MASYARAKAT MABUK MEDIA
Abstract
The
emergence of media society cause various effects, for both negative and
positive. The negative impact of drunken public media such as loss of social
values and spirit, and can reduce religious values. This paper discusses the
reductionist religious thought as the implications of the societal trends drunk
media. Reductionist religious ideology stems from religious literacy movement
through the media, that the religious insights spread widely and freely without
clear authority. There are some things that will be discussed; relations
between the media and the public, media theory and society, reductionist
understanding of religious phenomenon is analyzed based on two approaches;
First, Show in Religion Movement through Media Literacy, and Two, Positive-Negative
Implications.
Abstrak
Kemunculan masyarakat media menimbulkan berbagai dampak, baik sifatnya negatif dan juga positif. Dampak negatif masyarakat mabuk media seperti hilangnya nilai dan semangat sosial, serta bisa mereduksi nilai-nilai keagamaan. Paper ini membahas tentang reduksionis paham keagamaan sebagai implikasi terjadinya tren masyarakat mabuk media. Reduksionis paham keagamaan bermula dari Gerakan literasi Agama lewat media, bahwa pengetahuan-pengetahuan keagamaan di sebar secara meluas dan bebas tanpa otoritas yang jelas. Ada beberapa hal yang akan dibahas; relasi antara media dan masyarakat, teori media dan masyarakat, gejala reduksionis paham kegamaan yang di analisa berdasarkan dua pendekatan; Pertama, Gerakan Literasi Agama lewat Media, dan Implikasi Positif-Negatifnya.
Kemunculan masyarakat media menimbulkan berbagai dampak, baik sifatnya negatif dan juga positif. Dampak negatif masyarakat mabuk media seperti hilangnya nilai dan semangat sosial, serta bisa mereduksi nilai-nilai keagamaan. Paper ini membahas tentang reduksionis paham keagamaan sebagai implikasi terjadinya tren masyarakat mabuk media. Reduksionis paham keagamaan bermula dari Gerakan literasi Agama lewat media, bahwa pengetahuan-pengetahuan keagamaan di sebar secara meluas dan bebas tanpa otoritas yang jelas. Ada beberapa hal yang akan dibahas; relasi antara media dan masyarakat, teori media dan masyarakat, gejala reduksionis paham kegamaan yang di analisa berdasarkan dua pendekatan; Pertama, Gerakan Literasi Agama lewat Media, dan Implikasi Positif-Negatifnya.
Kata kunci : media society, religion movement through media literacy,
reduction religious values.
Pendahuluan
Masyarakat media dalam siklus sejarah muncul mendekati
abad 21. Menyebar dalam tatanan
aspek kemasyarakatan di berbagai ranah; pendidikan, sosial, ekonomi, dan
budaya.dsb Singkatnya, ada peradaban baru yang lahir, saling mempengaruhi dan
saling menguntungkan. Proses simbiotik antara media dan masyarakat banyak mempengaruhi dan secara liniear menjadi arus utama.
Media massa memiliki kemampuan besar dalam menyebarkan pesan-pesan pembangunan dengan spektrum yang
menglobal. Antara tahun 1950 dan 1960 ada pertaruhan dan harapan besar pada potensi media massa dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pembangunan. Tersebar namun terpisah pada medium lokal dan berkali lipat meluas secara serentak. Oleh karena itu media massa populer dengan istilah “kotak pandora sang pengganda ajaib.”[1]
Kini kita hidup
dalam apa yang disebut oleh Marshall McLuhan sebagai “lingkungan global”. Media
komunikasi modern menjadi akses berjuta-juta orang di seluruh dunia menghantarkan pesan yang menghubungi hampir setiap pelosok dunia.
Seperti yang dinyatakan oleh George Gerbner mengenai pentingnya media dalam
masyarakat: kepentingan “permasyarakatan” yang luas dari media massa
komunikasi- yaitu kemampuan untuk memasyarakatkan, menentukan topic pembahasan,
menyediakan bahan bacaan yang sama, dan pada akhirnya mengalokasikan perhatian
dan kekuatan-telah menimbulkan sejumlah besar sumbangan-sumbangan teoritis.[2]
Pemahaman keagamaan yang cenderung instan,
reflektif, dan emosional lahir dari masyarakat media yang tidak mampu melakukan
filterisasi, ataupun pembacaan utuh
atas suatu pengetahuan keagamaan. Pemahaman yang berbeda dan dipersepsikan
secara berbeda pula. Bagaimanapun warna sebuah pemahaman keagamaan dikonstruksi
setidaknya, ditentukan oleh kelompok/komunitas, redaktur, kebijakan
redaksional, visi dan ideologi media. Pondasi struktural tersebut merupakan part tak terpisahkan dari proses produksi pesan pada berbagai segmentasi
media.
