MASYARAKAT MABUK MEDIA


Abstract 
The emergence of media society cause various effects, for both negative and positive. The negative impact of drunken public media such as loss of social values ​​and spirit, and can reduce religious values. This paper discusses the reductionist religious thought as the implications of the societal trends drunk media. Reductionist religious ideology stems from religious literacy movement through the media, that the religious insights spread widely and freely without clear authority. There are some things that will be discussed; relations between the media and the public, media theory and society, reductionist understanding of religious phenomenon is analyzed based on two approaches; First, Show in Religion Movement through Media Literacy, and Two, Positive-Negative Implications.
                                                           
 Abstrak
Kemunculan masyarakat media menimbulkan berbagai dampak, baik sifatnya negatif dan juga positif. Dampak negatif masyarakat mabuk media seperti hilangnya nilai dan semangat sosial, serta bisa mereduksi nilai-nilai keagamaan. Paper ini membahas tentang reduksionis paham keagamaan sebagai implikasi terjadinya tren masyarakat mabuk media. Reduksionis paham keagamaan bermula dari Gerakan literasi Agama lewat media, bahwa pengetahuan-pengetahuan keagamaan di sebar secara meluas dan bebas tanpa otoritas yang jelas. Ada beberapa hal yang akan dibahas; relasi antara media dan masyarakat, teori media dan masyarakat, gejala reduksionis paham kegamaan yang di analisa berdasarkan dua pendekatan; Pertama, Gerakan Literasi Agama lewat Media, dan Implikasi Positif-Negatifnya.

Kata kunci :  media society, religion movement through media literacy, reduction religious values.


Pendahuluan
Masyarakat media dalam siklus sejarah muncul mendekati abad 21. Menyebar dalam tatanan aspek kemasyarakatan di berbagai ranah; pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya.dsb Singkatnya, ada peradaban baru yang lahir, saling mempengaruhi dan saling menguntungkan. Proses simbiotik antara media dan masyarakat banyak mempengaruhi dan secara liniear menjadi arus utama.
Media massa memiliki kemampuan besar dalam menyebarkan pesan-pesan pembangunan dengan spektrum yang menglobal.  Antara tahun 1950 dan 1960 ada pertaruhan dan harapan besar pada potensi media massa dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pembangunan. Tersebar namun terpisah  pada medium lokal dan berkali lipat meluas secara serentak. Oleh karena itu media massa populer dengan istilahkotak pandora sang pengganda ajaib.”[1]

