AZ ZAMAKHSYARI DAN TAFSIR AL KASYAF
A.Imam Az-Zamakhsyari
Nama lengkapnya adalah al-Qasim Mahmud ibn Umar az-Zamakhsyari, yang memiliki gelar jaarullah, yang merupakan salah satu ulama tafsir bermadzhab Hanafi dalam fiqih, dan Mu’tazilah dalam akidah. Beliau lahir di satu desa di Khawarizmi, yang bernama Zamakhsyar, pada bulan Rajab 467 H. Oleh sebab itu, beliau dikenal dengan penisbatan kampung halamannya, yakni Az-Zamakhsyari. Beliau merupakan salah satus sosok yang gigih dalam melakukan perjalanan. Perpindahan tempat tinggalnya, perlawatannya dari satu tempat ke tempat lain, sampai ia pernah pergi ke Baghdad, Khurasan dan Palestina. Oleh sebab itu, beliau menyusun kitabnya di Palestina,
Nama lengkapnya adalah al-Qasim Mahmud ibn Umar az-Zamakhsyari, yang memiliki gelar jaarullah, yang merupakan salah satu ulama tafsir bermadzhab Hanafi dalam fiqih, dan Mu’tazilah dalam akidah. Beliau lahir di satu desa di Khawarizmi, yang bernama Zamakhsyar, pada bulan Rajab 467 H. Oleh sebab itu, beliau dikenal dengan penisbatan kampung halamannya, yakni Az-Zamakhsyari. Beliau merupakan salah satus sosok yang gigih dalam melakukan perjalanan. Perpindahan tempat tinggalnya, perlawatannya dari satu tempat ke tempat lain, sampai ia pernah pergi ke Baghdad, Khurasan dan Palestina. Oleh sebab itu, beliau menyusun kitabnya di Palestina,
Kitab yang terkenal dengan
nama “Al-Kasysyaf li Zamakhsyari” ini, yang ditulis pada akhir hayatnya.
Al-Kasysyaf, merupakan kitab yang sangat berpengaruh. Sehingga penulisnya
menyebutkan dua sifat khusus kitab tersebut dengan tegas, bahwasannya kitab ini
beraliran Mu’tazilah, dan kitab ini juga merupakan kitab yang kaya akan
penjelasan bahasa, i’jaz, balaghah dan fashahah. Setelah selesai dalam penulisannya, dan melakukan
percobaan di Palestina, beliau langsung pergi ke Mekkah, dan mengajarkan tafsir
yang ia miliki itu disana, tanpa melakukan percobaan seperti yang dilakukan di
Palestina. Kemudian pada akhirnya beliau wafat di Jarjaniyah, yang merupakan
satu daerah juga di Khwarizmi, pada Tahun 538 H
Zamakhsyari adalah salah seorang imam dalam bidang ilmu
bahasa, ma’ani dan bayan. Dia juga merupakan
ulama yang genius dan sangat ahli dalam bidang ilmu nahwu, bahasa, sastra dan
tafsir. Pendapat-pendapatnya tentang ilmu bahasa arab diakui dan dipedomani
oleh para ahli bahasa karena keorisinilan dan kecermatannya.
Bagi orang yang membaca kitab-kitab ilmu nahwu dan balaghah tentu sering menemukan keterangan-keterangan yang di kutip dari Zamakhsyari sebagai hujjah. Misalnya mereka mengatakan “Zamakhsyari telah berkata dalam kitab al-kasysyaf atau dalam asasul balaghah...” Ia adalah orang yang mempunyai pendapat dan hujjah sendiri dalam banyak masalah bahasa arab, bukan tipe orang yang suka mengikuti langkah orang lain yang hanya menghimpun atau mengutip saja, tetapi dia mempunyai pendapat orisinil yang jejaknya di tiru dan diikuti oleh banyak orang.
Bagi orang yang membaca kitab-kitab ilmu nahwu dan balaghah tentu sering menemukan keterangan-keterangan yang di kutip dari Zamakhsyari sebagai hujjah. Misalnya mereka mengatakan “Zamakhsyari telah berkata dalam kitab al-kasysyaf atau dalam asasul balaghah...” Ia adalah orang yang mempunyai pendapat dan hujjah sendiri dalam banyak masalah bahasa arab, bukan tipe orang yang suka mengikuti langkah orang lain yang hanya menghimpun atau mengutip saja, tetapi dia mempunyai pendapat orisinil yang jejaknya di tiru dan diikuti oleh banyak orang.