Definisi Mass Media
Media yaitu sarana yang digunakan sebagai katalisator pesan dari penyampai pesan kepada masyarakat umum. Istilah “massa” merupakkan acuan kolektivitas abstrak, yang ornamennya sulit
dibedakan satu sama lain. [3]Dalam tinjauan kamus bahasa Inggris mendefinisikan “massa” sebagai kuantitas orang dalam skala besar yang secara permissif tidak mengenal eksistensi personalitas”.
Jika masyarakat umum tidak mengenal eksistensi mereka berada, maka biasanya digunakan istilah mass media. Media massa sebagai alat yang digunakan dalam menghantarkan pesan dari sumber ke masyarakat umum menggunakan alat bantu komunikasi mekanis seperti surat kabar,
film, radio, internet, bursa saham, dan televisi. Adapun ciri khas media massa menurut Hafied Cangara yaitu:
1. Memusatkan informasi satu arah artinya komunikasi jika dilakukan kurang memungkinkan terjadinya
dialog antara pengirim dan penerima. Namun jika terdapat reaksi atau umpan balik, biasanya memerlukan
waktu dan terjeda dalam skala waktu yang tidak bisa terprediksi.
2. Melembaga,dengan asas
profesionalitas
artinya pihak yang melakukan pengelolaaan media terdiri
dari banyak orang, yakni mulai dari pengumpulan, pengelolaan sampai pada
penyajian informasi.
3. Meluas
dengan spektrum tak
terbatas,
artinya dapat melintasi waktu
dan jarak, karena memiliki daya kecepatan yang bergerak secara luas dan simultan, dimana sumber informasi yang disampaikan diakses banyak orang pada momentum berbarengan.
4. Memakai
peralatan mutakhir atau canggih sifatnya mekanis, seperti radio, televisi, film dan internet tentunya..
5. Bersifat
transparantif, artinya pesannya dapat diterima oleh siapa
saja dan dimana saja lintas usia, jenis kelamin, dan suku bangsa.
Jadi, media massa merupakan
dominasi industri
dan teknologi komunikasi yang mencakup surat kabar, majalah, radio, televise, internet dan film. Apalagi, saat ini dikenal media sosial, dimana
seluruh masyarakat dunia saling berinteraksi tanpa batas. Istilah ‘massa’
mengacu pada kemampuan teknologi komunikasi untuk mengirimkan pesan melalui
ruang dan waktu dan menjangkau banyak orang dalam skala global.
Metodologi Relasi Media
dan Masyarakat
Relasi antara media dan
masyarakat dalam konteks saat ini tidak mampu dikekang ruang
dan waktu. Konteks sosial yang dikarakterisasi oleh kesejahteraan ekonomi dan
kekuasaan politik yang berbeda antara kelas sosial ekonomi yang variatif seakan melucuti dan tidak turut mempengaruhi relasi media dengan masyarakat. Di tengah hingar bingar
BC (Broadcast Center) dalam WA, BBM, Line dan seabreg alat-alat mediator
populer yang dipakai oleh masyarakat di era globalisasi abad 21.
Ada dua paradigma populer yang dikembangkan untuk melihat keterkaitan antara media dengan
masyarakat. Paradigma pertama terdiri: Pendekatan Media Sentris. Pendekatan ini memfokuskan pada konsentrasi otonomi dan
pengaruh komunikasi serta aktivitas stabil yang dilakukan oleh media secara global. Media massa dilabeli sebagai penyebab utama dari perubahan sosial, dan media sendiri sangat
dikendalikan oleh perkembangan teknologi mutakhir komunikasi. Keberadaan smartphone
salah satunya, yang seakan menunjukan bahwa kini dunia seakan ada dalam
genggaman.
Paradigma kedua terdiri dari: a.Pendekatan Sosio-Kultural,
pendekatan ini menitikberatkan pada kebudayaan dan tradisi original b.