Kini kita hidup dalam apa yang disebut oleh Marshall McLuhan sebagai “lingkungan global”. Media komunikasi modern menjadi akses berjuta-juta orang di seluruh dunia menghantarkan pesan yang menghubungi hampir setiap pelosok dunia. Seperti yang dinyatakan oleh George Gerbner mengenai pentingnya media dalam masyarakat: kepentingan “permasyarakatan” yang luas dari media massa komunikasi- yaitu kemampuan untuk memasyarakatkan, menentukan topic pembahasan, menyediakan bahan bacaan yang sama, dan pada akhirnya mengalokasikan perhatian dan kekuatan-telah menimbulkan sejumlah besar sumbangan-sumbangan teoritis.[2]
Pemahaman keagamaan yang cenderung instan, reflektif, dan emosional lahir dari masyarakat media yang tidak mampu melakukan filterisasi, ataupun pembacaan utuh atas suatu pengetahuan keagamaan. Pemahaman yang berbeda dan dipersepsikan secara berbeda pula. Bagaimanapun warna sebuah pemahaman keagamaan dikonstruksi setidaknya, ditentukan oleh kelompok/komunitas, redaktur, kebijakan redaksional, visi dan ideologi media. Pondasi struktural tersebut merupakan part tak terpisahkan dari proses produksi pesan pada berbagai segmentasi media.
Definisi Mass Media
Media yaitu sarana yang digunakan sebagai katalisator pesan dari penyampai pesan kepada masyarakat umum. Istilah “massa” merupakkan acuan kolektivitas abstrak, yang ornamennya  sulit dibedakan satu sama lain. [3]Dalam tinjauan kamus bahasa Inggris mendefinisikan “massa” sebagai kuantitas orang dalam skala besar yang secara permissif tidak mengenal eksistensi  personalitas”.
Jika masyarakat umum tidak mengenal eksistensi mereka berada, maka biasanya digunakan istilah mass media. Media massa sebagai alat yang digunakan dalam menghantarkan pesan dari sumber ke masyarakat umum menggunakan alat bantu komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, internet, bursa saham, dan televisi. Adapun ciri khas media massa menurut Hafied Cangara yaitu:
1.    Memusatkan informasi satu arah artinya komunikasi jika dilakukan kurang memungkinkan terjadinya dialog antara pengirim dan penerima. Namun jika terdapat reaksi atau umpan balik, biasanya memerlukan waktu dan terjeda dalam skala waktu yang tidak bisa terprediksi.
2.    Melembaga,dengan  asas profesionalitas artinya pihak yang melakukan pengelolaaan media terdiri dari banyak orang, yakni mulai dari pengumpulan, pengelolaan sampai pada penyajian informasi.
3.    Meluas dengan spektrum tak terbatas, artinya dapat melintasi waktu dan jarak, karena memiliki daya kecepatan yang bergerak secara luas dan simultan, dimana sumber informasi yang disampaikan diakses banyak orang pada momentum berbarengan.
4.    Memakai peralatan mutakhir atau canggih sifatnya mekanis, seperti radio, televisi, film dan internet tentunya..
5.    Bersifat transparantif, artinya pesannya dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja lintas usia, jenis kelamin, dan suku bangsa.
Jadi, media massa  merupakan dominasi industri dan teknologi komunikasi yang mencakup surat kabar, majalah, radio, televise, internet dan film. Apalagi, saat ini dikenal media sosial, dimana seluruh masyarakat dunia saling berinteraksi tanpa batas. Istilah ‘massa’ mengacu pada kemampuan teknologi komunikasi untuk mengirimkan pesan melalui ruang dan waktu dan menjangkau banyak orang dalam skala  global.

Metodologi Relasi Media dan Masyarakat
Relasi antara media dan masyarakat dalam konteks saat ini tidak mampu dikekang ruang dan waktu. Konteks sosial yang dikarakterisasi oleh kesejahteraan ekonomi dan kekuasaan politik yang berbeda antara kelas sosial ekonomi yang variatif  seakan melucuti dan tidak turut mempengaruhi relasi media dengan masyarakat.  Di tengah hingar bingar BC (Broadcast Center) dalam WA, BBM, Line dan seabreg alat-alat mediator populer yang dipakai oleh masyarakat di era globalisasi abad 21.
Ada dua paradigma populer yang dikembangkan untuk melihat keterkaitan antara media dengan masyarakat. Paradigma pertama terdiri: Pendekatan Media Sentris.  Pendekatan ini memfokuskan pada konsentrasi otonomi dan pengaruh komunikasi serta aktivitas stabil yang dilakukan oleh media secara global. Media massa dilabeli sebagai penyebab utama dari perubahan sosial, dan media sendiri sangat dikendalikan oleh perkembangan teknologi mutakhir komunikasi. Keberadaan smartphone salah satunya, yang seakan menunjukan bahwa kini dunia seakan ada dalam genggaman.
Paradigma kedua terdiri dari: a.Pendekatan Sosio-Kultural, pendekatan ini menitikberatkan pada kebudayaan dan tradisi original  b. Pendekatan Materialism, kedua perspektif utama ini menghadirkan empat macam perspektif yaitu, 
1.Perspektif Media Cultureism. Paradigma ini memberikan perhatian pada isi media dan bagaimana isi (pesan) media diserap dan mempengaruhi individu-individu. Elaboratif isi media tersebut diyakini dipengaruhi oleh lingkungan personal yang paling dominan
 2.Perspektif Media-Materialist Perspektif ini melihat pada aspek ekonomi politik dan teknologi dari kediktatoran media. 
3. Perspektif Sosial-Cultureism. Perspektif ini menekankan pada pengaruh dominan faktor-faktor sosial terhadap bahan produksi media dan penerimaan media oleh masyarakat global. Selain itu juga melihat pada fungsi media di dalam kehidupan sosial. 
4. Perspektif Sosial-Materialism .Perspektif ini melihat media sebagai refleksi dari kondisi ekonomi dan kondisi afektif material masyarakat. Media bukan dasar penyebab dari kondisi terjadinya.,urgensitas,tersebut.[4]

