MASYARAKAT ISLAM POSTMODERN


Abstrak
Pada era postmodern, agama dituntut untuk mempunyai peran ganda, disamping mengokohkan diri sebagai teologi yang mempunyai nilai subjektiftivism juga mempunyai tanggung jawab sosial dalam menjaga relasi antarpersonl maupun kelompok yang beragam sebagai ciri multikultural. Menurut Agus (2017: 113) bahwa, perkembangan pemikiran manusia tidak berhenti, sebagaimana watak manusia sebagai homo viator dengan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya, manusia berhasil menciptakan satu fase hidup yang kemudian disebut dengan zaman modern dan kini postmodern; sebagai produk hasil kebudayaan perkembangan sains teknologi manusia. Bagaimana postmodern ini berkembang dalam jejak sejarahnya? Bagaimana masyarakat Islam hidup ditengah-tengah masyarakat dunia di era Postmodern ini? Bagaimana posisi agama di era postmodern, mungkinkah mengantarkan manusia pada religiuitas?
Kata Kunci : Postmodern, masyarakat, Islam.

Pembahasan
            Fase modern yang hadir  pada akhirnya malah mereduksi nilai-nilai kemanusiaan. Hingga lahirlah postmodern sebagai kritik atas modernisme. Postmodern menandai berakhirnya sebuah cara pandang universal. Etos postmodern menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains, yang merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Pada dasarnya, postmodernisme adalah anti-modern. Postmodern menawarkan bibit yang memungkinkan terjadinya dialog yang jauh lebih toleran. Dalam studi agama contohnya; bisakah terjadi dialog lintas agama dengan pandangan yang lebih jauh, bisakah ditarik satu garis lurus yang bisa menyatukan agama-agama sehingga seluruh umat manusia dapat bergandeng tangan dimasa depan (pluralisme agama) ? Ide ini secara teoritis sangat memungkinkan dilakukan, dan ditengarai sebagai era “kebangkitan agama”(Agus, 2017: 114)
            Fenomena global ini tentu ada hubunganya dengan penyingkapan atas modernitas. Bahwa ada semacam matinya iman bahwa ilmu pengetahuan  akan menjadi win solution dan mengatasi semua  masalah manusia. Globalisasi telah menghadirkan teknologi komunikasi, transformatif lintas kawasan dan lintas bahasa. Inilah pertanda nyata postmodern hadir dan memberikan sentuhan pada manusia
Era Postmodernisme
            Menelusuri jejak postmodernisme dalam sejarah, berawal dari satu gerakan yang bergerak di bidang seni di New York di dekade 1960-an, yang kemudian diambil alih oleh Eropa pada dekade berikutnya, tokoh-tokoh postmo yang populer diantaranya ; Roger Bacon, Derrida, Boudfrillad dsb. Postmodernime menolak pendefinisian karena pendefinisian mempunyai sifat reduksi yang menganggap ada kebenaran tunggal. Pendefinisian akan membatasi penafsiran dan pemahaman. Postmodernisme menolak setiap gaya berfikir yang menotasikan diri dan bersifat universal. Postmodernisme jelas mengkritik modernisme yang melihat suatu realitas sebagai satu keutuhan yang berpusat pada prinsip rasionalitas. Postmodernisme sampai pada kesimpulan bahwa kenyataan bukanlah keutuhan yang mudah untuk ditangkap. Kenyataan adalah fragmentasi, dimana bagian-bagiannya mempunyai keunikan-keunikan sendiri sehingga tidak mudah dipadukan dalam sebuah narasi besar, sebagaimana ambisi modernisme. (Agus 2017: 115)
            Alhasil, rasionalitas modern yang diunversalitaskan terjebak pada tendensi totaliter. Penolakan atas totalitas rasio disandarkan pada satu kesadaran bahwa rasio sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai penafsir universal dan objektif tentang kenyataan. Rasio tidak mampu menjamin keutuhan tujuan pencerahan karena tidak dapat mengendalikan kekuasaan. Pendekatan kritis postmodernisme adalah keidakjelasan yang diperlihatkan terhadap modernisme itu sendiri. Strateginya ialah suatu kritik dengan keikutsertaan dalam kesalahan itu sendiri karena postmodernisme tidak dapat sepenuhnya meragukan modernitas sebagai suatu timbangan kritis terhadap keteguhan kepercayaan diri  modernitas (Ahmad Sahal dalam Agus, 1994: 14).

