalam sains dan intelektual. Jadi dapat dikatakan bahwa faktor pertama dan utama yang membantu perkembangan sains di Eropa adalah hasil jiplakan dari peradaban Islam. Hasil jiplakan itu merupakan ketetapan teori-teori sains yang berwujud sebagai paradigma dasar dalam perkembangan sains di Eropa dan titik puncaknya dari semua itu adalah revolusi sains sekitar abad 17. Edward Grant, salah satu ilmuan kontemporer dalam Sejarah sains tidak hanya mengetahui fakta itu tetapi juga mengakuinya. Hal ini dapat diketahui dari catatanya berikut:
Revolusi sains tidak akan terjadi di Eropa abad 17 M jika standar sains dan filsafat natural masih setaraf sains pada pertengahan pertama abad 12 M, yaitu sebelum adanya penerjemahan sains Yunani-Arab di pertengahan akhir abad itu. Tanpa penerjemahan yang merubah kehidupan intelektual Eropa itu dan beberapa peristiwa setelahnya, Revolusi sains abad 17 mustahil dapat terwujudkan.[7]
Jadi, penerjemahan sains dan filsafat Yunani-Arab natural ke dalam bahasa Latin merupakan syarat awal yang mutlak diperlukan dalam upaya kemunculan tradisi keilmuan di Eropa. Poin penting dari faktor ini patut digarisbawahi, seperti yang diungkapkan Grant berikut:
“Dikarenakan pentingnya karya-karya terjemahan itu, peradaban Islam harus diberi tempat yang memadai dalam sumbangsihnya dalam pencapaian dunia Barat dalam bidang sains. Beberapa abad sebelumnya, ilmuwan Muslim  telah menerjemahkan sebagian besar sains Yunani ke dalam bahasa Arab dan kemudian memberi tambahan dan kontribusi yang banyak terhadap aslinya sehingga terbentuk apa yang sekarang dinamakan sains YunaniArab (Yunani-Islam), dimana terdapat karya-karya Aristoteles, berikut dengan karya komentar atasnya.  Sebagian besar kerangka keilmuan ini kemudian ditransfer ke dunia Barat secara terus-menerus. Meskipun sains di Barat bisa saja berkembang tanpa mengambil peninggalan Yunani-Islam, akan tetapi sains modern sudah pasti harus menunggu berabad-abad lagi untuk lahir, atau mungkin masih berdiam dalam rahim masa depan.”[8]
Sebenarnya, Edward Grant bukan satu-satunya yang mengakui kontribusi besar dari orang Muslim  kepada tradisi sains dan keilmuan Eropa. Sebelumnya sudah ada Goichon A.M. Dalam Encyclopaedia of Islam, entry “Ibn Sina”, dia mengatakan: 
Transmisi sains Yunani oleh orang Arab (baca Muslim) ke dalam bahasa Latin melahirkan pencerahan (renaissance) pertama di selatan Eropa mulai abad 10 di Sisilia, kemudian abad 12 di sekitar Toledo dan tidak lama kemudian di Perancis. Dua karya utama Ibn Sina, Shifa’ dan Qanun, menjadikannya master tanpa tanding dalam bidang kedokteran, ilmu pengetahuan alam dan filsafat. Sejak abad 12 hingga 16 M, pengajaran dan praktek kedokteran [di Eropa] merujuk padanya.  Karya Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya al Razi juga terkenal dan dia sendiri dianggap ahli klinik terbaik; tetapi buku Qanun tetap menjadi Korpus pengajaran yang tidak tergantikan karena buku Ibn Rushd Kitab alKulliyyat fi al-Ùibb hanya memuat masalah bagian pertama Qanun. Karya Ibn Rushd tersebut telah diterjemahkan seluruhnya oleh Gerard dari Cremona antara tahun 1150 dan 1187 M. Ada 87 terjemahan karya itu dan beberapa di antaranya merupakan terjemahan sebagian.[9]
Setelah mewarisi pradigma keilmuan dasar dari orang Muslim, orang Barat kemudian membekali dirinya dengan ilmu yang dengan segala cara bertransformasi agar siap menyambut revolusi sains. Proses terpenting dari transformasi keilmuan ini adalah institusionalisasi. Orang Eropa lantas membentuk institusi universitas. Aktivitas inilah yang menjadi fondasi sains modern sejak abad pertengahan hingga sekarang ini. 
Di univeristas, dapat dilihat bagaimana ilmu sains dan filsafat itu diatur dengan baik. Pengajar dan pelajar betul-betul memanfaatkan kesempatan yang sangat berguna ini. Mereka tidak hanya saling bertukar ilmu pengetahuan tetapi juga membuat penyelidikan lanjutan di dunia ilmu pengetahuan. Filsafat natural ternyata lebih unggul di Barat karena dapat menyerapkan karya-karya filsafat agung kedalam dunia pengetahuan. Elemen penting lainnya dalam kelembagaan ini ialah adanya kebebasan yang dinikmati oleh pengajar dan pelajar di universitas. Meskipun para guru mempunyai kesempatan untuk mempunyai pelajar dari latarbelakang yang mapan, para murid tidak terikat atau terpaksa bergantung kepada satu guru saja. Pada saat yang sama, para pelajar dapat mempunyai lingkup mata pelajaran yang luas dimana mereka akan memilih spesialisasi. 
Di samping ilmu filsafat natural dan logika, para pelajar juga dikenalkan dengan ilmu-ilmu eksakta seperti aritmatika,  geometri, musik, dan astronomi, yang menjadi mata pelajaran untuk tingkatan sarjana muda (baccalaureate) and Master (Master of Arts).[10] Dua jenjang ini dan digabungkan dengan banyaknya waktu yang dihabiskan pelajar di setiap jenjang tersebut sebelum kelulusan, merupakan indikasi bagaimana proses pembelajaran di dunia Barat menjadi begitu terorganisir dan maju. Hampir semua pelajar di universitas sama-sama dikenalkan dengan kajian ilmiah. Jadi, sebagai lembaga yang bertanggungjawab dalam memproduksi dan melipatgandakan ilmuwan-ilmuwan masa depan, universitas, dengan segala sarananya dibentuk untuk memfasilitasi dan memastikan berkembangnya sains di bagian dunia itu.  