Dia
menpunyai banyak karya dalam bidang hadits, tafsir, nahwu, bahasa, ma’ani dan
lain sebagainya.
1.
Al-Khasysyaf, tentang Tafsir Al Qur’an.
2.
Al-Faiq, tentang Tafsir Hadits
3.
Al-Minhaj, tentang Ushul
4.
Al-Mufassal, tentang Nahwu
5.
Asasul Balaghah, tentang Bahasa
6.
Ru’usul Masailil Fiqhiyyah, tentang Fiqh
Judul lengkap kitab tafsir karya
az Zamakhsyari adalah al Kasyaf an Haqaiq Gawamid at Tanzil wa Uyun al
Aqawil fi Wujuh at Ta’wil .Tetapi ia lebih lazim disebut Tafsir Al Kasyaf
saja. Ditulis selama tiga tahun, 526 H-528 H, di Mekkah ketika ia menunaikan ibadah
haji kedua.
Tafsir Al Kasyaf merupakan salah
satu bentuk tafsir bi Ra’yi (Tafsir yang mengedepankan penggunaan rasio).
Pasalnya, az Zamakhsyari memberikan ruang lebar bagi kreativitas akal dalam
memahami kandungan Al Qur’an. Jarang sekali ia mendasarkan penafsirannya pada
riwayat, baik hadis maupun pandangan ulama. Tafsir ini disinyalir ditulis untuk
menaikkan pamor aliran Mu’tazilah. Namun, asumsi ini tidak selamanya benar.
Terbukti, kualitas penafsiran az Zamakhsyari telah diakui oleh banyak kalangan.
Ibnu Khaldun, umpamanya mengakui reputasi tafsir ini dari segi pendekatan
sastra (balaghah) ketimbang sejumlah karya tafsir ulama lainnya. Bahkan,
mayoritas ulama Sunni yang bercorak sastra, seperti Abu Su’ud dan an Nasafi, banyak belajar dari
Tafsir al Kasyaf.
.Tentang kitabnya, pada kebiasaan orang-orang
menyebutnya dengan kitab al Kasyaf lil Zamakhsari. Ini adalah kitab yang sangat
berpengaruh. Pengarangnya memberikan dua sifat dan dia sebutkan kedua sifat itu
tanpa ragu. Sifat pertama adalah : tafsir yang beraliran madzhab Mu’tazilah.
Dari pertama sampai akhir, Imam Zamakhsyari selalu berpegang dengan madzhab
Mu’tazilah dalam menafsirkannya. Beliau menafsirkan ayat dengan penafsiran yang
berbeda dengan madzhab Ahlusunnah.
Sifat kedua yang dimiliki tafsir
ini adalah : keutamaan dalam nilai bahasa Arab, baik dari segi i’jaz Al Qur’an,
balaghah dan fashahah, sebagai bukti jelasnya Al Qur’an diturunkan dari sisi
Allah SWT buatan manusia dan, mereka tidak akan meniru seumpamanya sekalipun
mereka saling tolong menolong dalam melakukannya. Dalam hal ini, Imam
Zamakshyari sangat mempersiapkannya dengan matang sebelum beliau mengarang.
Ilmu lughah dan bahasa, ilmu Balaghah dan Bayan, ilmu uslub dan fasahah, ilmu
nahwu dan sharaf, semua ilmu tersebut sudah dikuasai oleh Imam Zamakhsayari
sebelum mengarang kitab al Kasyaf. Akan tetapi, penafsiran Zamakhsayari dalam
kitab al Kasyaf banyak terfokus pada pembahasan ilmu bayan dan ma’ani, padahal
masih banyak ilmu lain yang bisa dijelaskan dalam menafsirkan Al Qur’an. Dalam
hal ini, Imam Zamakhsyari berkata,
“Tidak cukup hanya satu ilmu
untuk mencermati tafsir Al Qur’an- seperti pernyataanya Jahidz,- karena orang
itu bisa dikatakan faqih, apabila tahu tentang fiqih muqarin, fatwa-fatwa serta
hukum-hukum. Ungkapan Syaikh Haidar al Hiwari yang menyatakan kejujurannya
dalam menanggapi kitab tersebut, tidak berlebih-lebihan dan tidak kurang bahwan
kitab tersebut memang sarat dengan ilmu balaghah dan ilmu bayan. Dalam hal ini
beliau berkata : “Kitab al Kasyaf mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, tidak
ada bandingannya pada kitab-kitab terdahulu dan kitab yang dikarang kemudian.
