DAKWAH DAN SOLUSI KEUMATAN

         
“Ada sebuah analogi sederhana yang diutarakan oleh guru  saya, “Jika sehari-hari kita beraktivitas selalu sempat atau bahkan rutin membaca Koran, maka yang akan penuh dalam otak kita adalah permasalahan-permasalahan apakah itu permasalahan sosial, politik, pendidikan,dan moral yang tak kunjung usai, dan jika sebaliknya kita mengisi hari-hari kita dengan membaca Al Qur’an (mentadabburi dan melihat tafsir ayat-ayatnya) maka intellegensi otak kita secara tidak langsung akan berkembang pesat, kita sudah mampu memegang kunci sebelum tiba pintu untuk kita bukakan” (KHM. Romli).
Apa yang beliau utarakan,sebenarnya singkat saja, “Kembali pada Al Qur’an dan As Sunnah (sebagai Bayan)” solusi yang selama ini hanya menjadi barang pasungan di sudut altar masjid. Kita sama-sama perhatikan konten yang ditawarkan oleh media informasi apakah itu media massa (news)  maupun media teknologi (televisi, internet dll) di Indonesia yang mereka up date dalam ulasan sehari-hari adalah permasalahan duniawi yang sebenarnya sedikit memberi faidah, mungkin kita sudah bosan mendengar laporan keruh tentang persoalan bangsa. Kontinyuitas itu berefek jahat pada masyarakat, semakin zaman berkembang semakin bobrok pula moral dan intelegensi masyarakat karena dijejali sampah setiap hari.
 Media informasi, di isi dengan media edukasi yang mencerdaskan?? hanya sedikit ! dan tentu tidak akan laku jika hanya berkembang sesaat tanpa sifatnya yang berkesinambungan. Masih banyak faktor lain lagi tak hanya media informasi, kita tahu Barat dan Amerika saat ini memimpin peradaban dunia. Maka dengan serta merta bangsa-bangsa lain, khususnya bangsa di dunia ketiga, cenderung berlomba-lomba sebisanya meniru gaya hidup, cara berpolitik, system perekonomian, kenegaraan bahkan sampai jenis music, makanan, pakaian, bahkan cara memahami dan cara beragama pun meniru ala Barat- Amerika. Konsep Barat menghegemoni masyarakat, para ilmuwan. Meninggalnya para ulama, dan minimnya kader dakwah yang sesuai dengan kapabilitas ilmu mumpuni yang mampu memberikan pendekatan, pembinaan, dan pencerahan (pendidikan) pada masyarakat.
“Antara Islam dan kebudayaan Barat terbentang pemahaman yang berbeda mengenai ilmu, dan perbedaan itu begitu mendalam sehingga tidak bisa dipertemukan.” (Syed Muhammad Naquib Al Attas)
Sudut Pandang Global Kenegaraan 
Analisa  1. Apa permasalahan yang menimpa bangsa Indonesia??
Jawaban pertama, karena rapuhnya sistem hukum kenegaraan. Sistem yang rapuh dapat kita lihat salah satunya dalam tingkatan hukum pidana yang dijatuhkan tidak mampu memberikan efek jera. Jika kita melirik pada sistem penetapan jatuhnya hukuman contohnya hukum korupsi di Cina saja dengan level hukuman yang keras mampu menimalisir tindak prilaku korup di negara tersebut. Keberanian itu harus mampu diwujudkan oleh tataran sistem hukum kenegaraan kita, apakah itu masuk lewat jalur UUD ,kebijakan Presiden dan lain sebagainya. Meskipun tidak adanya pemerintahan Islam tapi nilai-nilai itu mampu kita terapkan dalam tatanan sistem hukum kenegaraan. Why Not? Itu semua bisa terjadi asalkan rakyat berani untuk kembali merevolusi pemerintahan  Indonesia. Wallahu a’laam.