Teori
 Teori Media Society; Teori yang menyatakan ada relasi dialektis antara media (budaya) dan struktur social. Bagaimanakah hubungan media dan masyarakat?. Menurut Soerjono Soekamto Masyarakat yalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan social. Budaya : nilai sosial (dan pribadi) yang mencakup ekspresi, makna dan simbolik. Kemudian budaya direpresentasikan oleh konten (ide, informasi dan citra) dari media. Struktur sosial mempengaruhi budaya; –Budaya mempengaruhi struktur sosial. Empat Faktor relasi antara Media dan Masyarakat Struktur sosial memengaruhi budaya (konten media). Diantaranya; Saling ketergantungan (Two way influence) Tidak Idealisme (Media sangat kuat berpengaruh) Materialsm (Media Terpengaruh) Otonom (Tidak ada keterkaitan) Budaya (konten media) memengaruhi struktur social. 
Faktor internal dan eksternal Antara Media dan Masyarakat[5]:
1.      Sebagai partnership (teman malakukan percakapan) dalam acara interaktif.
2.       Sebagai alat diseminasi informasi.
3.      Sebagai forum untuk menyampaikan gagasan/ide atau respon terhadap informasi yang disampaikan tanpa batas.
4.      Sebagai pembantu membuat interpretasi bagaimana harus bersikap terhadap kasus-kasus tertentu
Tema-Tema Sentral Teori Media;
1.      Kekuasaan dan ketidaksamaan 2. Identitas dan integrasi sosial 3. Perubahan sosial 4. Ruang dan Waktu.
a.       Power and Inequality (Kekuasaan dan Ketidaksetaraan) Media tergantung pada stuktur kekuasaan politik dan ekonomi, karena media mempunyai nilai dan biaya. Media subjek dari peraturan politik, ekonomi dan hukum. Instrumen kekuasaan yang efektif untuk memengaruhi Power and Inequality (Kekuasaan dan Ketidaksetaraan). Dua Model Media Dominan: Organisasi media dimiliki oleh segelintir orang kuat. Pemilik modal bisa mengontrol media untuk menunjang kepentingan mereka. Media Plural: Tidak ada satupun yang dapat memiliki dominasi. Masyarakat terbuka dalam berbagai bentuk perubahan dan kontrol demokratis. Merupakan pilar yang bebas kepentingan.
b.      Social Integration and Identity (Identitas dan Integrasi Sosial) Integrasi pers dengan masyarakat.1. Mengikat atau mempersatukan masyarakat 2. Memberikan kepemimpinan pada publik 3. Berusaha membangun ranah publik 4. Menyediakan pertukaran ide antara pemimpin. 5. Menyediakan kebutuhan informasi 6. Menyediakan cerminan atas masyarakat itu sendiri 7. Berperan sebagai kesadaran dari masyarakat.
c.       Social Change and Development (Perubahan dan Perkembangan Sosial). Perubahan pada sistem sosial,nilai sosial,sikap dan perilaku kelompok Perubahan dipengaruhi oleh penyebaran ilmu baru di masyarakat: a. Inovasi b. Saluran komunikasi c. Waktu d. Sistem social.[6]
        Media mengkonstruksi realitas sosial melalui pesan yang disampaikan kepada masyarakat  Pesan tersebut tidak terlepas dari kepentingan pihak yang berkuasa dalam sistem ekopol dengan tujuan menyebarkan kepentingan mereka. Terkait hal tersebut, masyarakat sebaiknya memiliki kemampuan dalam mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi pesan, sehingga dapat menyeleksi pesan media yang otentik dan mana yang buruk (literasi media).
Diskusi
Gerakan Agama Media Literasi
            Pada dasarnya, terjadinya kontestasi dan kompetisi antarkelompok keagamaan atau konflik yang bernuansa agama merupakan sifat dasar manusia. Apalagi kontestasi yang terjadi di kalangan pemeluk agama yang berkarakter dakwah atau misionaris, seperti halnya Kristen dan Islam. Secara alamiah, manusia sejak kelahirannya sampai dewasa memiliki potensi konflik, baik konflik antara anak dengan orang tua, suami dengan istri, kelompok yang satu dengan yang lainnya, termasuk konlik antaretnik dan antarumat beragama. Konflik-konflik itu berlangsung ada yang muncul secara spontan dan ada pula yang direkayasa karena berbagai kepentingan. [7]Banyak dugaan ada tentang pengaruh sekularisasi media massa: apakah mereka memperkuat atau melemahkan iman? Ini adalah salah satu dilema yang paling menarik untuk denominasi kontemporer, seperti yang ditunjukkan oleh boikot Southern Baptist dari Disney hiburan dan fatwa Islam di novelis populer Salman Rushdie . Sebagai terlihat dalam "Media Aktivisme," agama sering mengeluarkan pedoman untuk digunakan media dan kadang-kadang mengatur boikot. Dalam entri "Media Literacy" kita belajar alternatif untuk aktivisme: mengajar anggota keterampilan yang penting untuk menggunakan media dalam cara yang optimal. Misalnya, mengeksplorasi bagaimana film dan program televisi dapat digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai agama. Bagi mereka yang mencari pemahaman yang lebih dalam literasi media, beberapa entri dalam Encyclopedia of Religion, Komunikasi, dan Media harus membantu. Sebuah langkah penting dalam mempelajari fenomena ini adalah mengamati apa agama pemimpin mengajarkan anggota mereka tentang penggunaan media, dan selanjutnya, bagaimana anggota gereja benar-benar menggunakan media.
      Bagaimana dengan budaya?. Sebagai sistem nilai yang didapat manusia secara turun temurun dalam menjaga dan melestarikan keharmonisan hidup, baik antar sesama manusia, maupun dengan alam. Budaya menurut pandangan Soelaiman Soemardi & Selo Soemardjan; merupakan hasil karya cipta dan rasa suatu masyarakat. Pengertian budaya secara harfiah, merupakan sebuah sistem gagasan dan rasa dari sebuah tindakan, serta karya yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupannya bermasyarakat, yang kemudian diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.[8] Entri pada berbagai denominasi, serta seperti yang di media tertentu, harus membantu untuk.peneliti.Iklan untuk Pasar Keagamaan Bidang lain tumpang tindih antara agama dan iklan berfokus pada penggunaan iklan untuk mempromosikan barang religius dan layanan untuk pasar didefinisikan menurut demografi agama. Sebagai iklan memiliki berkembang dengan bantuan penelitian lebih ketat dan pengembangan metode yang semakin canggih, sebagian besar pengiklan menyadari bahwa mereka tidak bisa mengajukan banding ke semua orang dengan cara yang sama dan, sebaliknya, segmen penonton sesuai dengan karakteristik bervariasi. mereka kemudian menentukan pasar untuk menargetkan dan bagaimana mereka harus mencoba untuk berhasil mengatasi masing-masing. Demikian, beberapa pengiklan telah menunjukkan minat dalam mencapai, untuk misalnya, pasar Kristen Injili atau Yahudi pasar. Untuk mencapai tujuan tersebut memerlukan kepekaan kepada agama orang diklasifikasikan dalam setiap pasar. Pengiklan yang berusaha untuk menjual produk mereka di seluruh dunia dihadapkan dengan tantangan khusus, karena mereka harus beradaptasi dengan, misalnya, sensibilitas Yahudi-Kristen di sebagian besar negara-negara Barat; Muslim iman dihormati di sebagian besar Timur Tengah dan Afrika, dan sebagian Asia; dan prinsip-prinsip suci Timur, termasuk ajaran dari Buddha dan Konghucu, dipegang oleh banyak warga Asia. meskipun iklan diatur di seluruh dunia, di beberapa negara ini pembatasan dipengaruhi oleh keyakinan dan praktik keagamaan. Misalnya, di Arab Saudi, sesuai dengan interpretasinya Islam, lembaga pemerintah memiliki mengamanatkan bahwa pengiklan mengamati tabu yang ketat.