Pendekatan Materialism, kedua perspektif utama ini menghadirkan empat macam
perspektif yaitu,
1.Perspektif Media Cultureism. Paradigma ini memberikan perhatian pada isi media dan
bagaimana isi (pesan) media diserap dan mempengaruhi individu-individu. Elaboratif isi media tersebut diyakini dipengaruhi oleh lingkungan personal yang
paling dominan.
2.Perspektif
Media-Materialist Perspektif ini melihat pada aspek ekonomi politik dan
teknologi dari kediktatoran media.
3. Perspektif Sosial-Cultureism. Perspektif ini menekankan pada pengaruh dominan faktor-faktor sosial terhadap bahan produksi media dan penerimaan media oleh
masyarakat global.
Selain itu juga melihat pada fungsi media di dalam kehidupan sosial.
4. Perspektif Sosial-Materialism .Perspektif ini melihat media sebagai refleksi dari kondisi
ekonomi dan kondisi afektif material masyarakat. Media bukan dasar penyebab dari kondisi terjadinya.,urgensitas,tersebut.[4]
Teori
Teori
Media Society; Teori yang menyatakan ada relasi dialektis antara media (budaya) dan struktur social.
Bagaimanakah hubungan media dan masyarakat?. Menurut Soerjono Soekamto Masyarakat
yalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan social. Budaya
: nilai sosial (dan pribadi) yang mencakup ekspresi, makna dan simbolik.
Kemudian budaya direpresentasikan oleh konten (ide, informasi dan citra) dari
media. Struktur sosial mempengaruhi budaya; –Budaya mempengaruhi struktur
sosial. Empat Faktor relasi antara Media dan Masyarakat Struktur sosial memengaruhi
budaya (konten media). Diantaranya; Saling ketergantungan (Two way influence) Tidak Idealisme
(Media sangat kuat berpengaruh) Materialsm (Media Terpengaruh) Otonom (Tidak
ada keterkaitan) Budaya (konten media) memengaruhi struktur social.
Faktor internal dan
eksternal Antara
Media dan Masyarakat[5]:
1. Sebagai
partnership (teman malakukan percakapan) dalam acara
interaktif.
2. Sebagai alat diseminasi informasi.
3. Sebagai
forum untuk menyampaikan gagasan/ide atau respon terhadap informasi yang disampaikan tanpa batas.
4. Sebagai
pembantu membuat interpretasi bagaimana harus
bersikap terhadap kasus-kasus tertentu
Tema-Tema Sentral Teori Media;
1. Kekuasaan
dan ketidaksamaan 2. Identitas dan integrasi sosial 3. Perubahan sosial 4.
Ruang dan Waktu.
a. Power
and Inequality
(Kekuasaan dan Ketidaksetaraan) Media tergantung pada stuktur kekuasaan politik
dan ekonomi, karena media mempunyai nilai dan biaya. Media subjek dari
peraturan politik, ekonomi dan hukum. Instrumen kekuasaan yang efektif untuk
memengaruhi Power and Inequality (Kekuasaan dan Ketidaksetaraan). Dua Model
Media Dominan: Organisasi media dimiliki oleh segelintir orang kuat. Pemilik
modal bisa mengontrol media untuk menunjang kepentingan mereka. Media Plural:
Tidak ada satupun yang dapat memiliki dominasi. Masyarakat terbuka dalam
berbagai bentuk perubahan dan kontrol demokratis. Merupakan pilar yang bebas
kepentingan.
b. Social
Integration and Identity (Identitas dan Integrasi Sosial) Integrasi pers dengan masyarakat.1.
Mengikat atau mempersatukan masyarakat 2. Memberikan kepemimpinan pada publik
3. Berusaha membangun ranah publik 4. Menyediakan pertukaran ide antara
pemimpin. 5. Menyediakan kebutuhan informasi 6. Menyediakan cerminan atas
masyarakat itu sendiri 7. Berperan sebagai kesadaran dari masyarakat.
c.
Social Change and Development (Perubahan dan Perkembangan Sosial).