Postmodernisme dan Masyarakat Islam
            Relevansi antara postmodern, islam, dan umat islam, kita garis bawahi bahwa postmodern adalah proses terhadap kegagalan proyek modernitas Barat. Tingkat perkembangan sosial, kultural, dan politik di Barat, sebagaimana bisa dilihat, bertanggung jawab terhadap kemunculan konsep, pandangan serta perilaku postmodernisme.
Pengamatan Azyumardi Azra, bahwa gejala postmodernisme dalam masyarakat muslim sebenarnya bersifat ahistoris sekaligus asosiologis. Modernisme pada masyarakat musllim dimulai ketika Barat melakukan penetrasi militer,  kultural, dan intelektual ke berbagai kawasan muslim (Azyumardi Azra, 1994 :43). Kata Akbar S.Ahmed, melihat bahwa apa yang sekarang terjadi bukanlah situasi dialogis antara Barat dan Islam, bahwa untuk memahami makna agama dalam pemikiran Barat postmodern diperlukan elaborasi mengenai pemikiran yang berkembang di Barat era modern. Sebab, seperti yang disinyalir Akbar, pemahaman kita tentang Barat modern merupakan pra-kondisi bagi pemahaman Barat post-modern. Masalahnya, jika dalam pandangan post-modernis segala sesuatu direduksi menjadi nilai yang relative, yang berimplikasi pada adanya kemungkinan penafsiran terhadap realitas secara tak terbatas, maka disana tidak ada lagi nilai yang diakui dan memiliki kelebihan dari nilai-nilai lain. Akibatnya setiap orang akan terlibat dalam kerja intepretasi terhadap setiap aspek wujud yang tiada ada habisnya. Agama tidak lagi berhak mengklaim punya kuasa lebih terhadap sumber-sumber nilai yang dimiliki manusia seperti yang telah di formulasikan oleh para filosof. (Akbar S,1992 : 180).
            Jadi agama difahami sebagai sama dengan persepsi manusia sendiri yang tidak mempunyai kebenaran absolute. Oleh sebab itu ia mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat. Jika demikian maka agama dalam pemikiran post-modern telah digambarkan dalam bentuk dan sifat yang sangat berbeda dari sebelumnya. Bagaimana sejatinya detail tentang pandangan itu, berikut ini kita akan paparkan. (Hamid, 2012:98)

Pandangan post-modernis tentang agama
Dalam uraian diatas telah jelaslah bahwa pemikiran Barat tentang agama telah mengalami perubahan yang menyolok: dari sifatnya the teistik dan kemudian pada eras modern difahami dengan pendekatan secular dan pada akhirnya pada era post-modern menjadi ateistik.  (Hamid, 2012:152)
 Pemikiran postmodernis di Barat itu tidak hanya diwarnai oleh sikap ateistik, tapi juga ditandai oleh kecenderungan dikalangan filosofnya untuk mereduksi teologi menjadi antropologi,(Feurbach, 1957:19) yang dengan itu Tuhan orang-orang Kristen digambarkan sebagai produk dan refleksi dari pikiran manusia yang luar biasa (supernatural human mind). Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa gambaran Tuhan secara antropologis berkembang menjadi penjelasan situasi sejarah manusia. Karl Marx, misalnya, berhujjah bahwa agama itu mengekspressikan penderitaan manusia yang disebabkan oleh perubahan ekonomi atau pemisahan kehidupan manusia yang egoistis dalam masyarakat sipil dari kehidupannya sebagai makhluk manusia dalam masyarakat politik. (Marx, 1975: 375). 

Dilan Imam Adilan,  Mahasiswa Program Studi Religious Studies Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Email: dilan.imam@gmail.com



DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Safei, Agus. Sosiologi Islam: Transformasi Sosial Berbasis Tauhid. Bandung: Simbiosa Rekatama Media (Sumber Utama). 2017.
Ahmad, S.Akbar, Postmodernisme and Islam,  Routledge, London,  1992.
Azra, Azyumardi, Jaringan ulama: Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: melacak akar-akar pembaruan pemikiran Islam di Indonesia, Bandung – Mizan:1994.
Fuerbach, Ludwig, The Essence of Christianity, George Eliot, tr. New York:Harper and Row, 1957, xii, xli.
Marx, Karl Early Writing, Quinton Hoare, ed.; Gregor Benton and Rodney Livingston, trs. New York: Random House, 1975.
Sahal, Ahmad. "Kemudian, Dimanakah Emansipasi?: Tentang Teori Kritism Genealogi dan Dekonstruksi." Jurnal Kalam 1 (1994).
  






Comments

Popular Posts