AGAMA DAN SAINS DALAM PERSPEKTIF BARAT
A. Pendahuluan
Tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa
didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu, baik itu peradaban kuno maupun
peradaban modern. Mengapa tradisi ilmu?, sebab manusia memiliki kemampuan untuk
berfikir dan rasa ingin mengetahui akan sesuatu di luar dirinya. Setiap manusia
akan dihadapkan pada pertanyaan filosofis yang menyangkut eksistensi dan
realitas alam semesta termasuk diri manusia itu sendiri sebagai bagian dari kosmologis. Pertanyaan itu adalah dari
mana manusia berasal?, untuk apa manusia diciptakan?, dan akan kemana manusia
mengakhiri hidupnya?. Ketiga pertanyaan inilah kemudian memunculkan
aliran-aliran filsafat besar dunia yang mana satu dengan yang lainnya berusaha memberikan
jawaban tentang Hakekat Manusia, Alam Semesta dan Tuhan. Dalam Islam ' Mengetahui tidak mustahil '.
Dengan kata lain mengetahui menjadi mungkin.
Karena itu, untuk mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan itu menjadi sesuatu
yang tidak mustahil. Setiap manusia normal, dengan segala potensi yang ada
padanya, sesungguhnya dan pada hakekatnya dapat mengetahui (’ilm)
dan mengenal ( ma’rifah) .
Tidak seperti yang diklaim oleh kaum sophis
( as sufasta’iyah) ,
relativis ( al ’indiyah ) , skeptis ( al ’inadiyah ) , dan agnostis ( al
laadriyah) , bahwa manusia tidak mampu mencapai suatu kebenaran yang
hakiki.
Problem hubungan antara agama dan sains selalu
menarik dan menantang kekritisan kalangan cerdik-pandai, pemikir dan filosuf,
khususnya dalam bidang filsafat agama, dahulu maupun kini. Topik ini seakan tak
pernah kering dan tuntas dibahas. Di Barat, sekelompok kecil dari mereka berusaha “mendamaikan” antara agama dan sains,[1]
sementara sebagian besar beranggapan bahwa masing-masing dari keduanya memiliki
logika dan wilayah jurisdiksinya sendiri-sendiri yang sama sekali tidak saling
kait-mengkait. Sehingga kebenaran agama (religious
truth) dan kebenaran ilmiah atau saintifik (scientific truth) adalah dua makhluk yang berbeda.
Terdapat
anggapan umum bahwa kemajuan sains dan teknologi di dunia Barat (Eropa dan
Amerika) sejak beberapa abad terakhir ini disebabkan antara lain dan terutama
oleh faham sekularisme dan gerakan sekularisasi yang mengakhiri apa yang
kemudian disebut sebagai Zaman Kegelapan. Asumsi ini memang ada benarnya,
mengingat hubungan yang tidak harmonis sepanjang sejarah antara dogmatisme
Gereja dan rasionalisme para saintis. Ketegangan dan konflik antara keduanya
begitu sengit, sehingga seringkali satu pihak berusaha menjatuhkan dan menindas
yang lain.[2]Terjadilah praktek-praktek seperti ex-komunikasi, kondemnasi, persekusi,
immurasi, inkuisisi, dan eksekusi. Tidak sedikit saintis yang dikucilkan,
dikutuk, diburu, dikurung, diinterogasi, dan dijatuhi hukuman mati. Kasus
Giordano Bruno, Galileo Galilei, dan Baruch Spinoza―untuk menyebut beberapa
contoh saja―merupakan ‘lembaran hitam’ dalam sejarah sains di Barat. Sebelum
berlanjut pada (pertikaian) problem antara Sains dan Agama.
Ada baiknya untuk mengetahui
secara konseptual agama-agama semitik.
Konsep Agama menurut
Islam, Kristen, dan Barat. (The Concept of Religion (Din)
Terma
Din jangka telah banyak
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai 'agama (religion)'. Hal ini
menciptakan banyak kebingungan bahwa definisi din berarti lebih dari agama
lainnya, dan juga orang Barat cenderung untuk segera memikirkan Kristen,
doktrin-doktrinnya, ritual dan sejarah ketika agama disebutkan. Yang juga
mengingatkan mereka tentang sejarah kejam yang buruk inkuisisi dan penganiayaan
ilmuwan. Setelah kata agama atau iman disebutkan di dunia Barat, Scott Peck,
psikolog kontemporer Barat mengatakan: Mereka secara otomatis akan membuat
orang berpikir tentang:Inkuisisi. Bertakhyul. Stultification. Dogmatisme.