Perubahan pada sistem sosial,nilai sosial,sikap dan perilaku kelompok Perubahan
dipengaruhi oleh penyebaran ilmu baru di masyarakat: a. Inovasi b. Saluran
komunikasi c. Waktu d. Sistem social.[6]
Media mengkonstruksi realitas sosial melalui pesan yang disampaikan
kepada masyarakat Pesan tersebut tidak
terlepas dari kepentingan pihak yang berkuasa dalam sistem ekopol dengan tujuan
menyebarkan kepentingan mereka. Terkait hal tersebut, masyarakat sebaiknya
memiliki kemampuan dalam mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi pesan,
sehingga dapat menyeleksi pesan media yang otentik dan mana yang buruk (literasi media).
Diskusi
Gerakan Agama Media Literasi
Pada dasarnya, terjadinya kontestasi dan kompetisi
antarkelompok keagamaan atau konflik yang bernuansa agama merupakan sifat dasar
manusia. Apalagi kontestasi yang terjadi di kalangan pemeluk agama yang
berkarakter dakwah atau misionaris, seperti halnya Kristen dan Islam. Secara
alamiah, manusia sejak kelahirannya sampai dewasa memiliki potensi konflik,
baik konflik antara anak dengan orang tua, suami dengan istri, kelompok yang
satu dengan yang lainnya, termasuk konlik antaretnik dan antarumat beragama. Konflik-konflik
itu berlangsung ada yang muncul secara spontan dan ada pula yang direkayasa
karena berbagai kepentingan. [7]Banyak dugaan ada tentang
pengaruh sekularisasi media massa: apakah mereka memperkuat atau melemahkan
iman? Ini adalah salah satu dilema yang paling menarik untuk denominasi
kontemporer, seperti yang ditunjukkan oleh boikot Southern Baptist dari Disney
hiburan dan fatwa Islam di novelis populer Salman Rushdie . Sebagai terlihat
dalam "Media Aktivisme," agama sering mengeluarkan pedoman untuk
digunakan media dan kadang-kadang mengatur boikot. Dalam entri "Media
Literacy" kita belajar alternatif untuk aktivisme: mengajar anggota keterampilan
yang penting untuk menggunakan media dalam cara yang optimal. Misalnya, mengeksplorasi
bagaimana film dan program televisi dapat digunakan untuk mengajarkan
nilai-nilai agama. Bagi mereka yang mencari pemahaman yang lebih dalam literasi
media, beberapa entri dalam Encyclopedia of Religion, Komunikasi, dan Media
harus membantu. Sebuah langkah penting dalam mempelajari fenomena ini adalah
mengamati apa agama pemimpin mengajarkan anggota mereka tentang penggunaan
media, dan selanjutnya, bagaimana anggota gereja benar-benar menggunakan media.
Bagaimana
dengan budaya?. Sebagai sistem nilai yang didapat manusia secara turun temurun
dalam menjaga dan melestarikan keharmonisan hidup, baik antar sesama manusia,
maupun dengan alam. Budaya menurut pandangan Soelaiman Soemardi & Selo
Soemardjan; merupakan hasil karya cipta dan rasa suatu masyarakat. Pengertian
budaya secara harfiah, merupakan sebuah sistem gagasan dan rasa dari sebuah
tindakan, serta karya yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupannya
bermasyarakat, yang kemudian diwariskan secara turun temurun dari satu generasi
ke generasi berikutnya.[8] Entri pada
berbagai denominasi, serta seperti yang di media tertentu, harus membantu untuk.peneliti.Iklan
untuk Pasar Keagamaan Bidang lain tumpang tindih antara agama dan iklan
berfokus pada penggunaan iklan untuk mempromosikan barang religius dan layanan
untuk pasar didefinisikan menurut demografi agama. Sebagai iklan memiliki
berkembang dengan bantuan penelitian lebih ketat dan pengembangan metode yang
semakin canggih, sebagian besar pengiklan menyadari bahwa mereka tidak bisa
mengajukan banding ke semua orang dengan cara yang sama dan, sebaliknya, segmen
penonton sesuai dengan karakteristik bervariasi. mereka kemudian menentukan
pasar untuk menargetkan dan bagaimana mereka harus mencoba untuk berhasil
mengatasi masing-masing. Demikian, beberapa pengiklan telah menunjukkan minat
dalam mencapai, untuk misalnya, pasar Kristen
Injili atau Yahudi pasar. Untuk mencapai tujuan tersebut memerlukan kepekaan
kepada agama orang diklasifikasikan dalam setiap pasar. Pengiklan yang berusaha
untuk menjual produk mereka di seluruh dunia dihadapkan dengan tantangan
khusus, karena mereka harus beradaptasi dengan, misalnya, sensibilitas
Yahudi-Kristen di sebagian besar negara-negara Barat; Muslim iman dihormati di
sebagian besar Timur Tengah dan Afrika, dan sebagian Asia; dan prinsip-prinsip
suci Timur, termasuk ajaran dari Buddha dan Konghucu, dipegang oleh banyak
warga Asia. meskipun iklan diatur di seluruh dunia, di beberapa negara ini
pembatasan dipengaruhi oleh keyakinan dan praktik keagamaan. Misalnya, di Arab
Saudi, sesuai dengan interpretasinya Islam, lembaga pemerintah memiliki
mengamanatkan bahwa pengiklan mengamati tabu yang ketat.