            Di banyak contoh lainnya, batas tidak diformalkan dalam hukum tapi disarankan oleh para pemimpin agama atau diikuti oleh pengiklan yang selaras dengan agama khalayak mereka ' persepsi dan keinginan untuk menghindari menyinggung perasaan mereka. Sebagai kasus di titik, pada tahun 1997, Vatikan mengeluarkan ensiklik mengenai pandangan terhadap etika iklan- meskipun dokumen tersebut tidak mengikat secara hukum, pengiklan bebas untuk mempertimbangkan ketika menargetkan berat populasi Katolik. Berbagai iklan memiliki telah diprotes oleh berbagai pemeluk agama karena mereka menemukan bahan-bahan untuk menjadi penghinaan terhadap keyakinan mereka. Misalnya, seorang menteri Muslim mengecam sebuah komersial dibuat oleh Miller Brewing Company yang digambarkan tiga malaikat minum bir di surga. Seringkali, perusahaan telah ditarik tersebut tidak baik diterima bahan jika staf pemasaran mereka merasa bahwa publikasi negatif bisa melukai reputasi bisnis mereka ' atau penjualan. Di Prancis, misalnya, iklan lembaga turun dan mengeluarkan permintaan maaf untuk sebuah iklan yang disajikan versi satir dari Leonardo Da Vinci lukisan, The Last Supper. Pada saat yang sama, banyak organisasi menargetkan agama pemirsa dengan iklan barang agama dan jasa. beberapa dekade terakhir telah menyaksikan pertumbuhan pemasaran produk agama dan ritel khusus outlet yang rumah item unggulan, termasuk "Apa Akan Yesus Do "(WWJD) perhiasan dan pakaian; keagamaan CD dan poster; cangkir kopi, tatakan gelas, dan lainnya artikel terukir dengan gambar religius atau ekspresi; baru terjemahan Alkitab yang dirancang untuk mencapai dewasa muda dengan kemasan yang menggabungkan konvensi majalah remaja populer; dan sejumlah agama lain barang dagangan. Iklan untuk produk agama dan toko dapat umumnya ditemukan di majalah dan di televisi jaringan yang ditujukan untuk melayani orang-orang beriman. [9]
Latar Awal Reduksionism
         Reduksionisme religius dalam tataran practical mencoba untuk agama dengan cara meleburkannya bersama penyebab pandangan non-religius tertentu. Beberapa penjelasan reduksionistik pada agama: bahwa agama menjadi spekulatif dan bias karena bercampur dengan konsep-konsep kemanusiaan, agama memiliki sifat primitif dan dianggap anarkis dan memaksa, mengendalikan manusia dan kebudayaan yang berada di tengah-tengahnya dan agama itu bukan perangkat yang mendeskripsikan keberadaan fisik dunia. Semacam beberapa tokoh Antropolog J.G.Frazer dan Edward Burnett Tylor mempresentasikan  pemahaman mereka secara argumentatif berbicara reduksionis religius. Sigmund Freud ahli psikoanalisa menyebarkan ide bahwa agama itu tempatnya para penderita neurosis (orang sakit jiwa)    sebuah ilusi dan adapula Karl Marx (Marxis) memandang agama adalah "rintihan kelas tertindas", yang menjanjikan "mimpi kebahagiaan rakyat," beberapa pokok pandangan tersebut merupakan pandangan reduksionis agama. Meskipun, nantinya ada beberapa tingkatan tertentu pada reduksionisme dalam studi sosial, dalam tatanan keseluruhan wilayah kegiatan sosial sebagai sub-bidang konsentrasi bidang mereka sendiri. Misal, ekonom Marxis melakukan eksplanasi lalu kemudian menjelaskan politik sebagai sub-ordinasi ekonomi, dan para aktivis sosiolog dalam analisa mereka, memandang ekonomi dan politik hanya sebagai sub-bidang saja di masyarakat.[10]
Gejala, Efek Negatif dan Positif
Ada hal yang menarik yang bisa digarisbawahi yakni ‘memperebutkan’. Dalam realitas sosial, dapat dilihat bahwa ada banyak sekali momen atau event yang esensi prosesnya adalah saling memperebutkan sesuatu seperti wanita, harta dan kekuasaan. Dalam kancah perpolitikan, perebutan ini sudah menjadi hal yang sangat wajar dan bahkan bisa dikatakan ‘Pasti’ terjadi. Kedua belah pihak melakukan beragam cara untuk bisa memenangkan calon yang diusung, karenanya konflik sudah tidak mungkin lagi untuk dihindari. [11]Gejala gejala mabuk media di antara sekian banyak gejala gejala lainya:  Gejala Pertama: Kita lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat (instan) dari permasalahan agama khususnya.  Beberapa orang memahami agama dengan mencari ritus atau tempat pembelajaran agama dan memandang hidup dengan spiritual transendental. Dalam tahap pencarian tersebut, lebih besar, lebih dalam, dan lebih bermakna ketika manusia menguak sedikit-demi sedikit tabir kebenaran agama itu sendiri. Agama sebagai media pemersatu dan menghimpun kesadaran kita secara integral. Namun dengan kemajuan teknologi, akses yang mudah menimbulkan kemalasan untuk memahami agama, dan malah menyebabkan manusia memahami agama secara parsial di internet, video, media sosial, televisi dan lainya. Jauh beberapa abad sebelumnya, Rasul telah memprediksikan bahwa dimasa depan akan banyak manusia mendalami agama, namun mempelajarinya secara otodidak tanpa guru. Karena hal itupun, sebagian kelompok terbentuk menjadi manusia radikal setelah mendalami agama, karena memandang bahwa media lah sebagai ustadz/kyai/pendeta nya.  Pada era zona mabuk media saat ini, bisa kita tandai dengan banyaknya penerbitan dan larisnya buku buku seperti “ Cara menjadi bahagia dalam 8 menit, 5 langkah mengetahui kehendak Tuhan, 7 jalan menuju surga, 3o menit menjadi kaya raya dan berbagai buku sejenis lainya”. Manusia terjebak dalam dogma sesat karena secara instan dengan menuntut penyelesaian masalah agama secara kilat yang akhirnya menmbulkan hal yang kontradiktif tanpa genealogi, sistematika, dan sumber yang jelas dan bisa diuji validasinya[12]
Titik penyelesaian justru berujung pada Efek media massa yang selain positif juga memiliki ancaman dampak negative yang secara serius melemahkan psikis dan mendekonstruksi pemahaman keagamaan manusia. Distribusi dan kekuasan struktural pemegang kendali komunikasi massa dapat menyebarkan dampak negatif kepada penerima dan pengakses kontennya. Solusi yang bisa ditawarkan, media massa harus memiliki aspek education global dan menjadi problem solving manusia secara umum bukan sebaliknya. Usaha yang bisa dilakukan untuk meningkatkan peranan media massa antara lain; agar media dapat menyebarluaskan dan mengintegrasikan inovasi sebagai wujud masyarakat melek informasi cerdas, dan kreatif.  Terciptanya, intensitas forum diskusi dan dialog personal maupun kelompok dalam masyarakat yang sehat dan tidak memancing hal-hal negatifMedia harus mampu mengurangi bahkan meredam ketegangan settingan konflik yang hendak diciptakan para perusuh di skala global.