Ketidakpedulian. Kemunafikan. Diri benar. Kekakuan.
Kekejaman. Buku-pembakaran. Penyihir terbakar. Inquisisi Takut. Kesesuaian.
Morbid-rasa bersalah. Penyakit jiwa. Tapi apakah itu semua ini yang telah
dilakukan Allah untuk manusia atau apa yang manusia telah dilakukan untuk Allah
? Hal ini berlimpah jelas bahwa percaya pada Tuhan sering destruktif dogmatis.
Dalam rangka untuk membuka jalan bagi Revolusi Ilmiah dunia Barat harus
menurunkan dr takhta gereja dan mahkota ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai
dewa baru. Oleh karena itu, penting untuk konsep Islam sebagai Den, bukan hanya
sebagai agama dipahami dalam pengertian Barat. Dalam sejarah dahannya panjang,
Islam tidak pernah menciptakan perpecahan antara sains dan agama, juga tidak
umat Islam telah diteror oleh inkuisisi gereja atau kediktatoran moralnya.
Sebagai soal fakta, para pengikut Islam menjadi beradab dan ilmiah maju ketika
mereka menerima Islam dalam totalitasnya..[3]
Problem Agama dan
Sains.
Untuk
menelisik problem yang menghinggapi hubungan antara agama dan sains di dalam
Kristen dan Barat kita mutlak perlu mengurai dan merunut akar filosofis
pemikiran kedua tradisi yang saling bersinergi secara simbiosis ini. Memang
tidak secara otomatis bahwa Barat adalah Kristen, atau sebaliknya, Kristen
adalah Barat, tapi dapat dikatakan bahwa secara umum Barat modern lebih tepat
jika mengidentifikasikan dirinya sebagai berakar pada tradisi
Greco-YudeoKristen.
Tradisi Greek
atau Yunani kuna sebetulnya bukanlah monolotik. Aliran pemikiran dan filsafat
yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi ini sangat beragam dan variatif,
bahkan juga kontradiktif dan saling berseberangan. Sehingga tidak mengherankan
jika setiap ideologi, aliran pemikiran dan filsafat yang tumbuh dan berkembang
di era modern ini selalu mendapatkan basis filosofisnya pada tradisi Yunani
tersebut. Polarisasi aliran pemikiran dan filsafat ini tidak ada satupun faktor
atau karakteristik yang sama (common)
dan menyatukan diantara yang satu dengan lainnya kecuali “rasionalisme” belaka.
Meskipun issue
hubungan antara akal dan wahyu adalah
lazim dalam “agama-agama
Semitik” (Yudaisme,
Kristianitas dan Islam) khususnya, namun issue
ini begitu menguras energi, perhatian dan pikiran kalangan Yahudi dan Kristen
lebih besar daripada kalangan Islam. Hal ini tak terelakkan dan menjadi keniscayaan
karena semata-mata tuntutan logis atau nalar akan kebenaran (the truth) yang begitu inheren dalam
diri manusia. Maka ketika mendapatkan gap yang menganga begitu dalam dan curam
antara informasi dan data yang disuguhkan Alkitab (The Bible) dengan nalar, tentu siapapun akan bertanya-tanya. Dalam
hal ini, ulama Islam telah lebih dulu melakukan kajian-kajian kritis terhadap
Alkitab (the biblical criticism) yang
murni menggunakan pendekatan rasional dan empiris (atau yang kini sering
disebut dengan “scientific approach”),[4]
dengan temuan-temuan berupa kejanggalan-kejanggalan yang sangat mencengangkan
khususnya yang berkaitan dengan issue
hubungan antara akal dan wahyu.
Di Barat modern sendiri kajian-kajian
serupa juga mulai banyak dilakukan. Misalnya, dalam bukunya, History of the Conflict between Religion and
Science yang terbit pada tahun 1875, John William Draper, seorang professor
di Universitas New York, mencatat sederet kontroversi dan konflik antara agama
dan sains dalam tradisi biblikal dengan mengupasnya secara detail berdasarkan
argumen-argumen saintifik.[5]
Fakta-fakta empiris-saintifik inilah yang dapat menjelaskan tumbuh dan
berkembangnya dikotomisasi epistemologis dalam tradisi Kristen dan Barat.