Kesimpulan
Disebabkan oleh teknologi berbasis-sains industrial, hubungan antara agama dan sains bercerai untuk sekian abad, terutama bicara relasi antara sains dan agama diluar Islam. Di era post modern, kaum positivistic malah mencoba mereduksionis agama lewat sains. Para ilmuwan  melakukan penelitian-penelitian dan penemuan-penemuan mutakhir demi industri-industri dan perusahaan, dan juga mendapatkan posisi-posisi tinggi pada hampir setiap cabang pemerintahan. Misalnya, di Amerika Serikat mereka memberi nasihat kepada Presiden dan Kongres tentang isu-isu penting (kebanyakannya yang bersifat ilmiah berupa teknologi, ekonomi, dan sains secara umum).
 Sebagaimana kita telah lihat, sains betul-betul memperlihatkan sisi diktatornya, namun pada satu sisi memperlihatkan kegemilangan dalam membangun peradaban. Ketika Sains berhadapan dengan agama. Faktor pembeda utama dalam memisahkan periode modern dengan periode pertengahan dan periode klasik, terutama setelah ia betul-betul mempengaruhi teknologi. Namun, kini kita juga menyadari bahwa sains itu hanya merupakan instrumen yang diciptakan oleh para filosof dan ilmuwan. Dengan demikian, sains ataupun teknologi berbasis-sains sebagai instrumen buatan manusia yang mempunyai keterbatasannya sendiri tidak dapat kita harapkan sebagai obat mujarab bagi segala penyakit di dunia yang kini kita hadapi. Hingga akhirnya, Einsten berkata: lmu tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh. Albert Einstein, seorang ilmuwan
Yahudi pernah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” 
Wawlaahu’alam bishowaab.