Hasil Penelitian
            Kebergantungan masyarakat terhadap media massa sebagai sumber informasi merupakan keniscayaan. Ball-Rokeach & De Fleur dalam Media Dependency Theory menegaskan bahwa tingkat kebergantungan masyarakat terhadap media akan berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap media. Semakin tinggi tingkat kebergantungan masyarakat terhadap media. Hal ini juga akan memberikan pengaruh terhadap khalayak dalam memilih media yang dijadikan rujukan bacaan guna mendapatkan informasi.
            McQuail mengatakan bahwa pada dasarnya proses produksi media memang tidak berlangsung dalam isolasi. Pada umumnya organisasi media beroperasi dalam lingkungan yang dikarakteristikan oleh tingginya derajat tekanan dan tuntutan yang terkadang kontradiktif yang datang dari masyarakat, pemilik, pemegang saham, pengiklan, mitra kelompok social dan politik, serta pemerintah.
               Bagaimana "Masyarakat media" akhirnya membentuk agama dan mereduksinya secara terbuka. Pada periode akhir ini kapitalisme, individu semakin saling berhubungan dan bergantung pada teknologi informasi untuk pemenuhan aktivitas sehari-hari. Jadi singkatnya Mabuk media adalah dimana manusia begitu ketergantungan dan tak bisa lepas dari apa yang namanya teknologi. Dalam alam bawah sadar, tanpa kita sadari teknologi telah membuat kita menjadi manusia ambisius tanpa kontrol yang berusaha mendapatkan sesuatu dengan cepat walaupun terkadang tidak begitu tepat. Disisi lain, membebaskan masyarakat dari paradigma serta struktur dan system komunikasi yang mengikat dirasa masih sulit jika edukasi belum berjalan maksimum. Wa’allahu a’lam bi shawaab.