Teori-teori hubungan akal dan waÍyu yang
dikembangkan oleh kalangan filosuf dan pemikir Yahudi dan Kristen abad
pertengahan kemudian menjadi legitimasi gereja untuk melembagakan sebuah
intitusi yang sangat mengerikan yang dikenal dengan “inquisisi”. Tugas utama
institusi ini adalah untuk memeriksa, menskrining, memberangus dan memasung
pemikiran-pemikiran dan teori-teori ilmiah (serta menjatuhkan hukuman/siksaan
pada si empunya) yang berseberangan dengan pendapat resmi gereja. Apa yang
kemudian dikenal dengan “the Galileo affair”, meskipun ada sebagian penulis
yang mencoba memberikan justifikasinya,[6]
adalah merupakan saksi sejarah yang terlalu kuat untuk dibantah.
Efek dari
akumulasi fakta-fakta tersebut di atas begitu beragam dan cukup kompleks serta
saling berkelindan. Di satu sisi, fakta perseteruan akal/sains dengan waÍyu di lingkungan Kristen telah
menggesa dan mendorong lahir serta berkembangnya berbagai teori pendekatan
untuk memahami Alkitab (The Bible) di
Barat, seperti “hermeneutika” Dilthey, Friedrich Schleiermacher dan Paul
Ricour; dan “mitologi” John Hick. Kemudian di sisi lain, khususnya yang
berkaitan dengan epistemologi, tradisi Greco-Judeo-Kristen ini telah menegaskan
dikotomisasi kebenaran (the truth), yakni
kebenaran agama (religious truth) dan
kebenaran saintifik (scientific truth),
yang tidak saling kait-mengkait. Dengan kata lain, tradisi ini sangat berperan
aktif dalam membangun kokohnya “sekularisme” Barat modern. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa sekularisme ini lahir secara eksklusif akibat
perjalanan sejarah dialektis (atau lebih tepatnya, konfrontatif) antara agama
dan akal di dunia Kristen dan Barat. Oleh karena itu, upaya untuk memaksakannya
pada tradisi lain, khususnya Islam, bukan saja mubazzir, tapi justru akan
merusak tradisi lain tersebut.
Faktor-faktor yang membuat Sains berkembang
di Barat.
Tidak dapat
diragukan bahwasanya tradisi sains di Eropa berhutang banyak kepada dunia
Muslim. Di saat dunia Muslim telah berhasil memunculkan saintis-saintis besar
dan mengembangkan tradisi keilmuan dan intelektual, orang Eropa saat itu masih
merana dan terbelakang jauh di punggung sejarah keilmuan. Para penulis Eropa
sendiri menandakan periode ini (900-1500-an M) sebagai kegelapan yang melambangkan
keterbelakangan Eropa dalam sains dan intelektual. Jadi dapat dikatakan bahwa
faktor pertama dan utama yang membantu perkembangan sains di Eropa adalah hasil
jiplakan dari peradaban Islam. Hasil jiplakan itu merupakan ketetapan
teori-teori sains yang berwujud sebagai paradigma dasar dalam perkembangan
sains di Eropa dan titik puncaknya dari semua itu adalah revolusi sains sekitar
abad 17. Edward Grant, salah satu ilmuan kontemporer dalam Sejarah sains tidak
hanya mengetahui fakta itu tetapi juga mengakuinya. Hal ini dapat diketahui
dari catatanya berikut:
Revolusi sains tidak akan terjadi di Eropa abad 17 M jika
standar sains dan filsafat natural masih setaraf sains pada pertengahan pertama
abad 12 M, yaitu sebelum adanya penerjemahan sains Yunani-Arab di pertengahan
akhir abad itu. Tanpa penerjemahan yang merubah kehidupan intelektual Eropa itu
dan beberapa peristiwa setelahnya, Revolusi sains abad 17 mustahil dapat
terwujudkan.[7]
Jadi, penerjemahan sains dan filsafat
Yunani-Arab natural ke dalam bahasa Latin merupakan syarat awal yang mutlak
diperlukan dalam upaya kemunculan tradisi keilmuan di Eropa. Poin penting dari
faktor ini patut digarisbawahi, seperti yang diungkapkan Grant berikut:
“Dikarenakan pentingnya karya-karya terjemahan itu,
peradaban Islam harus diberi tempat yang memadai dalam sumbangsihnya dalam
pencapaian dunia Barat dalam bidang sains. Beberapa abad sebelumnya, ilmuwan
Muslim telah menerjemahkan sebagian
besar sains Yunani ke dalam bahasa Arab dan kemudian memberi tambahan dan kontribusi
yang banyak terhadap aslinya sehingga terbentuk apa yang sekarang dinamakan
sains YunaniArab (Yunani-Islam), dimana terdapat karya-karya Aristoteles,
berikut dengan karya komentar atasnya.