Karena dalam kitab tersebut terkumpul ungkapan indah dan teratur. Apabila
dibandingkan dengan kitab sesudahnya tidak semanis al Kasyaf, walaupun dalam
kitab itu ada keutamaan lain, tetapi kemanisan dalam kitab al Kasyaf tidak
ditemukan padanya.
Karena terkadang dalam karangan
lain terdapat ungkapan yang menyatakan tidak berpengalamannya pengarang karena
ada ungkapan yang salah tidak seperti Imam Zamakhsyari. Maka dari itu kitab
Zamakhsyari sangat cermat lagi terang yang menjadikannya masyhur dan terkenal
bagaikan terangnya matahari di siang hari.
Ada beberapa kelemahan yang terdapat dalam
kitab al Kasyaf, antara lain sebagai berikut :
Dalam tafsir ayat Al Qur’an tidak
ada pengaruh batin yang didapatkan oleh pengarang. Dalil-dalil ayat tersebut
tidak bisa memalingkannya pada kebenaran, bahkan Zamakhsyari memalingkan makna
tidak sesuai dengan zahirnya. Ini merupakan mengada-ada kalam Allah SWT. Lebih
baik seandainya hanya sedikit saja, tetapi pada kenyataanya dia membahasnya
secara panjang lebar agar tidak dikatakan lemah dan kurang. Dalam hal ini, dapat
kita lihat bahwa penafsiran dalam kitab ini bercampur dengan pengaruh aliran
Mu’tazilah. Ini adalah merupakan cacat yang sangat besar.
Kritikan lain terdapat pada
pencelaan Imam Zamakhsyari terhadap para wali-wali Allah SWT. Hal ini, karena
dia lupa terhadap jeleknya perbuatan ini dan karena tidak mengakui adanya
hamba-hamba Allah SWT. seperti itu. Alangkah indahnya ungkapan imam Imam Al
Razi dalam kritikannya pada Imam Zamakhsyari, berkata al Razi dalam sebuah ayat
: Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai Nya (QS.Al Maidaah : 54).
Dalam hal ini, pengarang kitab al Kasyaf telah menceburkan dirinya dalam
kesalahan dan bahaya karena telah mencela para kekasih Allah SWT.dan telah
menulis sesuatu yang tidak layak dan sesuatu kejelekan terhadap mereka-mereka
yang dicintai Allah SWT.
Selain itu banyak terdapat pada
kitab ini penyebutan syair dan amtsal. Padahal kedua hal tersebut adalah sebuah
nilai canda dan humor yang tidak pantas dengan syariat dan akal, apalagi pada
mereka penegak keadilan dan penegak tauhid. Kritikan lainnya adalah penyebutan
Ahlusunnah dengan kata-kata kotor. Terkadang disebutkan dengan golongan mujabbarah
(pemaksa) bahkan kadang dikatakan dengan kaum kafir dan kaum yang menyimpang.
Padahal ucapan seperti ini hanya pantas keluar dari golongan mereka yang bodoh,
bukan dari ulama yang pintar.
Ada juga bentuk pujian yang
diberikan oleh az Zarqani dalam Burhan fii Uluum al Qur’an mencatat sejumlah
keistemewaan Tafsir al Kasyaf diantaranya :
Pertama, steril dari
hikayat-hikayat israiliyyat.
Kedua, uraiannya lugas dan tidak
bertele-tele.
Ketiga, dalam mengurai pengertian
kata, ia berpijak pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa yang lazim di
masyarakat Arab.
Keempat, memberikan titik teka
pada aspek-aspek kesustraan, baik yang berkaitan dengan gaya bahasa ma’aniyyah
dan bayaniyyah.
Ketika, dalam melakukan
penafsiran, az Zamakhsyari menempuh metode dialog.
Tafsir al Kasyaf, terdiri dari
empat jilid. Jilid pertama mencakup uraian mengenai mukaddimah. Az Zamakhsyari
menyebutnya dengan khutbah kitab (prawacana). Isinya adalah uraian penting
tentang penyusunan kitab tafsir tersebut. Az Zarqani mengungkapkan bahwa az
Zamakhsyari memanfaatkan metode dialogis, maksudnya, ketika hendak menjelaskan
makna satu kata, kalimat, atau kandungan satua ayat, ia selalu emnggunkan kata
in qulta (jika engkau berkata). Kemudian dia menjelaskan makna dengan ungkapan
qultu (saya menjawab). Gaya bahasa ini selalu digunakan seakan-akan ia
berhadapan dan dia berdialog dengan seseorang.