Daftar Pustaka
Buku :
            Ahmad Safei, Agus. Sosiologi Islam: Transformasi Sosial Berbasis Tauhid. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2017.
            Daniel L.Pals,  The Seven Theory of Religion,2010, Jogjakarta; Ircisod.
            Dennis, McQuail.  Teori Komunikasi Massa. EdisiIV.Jakarta 2012.: Erlangga.       
            H. Agus Ahmad Safei, Sosiologi Dakwah Rekonsepsi, Revitalisasi, dan Inovasi. Deepublish, 2016..
            Wright, Charles R., Mass Communication: A Sociological Perspektive, diterjemahkan oleh Liliwati Trimo dan Jalaluddin Rakhmat dengan judul: Sosiologi Komunikasi Massa, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988
            WL Rivers, JW Jensen, T Peterson, Media Massa dan Masyarakat Modern, Prenada Media, Jakarta, 2013.

Jurnal:
            Agus Ahmad Safei,. "Toleransi Beragama di Era “Bandung Juara”." KALAM 10.2 (2017): 403-422.
            Daniel A. Stout, E N C Y C L O P E D I A O F RELIGION, COMMUNICATION, AND MEDIA, Editor Religion and Society A BerkshireAvenue New York, NY 10016 www.routledge-ny.com).
            Hamdani Thaha, Teori Media dan Masyarakat, jurnal Al Tajdid STAIN Palopo. 2013
            Marshall McLuhan, Understanding media: The extensions of man. New York: McGraw-Hill. Chicago (Author-Date, 15th ed.).thn.2013.
            M. Hatta, AGAMA DAN BUDAYA MEDIA , Jurnal Ilmu Komunikasi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2017.