Di banyak contoh lainnya, batas tidak diformalkan dalam
hukum tapi disarankan oleh para pemimpin agama atau diikuti oleh pengiklan yang
selaras dengan agama khalayak mereka ' persepsi dan keinginan untuk menghindari
menyinggung perasaan mereka. Sebagai kasus di titik, pada tahun 1997, Vatikan
mengeluarkan ensiklik mengenai pandangan terhadap etika iklan- meskipun dokumen
tersebut tidak mengikat secara hukum, pengiklan bebas untuk mempertimbangkan
ketika menargetkan berat populasi Katolik. Berbagai iklan memiliki telah
diprotes oleh berbagai pemeluk agama karena mereka menemukan bahan-bahan untuk
menjadi penghinaan terhadap keyakinan mereka. Misalnya, seorang menteri Muslim
mengecam sebuah komersial dibuat oleh Miller Brewing Company yang digambarkan
tiga malaikat minum bir di surga. Seringkali, perusahaan telah ditarik tersebut
tidak baik diterima bahan jika staf pemasaran mereka merasa bahwa publikasi
negatif bisa melukai reputasi bisnis mereka ' atau penjualan. Di Prancis, misalnya,
iklan lembaga turun dan mengeluarkan permintaan maaf untuk sebuah iklan yang
disajikan versi satir dari Leonardo Da Vinci lukisan, The Last Supper. Pada
saat yang sama, banyak organisasi menargetkan agama pemirsa dengan iklan barang
agama dan jasa. beberapa dekade terakhir telah menyaksikan pertumbuhan
pemasaran produk agama dan ritel khusus outlet yang rumah item unggulan,
termasuk "Apa Akan Yesus Do "(WWJD) perhiasan dan pakaian; keagamaan
CD dan poster; cangkir kopi, tatakan gelas, dan lainnya artikel terukir dengan
gambar religius atau ekspresi; baru terjemahan Alkitab yang dirancang untuk
mencapai dewasa muda dengan kemasan yang menggabungkan konvensi majalah remaja
populer; dan sejumlah agama lain barang dagangan. Iklan untuk produk agama dan toko
dapat umumnya ditemukan di majalah dan di televisi jaringan yang ditujukan
untuk melayani orang-orang beriman. [9]
Latar Awal Reduksionism
Reduksionisme religius dalam tataran practical
mencoba untuk agama dengan cara meleburkannya bersama penyebab pandangan
non-religius tertentu. Beberapa penjelasan reduksionistik pada agama: bahwa agama menjadi spekulatif dan bias karena bercampur
dengan konsep-konsep kemanusiaan, agama memiliki sifat primitif dan dianggap anarkis dan memaksa,
mengendalikan manusia dan kebudayaan
yang berada di tengah-tengahnya dan agama itu bukan perangkat yang mendeskripsikan
keberadaan fisik dunia. Semacam beberapa tokoh Antropolog J.G.Frazer dan Edward
Burnett Tylor mempresentasikan pemahaman mereka secara argumentatif berbicara reduksionis religius.