Jawaban kedua, karena sistem politik demokrasi yang dipakai. Sistem demokrasi yang selama ini kita junjung tinggi, diubah menjadi sistem Islam (ke khalifahan) penawaran yang musti dipertimbangkan jika seluruh ornamen ke khalifahan sudah matang dan siap untuk diwujudkan, contoh terdekatnya masyarakat sudah tidak percaya terhadap demokrasi  dapat dibuktikan salah satunya dengan jumlah pemilih Golput di Pemilihan Umum  baik itu tingkat daerah, pusat, sampai ke tingkat kecamatan. Masyarakat sudah tidak lagi percaya pemimpin yang dihasilkan oleh demokrasi. Meskipun, sebagian masyarakat yang golput juga tidak tahu-menahu/meragukan apakah sistem Islam dapat membebaskan dari permasalahan bangsa seutuhnya.
Solusi atas tindak pidana korupsi, persoalan pendidikan, moral, ekonomi ataupun politik yang ada di elite negeri ini mengakar pada satu permasalahan yaitu system kenegaraan yang sudah gagal menjalankan fungsinya. Sekarang pengusung gerakan Islam (konsep kenegaraan) digerakkan oleh salah satu ormas yaitu HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang lantang berteriak, “KHILAFAH! KHILAFAH!”namun hanya terdengar menerbangkan teriakan tersebut saja, sejak lama hingga kini. Dilain pihak ada sekelompok yang sama mengusung Islam sebagai gerakan utamanya tetapi tidak sampai pada Final Destination tataran  berjalannya system kenegaraan Islam diantaranya ormas-ormas Islam seperti PERSIS, MUI, MUHAMADDIYAH, NU dll konsentrasi mereka lebih kental pada gerakan dakwah pendidikan, dan sosial pada khususnya.
Belum adanya wacana ke arah tersebut, tapi bisa saja menjanjikan suatu saat bisa saja terjadi. Adapula organisasi yang tidak dikenal secara organisasi resmi lebih kepada gerakan dakwah sebut saja Salafiy (Untuk konteks sekarang PERSIS “baheula” seolah menjadi Salafinya sekarang, belum bisa membuka kembali taring (maung ompong) nya ). Mereka sama lebih konsen pada gerakan dakwah Islam apakah itu pemurnian aqidah, akhlaq, ibadah dll sasaran mereka baru sampai pada masyarakat biasa belum sampai pada elite parpol ataupun para dewan yang sedang duduk manis di parlemen sana mereka juga belum punya wacana sampai pada titik pencapaian tertinggi tegaknya syariat’ atau beridirinya khilafah Islam. Mereka masih berpijak pada sebuah dalil bahwa taat kepada pemimpin yang tidak kufur, dan tidak memerintah maksiat itu wajib dita’ati meskipun jika kelak terjadi persoalan; wajib sabar,amar ma’ruf nahi munkar dan tidak khuruj pada pemerintah.
Adanya sinergitas ormas Islam, dan juga dakwah Salafi bisa menjadi kekuatan besar jika mereka mempunyai cita, visi, dan misi yang sama yaitu kekuatan dakwah islamiyyah (apakah dakwah lewat jalur pendidikan, ekonomi, sosial )bangkitnya umat Islam berdasarkan system nilai-nilai Islam. Gerbang baru pun akan dibuka, masa depan bangsa umumnya dan umat Islam khususnya. Lepas dari cengkraman/kepentingan parpol Islam yang sudah jauh dari cita-cita mulia dienul islam contoh kecilnya PKS yang jauh api dari panggang, terbukti dengan keterlibatan partai yang mendeklarasikan diri bernilaikan Islam ini yang pernah di identifikasi sebagai New Ikhwanul Muslimin. Namun ternyata tak disangkal tak diduga terlibat diberbagai tindak pidana apakah korupsi, tindak pidana moral, dsb mereka di duga terlibat sesuai pemeriksaan KPK kini.