Sebagian besar kerangka keilmuan ini kemudian ditransfer ke dunia Barat
secara terus-menerus. Meskipun sains di Barat bisa saja berkembang tanpa
mengambil peninggalan Yunani-Islam, akan tetapi sains modern sudah pasti harus
menunggu berabad-abad lagi untuk lahir, atau mungkin masih berdiam dalam rahim
masa depan.”[8]
Sebenarnya, Edward Grant bukan
satu-satunya yang mengakui kontribusi besar dari orang Muslim kepada tradisi sains dan keilmuan Eropa.
Sebelumnya sudah ada Goichon A.M. Dalam Encyclopaedia of Islam, entry “Ibn
Sina”, dia mengatakan:
Transmisi sains Yunani oleh orang Arab (baca Muslim) ke
dalam bahasa Latin melahirkan pencerahan (renaissance)
pertama di selatan Eropa mulai abad 10 di Sisilia, kemudian abad 12 di sekitar
Toledo dan tidak lama kemudian di Perancis. Dua karya utama Ibn Sina, Shifa’ dan Qanun, menjadikannya master tanpa tanding dalam bidang kedokteran,
ilmu pengetahuan alam dan filsafat. Sejak abad 12 hingga 16 M, pengajaran dan
praktek kedokteran [di Eropa] merujuk padanya.
Karya Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya al Razi juga terkenal dan dia
sendiri dianggap ahli klinik terbaik; tetapi buku Qanun tetap menjadi Korpus pengajaran yang tidak tergantikan karena
buku Ibn Rushd Kitab alKulliyyat fi
al-Ùibb hanya memuat masalah bagian pertama Qanun. Karya Ibn Rushd tersebut telah diterjemahkan seluruhnya oleh
Gerard dari Cremona antara tahun 1150 dan 1187 M. Ada 87 terjemahan karya itu
dan beberapa di antaranya merupakan terjemahan sebagian.[9]
Setelah mewarisi pradigma keilmuan dasar
dari orang Muslim, orang Barat kemudian membekali dirinya dengan ilmu yang
dengan segala cara bertransformasi agar siap menyambut revolusi sains. Proses
terpenting dari transformasi keilmuan ini adalah institusionalisasi. Orang
Eropa lantas membentuk institusi universitas. Aktivitas inilah yang menjadi
fondasi sains modern sejak abad pertengahan hingga sekarang ini.
Di univeristas, dapat dilihat bagaimana
ilmu sains dan filsafat itu diatur dengan baik. Pengajar dan pelajar
betul-betul memanfaatkan kesempatan yang sangat berguna ini. Mereka tidak hanya
saling bertukar ilmu pengetahuan tetapi juga membuat penyelidikan lanjutan di
dunia ilmu pengetahuan. Filsafat natural ternyata lebih unggul di Barat karena
dapat menyerapkan karya-karya filsafat agung kedalam dunia pengetahuan. Elemen
penting lainnya dalam kelembagaan ini ialah adanya kebebasan yang dinikmati
oleh pengajar dan pelajar di universitas. Meskipun para guru mempunyai
kesempatan untuk mempunyai pelajar dari latarbelakang yang mapan, para murid
tidak terikat atau terpaksa bergantung kepada satu guru saja. Pada saat yang
sama, para pelajar dapat mempunyai lingkup mata pelajaran yang luas dimana
mereka akan memilih spesialisasi.