Sigmund Freud ahli psikoanalisa menyebarkan
ide bahwa agama itu tempatnya para
penderita neurosis (orang sakit jiwa) sebuah ilusi dan adapula Karl Marx (Marxis)
memandang
agama adalah "rintihan kelas tertindas", yang menjanjikan "mimpi kebahagiaan rakyat," beberapa pokok pandangan
tersebut merupakan pandangan reduksionis
agama. Meskipun, nantinya ada beberapa
tingkatan tertentu pada reduksionisme dalam studi sosial, dalam tatanan keseluruhan
wilayah kegiatan sosial sebagai sub-bidang konsentrasi bidang mereka sendiri. Misal,
ekonom Marxis melakukan eksplanasi lalu kemudian menjelaskan politik
sebagai sub-ordinasi ekonomi, dan para aktivis sosiolog dalam analisa mereka, memandang
ekonomi dan politik hanya sebagai sub-bidang saja di masyarakat.[10]
Gejala,
Efek Negatif dan Positif
Ada hal yang menarik yang
bisa digarisbawahi yakni ‘memperebutkan’. Dalam realitas sosial, dapat dilihat
bahwa ada banyak sekali momen atau event yang esensi prosesnya adalah saling
memperebutkan sesuatu seperti wanita, harta dan kekuasaan. Dalam kancah
perpolitikan, perebutan ini sudah menjadi hal yang sangat wajar dan bahkan bisa
dikatakan ‘Pasti’ terjadi. Kedua belah pihak melakukan beragam cara untuk bisa
memenangkan calon yang diusung, karenanya konflik sudah tidak mungkin lagi
untuk dihindari. [11]Gejala
gejala mabuk media di antara sekian banyak gejala gejala lainya: Gejala
Pertama: Kita lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat (instan) dari permasalahan
agama khususnya. Beberapa orang memahami agama dengan mencari
ritus atau tempat pembelajaran agama dan memandang hidup dengan spiritual
transendental. Dalam tahap pencarian tersebut,
lebih besar, lebih dalam, dan lebih bermakna ketika manusia menguak
sedikit-demi sedikit tabir kebenaran agama itu sendiri. Agama sebagai media
pemersatu dan menghimpun kesadaran kita secara integral. Namun dengan kemajuan
teknologi, akses yang mudah menimbulkan kemalasan untuk memahami agama, dan malah
menyebabkan manusia memahami agama secara parsial di internet, video, media
sosial, televisi dan lainya. Jauh beberapa abad sebelumnya, Rasul telah
memprediksikan bahwa dimasa depan akan banyak manusia mendalami agama, namun
mempelajarinya secara otodidak tanpa guru. Karena hal itupun, sebagian kelompok
terbentuk menjadi manusia radikal setelah mendalami agama, karena memandang
bahwa media lah sebagai ustadz/kyai/pendeta nya. Pada era zona mabuk media saat ini, bisa kita
tandai dengan banyaknya penerbitan dan larisnya buku buku seperti “ Cara
menjadi bahagia dalam 8 menit, 5 langkah mengetahui kehendak Tuhan, 7 jalan
menuju surga, 3o menit menjadi kaya raya dan berbagai buku sejenis lainya”.
Manusia terjebak dalam dogma sesat karena secara instan dengan menuntut
penyelesaian masalah agama secara kilat yang akhirnya menmbulkan hal yang
kontradiktif tanpa genealogi, sistematika, dan sumber yang jelas dan bisa diuji
validasinya[12]
Titik penyelesaian justru berujung pada Efek media massa yang selain positif juga memiliki ancaman dampak negative yang secara serius
melemahkan psikis dan mendekonstruksi pemahaman keagamaan manusia. Distribusi dan kekuasan struktural pemegang kendali komunikasi massa dapat menyebarkan dampak
negatif kepada penerima dan pengakses kontennya. Solusi yang bisa ditawarkan, media massa harus memiliki aspek education
global dan menjadi problem solving manusia secara umum bukan sebaliknya.
Usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatkan peranan media massa antara lain; agar media dapat menyebarluaskan dan mengintegrasikan inovasi sebagai wujud
masyarakat melek informasi cerdas, dan kreatif. Terciptanya,
intensitas forum
diskusi dan dialog personal maupun kelompok dalam masyarakat yang sehat dan tidak memancing hal-hal negatif. Media harus mampu mengurangi bahkan meredam ketegangan settingan konflik yang hendak
diciptakan para perusuh di skala global.