D. Model Tafsir al Kasyaf
Berikut cuplikan dari tafsir al
Kasyaf (QS.Az Zukhruf ayat 67-70) :
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا
يَشْعُرُونَ (66) الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا
الْمُتَّقِينَ (67) يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ
تَحْزَنُونَ (68) الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ (69)
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ (70) [الزخرف : 66 –
70[
67.
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang
lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
68. Hai
hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu
bersedih hati.
69. (Yaitu)
orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu
orang-orang yang berserah diri.
Imam Az Zamakhsyari berkata : “Kata yaumaizhin dalam ayat
tersebut kedudukannya nasab, karena ada kalimat (menjadi musuh). Makna dari ayat
diatas adalah (pada hari itu akan terjadi putusnya hubungan keakraban antara
satu teman yang akrab dengan yang lainnya. Teman yang akrab berubah menjadi
musuh. Hal ini tidak terjadi pada mereka yang beriman, membenarkan Allah SWT.
Karena orang-orang beriman adalah saudara akrab yang kekal, karena mereka
mengetahui pahala bagi yang saling mengasihi antara satu dengan yang lainnya.
Ada pendapat bahwa maksud
dari illal muttaqin (QS.Al Zukhruf ayat 67) adalah kecuali mereka yang menjauhi
keakraban dalam berbuat kejahatan. Dikatakan bahwa ayat ini turun pada Ubay bin
Khalaf dan Uqbah bin Abi Mu’ith.
“Yaa Ibaadi (hai
hamba-hamba Ku) (QS.Al Zukhruf: 68) kalimat ini merupakan seruan Allah SWT.
terhadap mereka yang beriman, yaitu mereka yang saling mengasihi antara sesama
dengan mengharap ridha Allah SWT.
Alladzi Amanu (yaitu orang-orang yang beriman (QS.Al
Zukhruf : 69) kalimat ini kedudukannya nasab karena sifat (yaitu sifat
hamba-hamba Allah SWT). Karena kata ibadi adalah munada (yang diseru) mudhaf, berarti kedudukannya nasab. Orang-orang beriman
maksudnya adalah mereka yang membenarkan ayat-ayat kami dan adalah mereka
dahulu orang-orang yang berserah diri (QS.Al Zukhruf ayat 69), maksudnya adalah
orang-orang yang ikhlas menghadapkan wajah mereka ke hadapan Kami dan mereka
menjadikan diri mereka tunduk dan patuh kepada Kami.
Dikatakan
bahwa ketika Allah. Membangkitkan manusia maka seluruh badan mereka akana
merasa bergetar, kemudian datanglah seruan Tuhan: “Wahai hamba-hambaKu!” maka
seorang beriman mengikuti seruan itu sedangkan orang-orang kafir mereka putus
asa. Dalam qiraat lain menyatakan dengan kalimat yaa Ibaadi tanpa ada huruf ya
diakhirnya.
Tuhbarun (kamu
digembirakan) (QS.Al Zukhruf ayat 70) maksudnya adalah Tusarrun sururan- kamu
dibahagiakan. Ini adalah kalimat yang menyatakan kegembiraan hingga wajah
berseri. Seperti dalam firman Allah yang lain : Kamu dapat mengetahui dari wajah
mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan (QS.Al Muthafifin : 24)
Al Zujaj berkata :
Maknanya adalah tukramun ikraman (kamu dimuliakan). Dalam ayat diungkapkan kata
al Hibr karena menunjukkan mubalaghah dalam mengucapkan keindahan dan kegembiraan”.
Semoga Allah SWT memberikan rahmat Nya kepada Imam Zamakhsyari dan menjadikan
ilmunya bermanfaat.
Referensi
Al Quran, terjemah DEPAG,
2008
Saiful Amin Ghafur, Profil
Para Mufassir Al Qur’an, Jogjakarta: Pustaka Insan Madani, 2008.
Prof. Dr. Mani’ Abd Halim
Mahmud, Metodologi Tafsir Kajian kompherensif Metode para ahli Tafsir,
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Az Zamakhsyari, al Kasyaf an Haqaiq Gawamid at
Tanzil wa Uyun al Aqawil fi Wujuh at Ta’wil, Beirut : Dar El Hadits, 2008.Cek videonya tentang tafsir ini :
Comments
Post a Comment