Di samping ilmu filsafat natural dan
logika, para pelajar juga dikenalkan dengan ilmu-ilmu eksakta seperti
aritmatika, geometri, musik, dan
astronomi, yang menjadi mata pelajaran untuk tingkatan sarjana muda (baccalaureate) and Master (Master of Arts).[10]
Dua jenjang ini dan digabungkan dengan banyaknya waktu yang dihabiskan pelajar
di setiap jenjang tersebut sebelum kelulusan, merupakan indikasi bagaimana
proses pembelajaran di dunia Barat menjadi begitu terorganisir dan maju. Hampir
semua pelajar di universitas sama-sama dikenalkan dengan kajian ilmiah. Jadi,
sebagai lembaga yang bertanggungjawab dalam memproduksi dan melipatgandakan
ilmuwan-ilmuwan masa depan, universitas, dengan segala sarananya dibentuk untuk
memfasilitasi dan memastikan berkembangnya sains di bagian dunia itu.
Kesimpulan
Disebabkan oleh teknologi berbasis-sains industrial, hubungan antara agama dan sains bercerai untuk sekian abad, terutama bicara relasi antara sains dan agama diluar Islam. Di era post modern, kaum positivistic malah mencoba mereduksionis agama lewat sains. Para ilmuwan melakukan penelitian-penelitian dan penemuan-penemuan mutakhir demi industri-industri dan perusahaan, dan juga mendapatkan posisi-posisi tinggi pada hampir setiap cabang pemerintahan. Misalnya, di Amerika Serikat mereka memberi nasihat kepada Presiden dan Kongres tentang isu-isu penting (kebanyakannya yang bersifat ilmiah berupa teknologi, ekonomi, dan sains secara umum).
Disebabkan oleh teknologi berbasis-sains industrial, hubungan antara agama dan sains bercerai untuk sekian abad, terutama bicara relasi antara sains dan agama diluar Islam. Di era post modern, kaum positivistic malah mencoba mereduksionis agama lewat sains. Para ilmuwan melakukan penelitian-penelitian dan penemuan-penemuan mutakhir demi industri-industri dan perusahaan, dan juga mendapatkan posisi-posisi tinggi pada hampir setiap cabang pemerintahan. Misalnya, di Amerika Serikat mereka memberi nasihat kepada Presiden dan Kongres tentang isu-isu penting (kebanyakannya yang bersifat ilmiah berupa teknologi, ekonomi, dan sains secara umum).
Sebagaimana kita
telah lihat, sains betul-betul memperlihatkan sisi diktatornya, namun pada satu
sisi memperlihatkan kegemilangan dalam membangun peradaban. Ketika Sains
berhadapan dengan agama. Faktor pembeda utama dalam memisahkan periode modern
dengan periode pertengahan dan periode klasik, terutama setelah ia betul-betul
mempengaruhi teknologi. Namun, kini kita juga menyadari bahwa sains itu hanya
merupakan instrumen yang diciptakan oleh para filosof dan ilmuwan. Dengan
demikian, sains ataupun teknologi berbasis-sains sebagai instrumen buatan
manusia yang mempunyai keterbatasannya sendiri tidak dapat kita harapkan
sebagai obat mujarab bagi segala penyakit di dunia yang kini kita hadapi.
Hingga akhirnya, Einsten berkata: lmu tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh. Albert
Einstein, seorang ilmuwan
Yahudi pernah
mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”
Wawlaahu’alam bishowaab.
DAFTAR PUSTAKA
Andrew Dickson
White, A History of the Warfare of
Science with Theology in Christendom, 2 jilid (New York: Appleton, dan London: Macmillan,
1896);
Daniel L. Pals, Seven Theory of Religion, IrciSod::
Jogjakarta, 2012
David C.
Lindberg dan Ronald L. Numbers, God and
Nature: Historical Essays on the Encounter Between Christianity and Science
(Berkeley: University of California Press, 1986).
Draper, John
William, History of the Conflict between
Religion and Science (London: Henry S. King & Co., 1875 [Diterbitkan
ulang oleh Gregg International Publishers Limited, Westmead, 1970]). Santayana,
George, Reason in Religion , New
York: Collier Books, 1962. Edward Grant, The Foundations of Modern Science in the Middle Ages: Their Religious
and Intellectual Contexts, (Cambridge: Cambridge University Press, 1996)
Goichon A. M., “Ibn Sina”, dalam The Encyclopaedia of Islam, New edition 10
vols. (Leiden and London: E. J. Brill and Luzac &Co.. 1986)
John William Draper,
History of the Conflict between Religion
and Science (London:
H.S. King; dan New York:
Appleton, 1874; cetak ulang Farnborough, Hampshire: Gregg
International, 1970; diringkas dan diedit ulang oleh Charles
T. Sprading, New York: Vanguard Press, 1926);
John F. Wippel, “The
Condemnation of 1270 and 1277 at Paris,” dalam Journal of Medieval and Renaissance Studies 7 (1977).