Hasil Penelitian
Kebergantungan masyarakat terhadap media
massa sebagai sumber informasi merupakan keniscayaan. Ball-Rokeach & De
Fleur dalam Media Dependency Theory menegaskan bahwa tingkat kebergantungan
masyarakat terhadap media akan berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat
terhadap media. Semakin tinggi tingkat kebergantungan masyarakat terhadap
media. Hal ini juga akan memberikan pengaruh terhadap khalayak dalam memilih
media yang dijadikan rujukan bacaan guna mendapatkan informasi.
McQuail
mengatakan bahwa pada dasarnya proses produksi media memang tidak berlangsung
dalam isolasi. Pada umumnya organisasi media beroperasi dalam lingkungan yang
dikarakteristikan oleh tingginya derajat tekanan dan tuntutan yang terkadang
kontradiktif yang datang dari masyarakat, pemilik, pemegang saham, pengiklan,
mitra kelompok social dan politik, serta pemerintah.
Bagaimana
"Masyarakat media" akhirnya membentuk agama dan mereduksinya secara terbuka.
Pada periode akhir ini kapitalisme, individu
semakin saling berhubungan dan bergantung pada
teknologi informasi untuk pemenuhan aktivitas
sehari-hari. Jadi singkatnya Mabuk media adalah
dimana manusia begitu ketergantungan dan tak bisa lepas dari apa yang namanya
teknologi. Dalam alam bawah sadar, tanpa kita sadari teknologi telah membuat
kita menjadi manusia ambisius tanpa kontrol yang berusaha mendapatkan sesuatu
dengan cepat walaupun terkadang tidak begitu tepat. Disisi lain, membebaskan masyarakat dari paradigma serta
struktur dan system komunikasi yang mengikat dirasa masih sulit jika edukasi
belum berjalan maksimum. Wa’allahu a’lam bi shawaab.
Daftar
Pustaka
Buku :
Ahmad Safei, Agus. Sosiologi Islam: Transformasi Sosial
Berbasis Tauhid. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2017.
Daniel L.Pals, The
Seven Theory of Religion,2010,
Jogjakarta; Ircisod.
Dennis, McQuail. Teori Komunikasi Massa. EdisiIV.Jakarta 2012.: Erlangga.
H. Agus Ahmad Safei, Sosiologi Dakwah Rekonsepsi, Revitalisasi, dan Inovasi. Deepublish, 2016..
Wright,
Charles R., Mass Communication: A Sociological Perspektive, diterjemahkan
oleh Liliwati Trimo dan Jalaluddin Rakhmat dengan judul: Sosiologi
Komunikasi Massa, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988
WL Rivers, JW Jensen, T Peterson, Media Massa dan Masyarakat Modern, Prenada
Media, Jakarta, 2013.
Jurnal:
Agus Ahmad Safei,. "Toleransi
Beragama di Era “Bandung Juara”." KALAM 10.2 (2017):
403-422.
Daniel A. Stout, E N C Y C L O P E D I A O F RELIGION, COMMUNICATION, AND MEDIA,
Editor Religion and Society A BerkshireAvenue New York, NY 10016 www.routledge-ny.com).
Hamdani Thaha, Teori Media dan Masyarakat, jurnal Al Tajdid STAIN Palopo. 2013
Marshall McLuhan, Understanding media: The extensions of man. New York: McGraw-Hill.
Chicago (Author-Date, 15th ed.).thn.2013.
M. Hatta, AGAMA DAN BUDAYA MEDIA , Jurnal Ilmu Komunikasi. UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta,2017.
Artikel :
KOMPASIANA, artikel. “Mabuk Media” ditulis pada tanggal 23 Oktober 2013
[2]
Marshall McLuhan, Understanding
media: The extensions of man. New
York: McGraw-Hill. Chicago (Author-Date, 15th ed.). hal.213.
[4] WL Rivers, JW Jensen, T
Peterson, Media Massa
dan Masyarakat Modern, Prenada Media, Jakarta, 2003.
[6]
Wright, Charles R., Mass Communication: A Sociological
Perspektive, terj. Liliwati Trimo dan Jalaluddin Rakhmat
dengan judul: Sosiologi Komunikasi Massa, Bandung: Rosdakarya,
1988.hal.78-79.
[9] Daniel A. Stout, E N C Y C L O P E D I A O F RELIGION,
COMMUNICATION, AND MEDIA, Editor Religion and Society A Berkshire Avenue
New York. Di kutip dari www.routledge-ny.com).hal.521
Comments
Post a Comment