Spirit Dakwah Islam dan Islam sebagai Peradaban
Agama ialah : Apa-apa yang telah ditentukan Allah dalam kitab-Nya yang bijaksana dan Sunnah Nabi Nya yang shahih, baik berupa perintah, larangan, maupun petunjuk untuk kemashlahatan manusia di dunia dan akhirat. Islam sebagai agama pembawa kebenaran  dan rahmatan lil alamin, salah satu fungsinya adalah untuk menyelesaikan berbagai problematika di dalam masyarakat. Sebab Islam adalah salah satunya agama wahyu, otentik, dan sudah final, tidak memerlukan perekembangan dari siapapun. Selama berabad-abad lamanya Islam memimpin dunia dan menjadi solusi umat.  Sebuah ketimpangan yang parah sekalipun, yang manusia tidak mampu menyelesaikannya maka hanya Islamlah jalan keluarnya.
Permasalahan yang terjadi di bangsa kita ini merupakan tanggung jawab dakwah kita, persoalan ruang lingkup kenegaraan bisa kita amanatkan porsi dan pos tersebut pada orang lain. Sedangkan urusan umat kita yang tangani. Didalam La Politica, Aristoteles mengungkapkan inti dari unsur negara adalah rakyat (umat). Kalau kita lihat perspektif sejarah islam, tepat di fase zaman jahiliyyah tak ubahnya kita jalani sekarang ini. Rasulullah mulai membenahi tatanan tauhid, akhlaq masyarakat selama 10 tahun kemudian berlanjut 13 tahun di Madinah dengan membenahi hukum (syariat), muamalah dsb. Seseorang tidak akan berani untuk berbuat korup jika sudah menjadi insan berakal yang shalih dan shalihah. Bagaimana caranya agar umat islam menjadi TAKWA? nasihat paripurna yang luput dari kesadaran kita. Kalau seluruh penduduk Indonesia mampu benar-benar menjadi insan yang bertakwa , pemerintahan bubar bisa jadi efeknya pun seakan tidak ada artinya. Masyarakat yang benar tentu akan melahirkan pemimpin yang benar juga, mereka tidak akan tergiur jika suatu saat ada praktek money politic. Dan itu semua akan sesuai dengan apa yang kita harapkan, jika ulama sudah kembali menjadi pilar tangguh dimasyarakat, di imbangi dengan ekonomi yang ditopang oleh masyarakat yang kuat dalam segi finansial.
Ulama lah yang selama ini sebenarnya mempunyai peran vital, di masyarakat ulama mempunyai  tempat tersendiri di hati rakyat. Maka tidaklah, aneh ketika para politisi yang hendak mencalonkan diri menjadi wakil rakyat mendatangi para ulama ingin memikat hati masyarakat bahwa kedekatan dengan ulama bisa menjadi nilai positif untuk mendongrak suara. Seorang umara (pemimpin suatu daerah/bangsa) terkadang tidak langsung terjun ke masyarakat, akan tetapi seorang ulama langsung membina dan terjun langsung ke grass root (kelas bawah). Allah mewanti-wanti bahwa kiamat akan terjadi jika ilmu sudah diangkat kebodohan nampak dimana-mana, para pemimpin mengeluarkan fatwa tanpa ilmu. Kerusakan terjadi dimana-dimana. Memaksa kita untuk segera mewujudkan Islam sebagai peradaban baru. Secara ringkas jatuhnya suatu peradaban dalam pandangan Ibnu Khaldun ada sepuluh, yaitu :
 1. Rusaknya moralitas penguasa 2. Penindasan penguasa dan ketidak adilan 3. Despotisme atau kezaliman 4. Orientasi kemewahan masyarakat 5. Egoisme 6.Opotunisme 7. Penarikan pajak secara berlebihan 8. Keikutsertaan penguasa dalam kegiatan ekonomi rakyat 9. Rendahnya komitmen masyarakat terhadap agama 10. Penggunaan pena dan pedang secara tidak tepat.
Kesepuluh poin lebih mengarah kepada moralitas masyarakat khususnya penguasa. Ibnu Khladun berpegang pada asumsi bahwa karena kondisi moral hancur. Maka kekuatan politik,dan system kehidupan hancur. Kemudian, pada gilirannya membawa dampak terhadap terhentinya pendidikan dan kajian-kajian keislaman khususnya sains. (Analisis Kemunduran Peradaban abad 15 M sebelumnya).
Islam sebagai Peradaban
Islam yang diturunkan sebagai ad diin sejatinya telah memiliki konsep sebagai peradaban. Sebab kata ad Din itu sendiri telah membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, struktur hokum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukum dan mencari pemerintah yang adil. Artinya dalam istilah ad Diin itu tersembunyi suatu system kehidupan. Oleh sebab itu, ketika ad Diin (agama) Allah yang bernama Islam itu telah disempurnakan dan dilaksanakan di suatu tempat, maka tempat itu diberi nama Madinah. Dari akar kata ad Diin dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru Madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan, dan memartabat.
Secara optimistik sejatinya kondisi umat Islam secara umum pada dekade ini tidaklah seburuk kondisi ummat Islam pada saat ke khalifahan Islam jatuh ke tangan musuh. Namun, jika kita lebih introspektif maka kita akan temui bahwa ummat Islam kini belum mampu berprestasi seperti prestasi ummat Islam di zaman dulu. Terpekur dan baru mencoba merangkak kembali membangun peradaban Islam. Dan tugas ringkas kita sebagai pelajar adalah belajar ilmu agama yang benar (sebagai asas dr seluruh ilmu), karena kewajiban belajar ilmu agama itu fardhu ain. Membina masyarakat, sebelum nya ilmu itu kita amalkan dan sebarkan pada khalayak umat.

Diskusi anak-cucu PERSIS yang lahir dari Keluarga PERSIS, Belajar dan Ngaji di PERSIS, dan insya allah sampai mati di PERSIS!
Jazakallah kepada Sdr. M Ridwan Nurrohman, Sdr. Shidqi Munjin,Sdr. A Kin-Kin Syamsuddin yang telah memberikan gagasan-gagasan menambah  khazanah wawasan kita..
Referensi :
Al Qur’anul Kariim.
Henri Shalahudin, Al Qur’an Dihujat, (Al Qalam; GIP, Jakarta 2007).
DR. Hamid Fahmi Zarkasyi dkk, Membangun Peradaban dengan Ilmu, (KALAM Ilmu Indonesia; Depok UI 2010).
Budi Handrianto, Islamisasi Sains sebuah Upaya mengislamkan Sains Barat Modern, (Pustaka al Kautsar; Jakarta 2010).
KH.A.Zakaria, Al Hidayah edisi Kompilasi, ( Ibnu Azka ; Garut 2003).






Comments

Popular Posts