Langford, Jerome J.,
Galileo, Science and the Church
(Michigan: The University of Michigan Press, [1966] ed. Ke-3 1992).
Marshall G. S.
Hodgson, The Venture of Islam
(Chicago: The University of Chicago Press, 1974
Paul F. Grindler, “Venice, Science, and the
Index of Prohibited Books,” dalam The
Nature of Scientific
Discovery, ed. Owen Gingerich (Washington, D.C.: The Smithsonian
Institution Press, 1975).
Sumber Utama : Jurnal ISLAMIA Pemikiran dan
Peradaban Islam vol.VII s.d XII.
[1]
Seorang filosuf kontemporer, George Santayana, misalnya, mengawali bab pertama
dari bukunya yang berjudul Reason in
Religion dengan menyitir pepatah Bacon yang berbunyi “a little philosophy inclineth man’s mind to atheism, but depth in
philosophy bringeth men’s minds about to religion”. [Santayana, George, Reason in Religion (New York: Collier
Books, 1962), hal. 9.
[2]
Literatur seputar perseteruan ini terlalu banyak untuk disebutkan. Lihat,
misalnya, John William Draper, History of
the Conflict between Religion and Science (London: H.S. King; dan New York:
Appleton, 1874; cetak ulang Farnborough, Hampshire: Gregg International, 1970;
diringkas dan diedit ulang oleh Charles T. Sprading, New York: Vanguard Press,
1926); Andrew Dickson White, A History of
the Warfare of Science with Theology in Christendom, 2 jilid (New York:
Appleton, dan London: Macmillan, 1896); Paul F. Grindler, “Venice, Science, and
the Index of Prohibited Books,” dalam The
Nature of
Scientific Discovery, ed. Owen Gingerich (Washington, D.C.: The
Smithsonian Institution Press, 1975), 335-47; John F. Wippel, “The Condemnation
of 1270 and 1277 at Paris,” dalam Journal
of Medieval and Renaissance Studies 7 (1977): 169-201; David C. Lindberg
dan Ronald L. Numbers, God and Nature:
Historical Essays on the Encounter Between Christianity and Science
(Berkeley: University of California Press, 1986).
[3]
Clear evidence from statement made by Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam (Chicago: The
University of Chicago Press, 1974), 1: 71; special acknowledgment forwarded by
Montgomery Watt, to the Islamic civilization and its influence in Western
civilization; see The Influence of Islam
in Medieval Europe (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1972), 2; see
also, Salma Bishlawy, Islam, in Living Schools of Religion (Religion in the
Twentieth Century), ed Vergilius Ferm
(New Jersey: Littlefield: Adam & Co. Paterson, 1961).
[4]
Lihat, misalnya kajian-kajian Ibn Hazm (384-456 H) terhadap Alkitab (Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru) dalam kitabnya, Al Fashl fi Al Milal wa Ahwa wa Al Nihal, (Beirut: DÉr al-MaÑrifah, 1986), juz’ 1
& juz’ 2 hal. 1-81.
[5] Untuk
lebih detainya lihat: Draper, John William, History
of the Conflict between Religion and Science
(London: Henry S. King
& Co., 1875 [Diterbitkan ulang oleh Gregg International Publishers Limited,
Westmead, 1970]). Pada tahun 1896, Andrew Dickson White menerbitkan karya
serupa dengan judul, The Warfare of
Science with Theology (St. Petersburg, April 14, 1894).
[6]
Lihat, misalnya: Langford, Jerome J., Galileo,
Science and the Church (Michigan: The University of Michigan Press, [1966]
ed. Ke-3 1992).
[7]
Edward Grant, The Foundations of Modern
Science in the Middle Ages: Their Religious and Intellectual Contexts,
(Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 170.
[9]
Goichon A. M., “Ibn Sina”, dalam The Encyclopaedia
of Islam, New edition 10 vols. (Leiden and London: E. J. Brill and Luzac
&Co.. 1986),3: 944.
Comments
Post a Comment