Artikel :
KOMPASIANA, artikel. “Mabuk Media” ditulis pada tanggal 23 Oktober 2013





[1] Hamdani Thaha, Teori Media dan Masyarakat, jurnal Al Tajdid STAIN Palopo,2013,. hal.1-2.
[2] Marshall McLuhan, Understanding media: The extensions of man. New York: McGraw-Hill. Chicago (Author-Date, 15th ed.). hal.213.
[3] Dennis McQuail.  Teori Komunikasi Massa. Jakarta 1994.: Erlangga.hal.74.
[4] WL Rivers, JW Jensen, T Peterson, Media Massa dan Masyarakat Modern, Prenada Media, Jakarta, 2003.
              [5] McQuail, Teori Komunikasi Massa.hal.30.
[6] Wright, Charles R., Mass Communication: A Sociological Perspektive, terj. Liliwati Trimo dan Jalaluddin Rakhmat dengan judul: Sosiologi Komunikasi Massa, Bandung: Rosdakarya, 1988.hal.78-79.
                [7] Agus Ahmad Safei. "Toleransi Beragama di Era “Bandung Juara”." KALAM 10.2 (2017) .hlm.405
                [8] M. Hatta, AGAMA DAN BUDAYA MEDIA , Jurnal Ilmu Komunikasi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2017.hlm.3.
[9] Daniel A. Stout, E N C Y C L O P E D I A O F RELIGION, COMMUNICATION, AND MEDIA, Editor Religion and Society A Berkshire Avenue New York. Di kutip dari www.routledge-ny.com).hal.521
              [10] Daniel L.Pals,  The Seven Theory of Religion,2010, Jogjakarta; Ircisod.hal.332.
                [11]Ahmad SafeiAgus. 2017. Sosiologi Islam: Transformasi Sosial Berbasis Tauhid. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
[12] KOMPASIANA, artikel. “Mabuk Media” ditulis.23 Oktober 2013.

Comments

Popular Posts