 DAFTAR PUSTAKA
 Andrew Dickson White, A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom, 2 jilid (New York: Appleton, dan London: Macmillan, 1896);
Daniel L. Pals, Seven Theory of Religion, IrciSod:: Jogjakarta, 2012
 David C. Lindberg dan Ronald L. Numbers, God and Nature: Historical Essays on the Encounter Between Christianity and Science (Berkeley: University of California Press, 1986).
Draper, John William, History of the Conflict between Religion and Science (London: Henry S. King & Co., 1875 [Diterbitkan ulang oleh Gregg International Publishers Limited, Westmead, 1970]). Santayana, George, Reason in Religion , New York: Collier Books, 1962.  Edward Grant, The Foundations of Modern Science in the Middle Ages: Their Religious and Intellectual Contexts, (Cambridge: Cambridge University Press, 1996)
 Goichon A. M., “Ibn Sina”, dalam The Encyclopaedia of Islam, New edition 10 vols. (Leiden and London: E. J. Brill and Luzac &Co.. 1986)
 John William Draper, History of the Conflict between Religion and Science (London:
H.S. King; dan New York: Appleton, 1874; cetak ulang Farnborough, Hampshire: Gregg
International, 1970; diringkas dan diedit ulang oleh Charles T. Sprading, New York: Vanguard Press, 1926);  
 John F. Wippel, “The Condemnation of 1270 and 1277 at Paris,” dalam Journal of Medieval and Renaissance Studies 7 (1977).
  Langford, Jerome J., Galileo, Science and the Church (Michigan: The University of Michigan Press, [1966] ed. Ke-3 1992).
  Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam (Chicago: The University of Chicago Press, 1974
 Paul F. Grindler, “Venice, Science, and the Index of Prohibited Books,” dalam The
Nature of Scientific Discovery, ed. Owen Gingerich (Washington, D.C.: The Smithsonian Institution Press, 1975).
             
Sumber Utama : Jurnal ISLAMIA Pemikiran dan Peradaban Islam vol.VII s.d XII.
         




[1] Seorang filosuf kontemporer, George Santayana, misalnya, mengawali bab pertama dari bukunya yang berjudul Reason in Religion dengan menyitir pepatah Bacon yang berbunyi “a little philosophy inclineth man’s mind to atheism, but depth in philosophy bringeth men’s minds about to religion”. [Santayana, George, Reason in Religion (New York: Collier Books, 1962), hal. 9.
[2] Literatur seputar perseteruan ini terlalu banyak untuk disebutkan. Lihat, misalnya, John William Draper, History of the Conflict between Religion and Science (London: H.S. King; dan New York: Appleton, 1874; cetak ulang Farnborough, Hampshire: Gregg International, 1970; diringkas dan diedit ulang oleh Charles T. Sprading, New York: Vanguard Press, 1926); Andrew Dickson White, A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom, 2 jilid (New York: Appleton, dan London: Macmillan, 1896); Paul F. Grindler, “Venice, Science, and the Index of Prohibited Books,” dalam The Nature of
Scientific Discovery, ed. Owen Gingerich (Washington, D.C.: The Smithsonian Institution Press, 1975), 335-47; John F. Wippel, “The Condemnation of 1270 and 1277 at Paris,” dalam Journal of Medieval and Renaissance Studies 7 (1977): 169-201; David C. Lindberg dan Ronald L. Numbers, God and Nature: Historical Essays on the Encounter Between Christianity and Science (Berkeley: University of California Press, 1986).  
[3] Clear evidence from statement made by Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), 1: 71; special acknowledgment forwarded by Montgomery Watt, to the Islamic civilization and its influence in Western civilization; see The Influence of Islam in Medieval Europe (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1972), 2; see also, Salma Bishlawy, Islam, in Living Schools of Religion (Religion in the Twentieth Century), ed Vergilius Ferm  (New Jersey: Littlefield: Adam & Co. Paterson, 1961).
[4] Lihat, misalnya kajian-kajian Ibn Hazm (384-456 H) terhadap Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) dalam kitabnya, Al Fashl fi Al Milal wa Ahwa wa Al Nihal,  (Beirut: DÉr al-MaÑrifah, 1986), juz’ 1 & juz’ 2 hal. 1-81.
[5] Untuk lebih detainya lihat: Draper, John William, History of the Conflict between Religion and Science
(London: Henry S. King & Co., 1875 [Diterbitkan ulang oleh Gregg International Publishers Limited, Westmead, 1970]). Pada tahun 1896, Andrew Dickson White menerbitkan karya serupa dengan judul, The Warfare of Science with Theology (St. Petersburg, April 14, 1894).
[6] Lihat, misalnya: Langford, Jerome J., Galileo, Science and the Church (Michigan: The University of Michigan Press, [1966] ed. Ke-3 1992).
[7] Edward Grant, The Foundations of Modern Science in the Middle Ages: Their Religious and Intellectual Contexts, (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 170.
[8] Ibid. 171-172.  
[9] Goichon A. M., “Ibn Sina”, dalam The Encyclopaedia of Islam, New edition 10 vols. (Leiden and London: E. J. Brill and Luzac &Co.. 1986),3: 944.  
[10] Ibid., 172.  

Comments

Popular Posts